
Lampung Barat, sinarlampung.co – Suasana syahdu menyelimuti Kelurahan Pasar Liwa, Kecamatan Balik Bukit, pada Selasa 17 Maret 2026 malam. Ratusan warga dari berbagai generasi turun ke jalan, membawa obor yang menyala terang dalam tradisi Pawai Seribu Obor guna menyemarakkan malam Lailatul Qadar sekaligus menyambut Idul Fitri 1447 Hijriah.
Meski sempat tertunda satu hari akibat guyuran hujan deras pada Senin (16/3), semangat masyarakat tidak luntur. Cahaya kekuningan dari bambu-bambu obor menciptakan pemandangan artistik di sepanjang rute pawai, membelah dinginnya udara Lampung Barat.
Dari Masjid Al-Ikhlas ke Tugu Liwa
Titik kumpul pawai dipusatkan di Masjid Al-Ikhlas, Lingkungan Seranggas. Dengan langkah tegap, rombongan yang terdiri dari anak-anak hingga lansia berjalan kaki menyusuri jalan utama hingga berakhir di ikon kota, Tugu Liwa.
Gema selawat dan takbir terus berkumandang sepanjang perjalanan, menciptakan atmosfer religius yang kental. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan manifestasi syukur masyarakat dalam menjemput malam kemuliaan di penghujung Ramadan.
Muli Mekhanai Jaga Tradisi
Keberhasilan acara ini tidak lepas dari peran aktif organisasi kepemudaan Muli Mekhanai Liwa Sepakat (MMLS). Keterlibatan pemuda setempat menjadi simbol bahwa estafet pelestarian tradisi leluhur masih terjaga dengan baik di Bumi Sekala Bekhak.
Salah satu warga, Berga, mengaku bangga bisa menjadi bagian dari kemeriahan ini. Menurutnya, pawai obor memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam.
“Alhamdulillah, walaupun sempat ditunda karena hujan, semangat warga justru makin terasa. Ini tradisi yang sarat makna kebersamaan dan harus terus kita jaga untuk generasi mendatang,” ujar Berga antusias.
Pawai Seribu Obor di Pasar Liwa membuktikan bahwa kekuatan tradisi lokal mampu menjadi pemersatu antarwarga. Di tengah gempuran zaman, cahaya obor di Liwa tetap menyala sebagai simbol syiar Islam dan kerukunan masyarakat Lampung Barat yang harmonis. (Red)