
Oleh: Juniardi
Dalam panggung sejarah dan kehidupan sosial, kita sering menyaksikan siklus yang berulang: seorang tokoh muncul dengan kecemerlangan, dipuja bak pahlawan, hingga akhirnya tenggelam dalam euforia kekuasaan dan pujian yang membuatnya tuli terhadap realitas.
Pujian, yang semula merupakan apresiasi atas prestasi, perlahan berubah menjadi racun yang melumpuhkan akal sehat. Fenomena ini bukan sekadar masalah kepribadian, melainkan sebuah tragedi psikologis di mana batas antara pencapaian nyata dan persepsi diri yang melambung menjadi kabur.
Secara harfiah, euforia adalah perasaan gembira yang ekstrem. Namun, ketika euforia ini datang dari faktor eksternal seperti pemujaan massa yang terus-menerus, ia menciptakan kondisi “mabuk apresiasi”.
Tokoh yang berada dalam kondisi ini sering kali mengalami kehilangan perspektif, Ia mulai percaya bahwa setiap keputusannya adalah maksum (tidak mungkin salah).Kemudiaan muncul disorientasi nilai. Fokus bergeser dari “memberi manfaat” menjadi “menjaga citra agar tetap dipuji”.
Lalu ada gejala Patologis: Dalam kacamata psikologi, kegembiraan yang tidak sebanding dengan situasi sebenarnya bisa mengaburkan penilaian risiko, membuat seseorang merasa tak tersentuh oleh konsekuensi hukum maupun moral.
Sindrom “Merasa Hebat Sendiri”
Pujian yang berlebihan menciptakan gema (echo chamber) di sekitar sang tokoh. Orang-orang di sekitarnya cenderung menjadi “yes-men” yang hanya menyuarakan apa yang ingin ia dengar. Akibatnya, muncul sifat-sifat destruktif diantarnya Defensif terhadap Kritik: Kritik dianggap sebagai serangan personal atau kecemburuan, bukan lagi masukan untuk perbaikan.
Lalu erosi empati: Karena merasa berada di atas awan, sang tokoh kehilangan kemampuan untuk mendengar suara dari bawah. Ia merasa “tak bisa dinasehati” karena menganggap kapasitas intelektual dan moral orang lain berada di bawahnya.
Bahaya lagi muncul narsisme kolektif. Dukungan massa yang fanatik memperkuat keyakinan sang tokoh bahwa ia adalah representasi kebenaran mutlak.
Sejarah membuktikan bahwa kejatuhan terbesar selalu dimulai dari rasa bangga yang meluap (hubris). Ketika seorang tokoh mulai lupa diri, ia sebenarnya sedang menggali lubang kuburnya sendiri.
Sikap merasa paling berjasa dan paling tahu segalanya membuat ia rentan terhadap kesalahan fatal. Tanpa adanya “rem” berupa kerendahan hati untuk mendengar, kebijakan yang diambil cenderung menjadi otoriter atau setidaknya jauh dari objektivitas.
Menjaga Kaki Tetap di Bumi
Pujian adalah ujian yang jauh lebih berat daripada cacian. Jika cacian membuat kita mawas diri, pujian sering kali membuat kita terlena.
Seorang tokoh yang besar bukanlah dia yang paling banyak dipuji, melainkan dia yang tetap memiliki “telinga untuk mendengar” di tengah kebisingan tepuk tangan. Euforia harus dikelola; ia boleh menjadi penyemangat, tetapi jangan pernah biarkan ia menjadi nahkoda yang mengendalikan arah hidup.
Pada akhirnya masyarakat juga memegang tanggung jawab. Pemujaan yang berlebihan terhadap sosok manusia hanya akan menciptakan “monster” yang baru. Menghormati tokoh adalah kewajaran, namun mendewakannya adalah awal dari kehancuran karakter sang tokoh itu sendiri.****