
Lampung Selatan, sinarlampung.co – Sebanyak 929 rumah yang tersebar di empat kecamatan di Lampung Selatan terendam banjir akibat hujan deras sejak Jumat 6 Maret 2026. Selain pemukiman, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat puluhan hektare lahan pertanian ikut terdampak, serta satu orang anak dilaporkan meninggal dunia akibat terseret arus sudah ditemukan
Kepala Pelaksana BPBD Lampung Selatan, Maturidi Ismail, menjelaskan bahwa wilayah terdampak meliputi Kecamatan Jati Agung, Tanjung Sari, Tanjung Bintang, dan Natar.
“Berdasarkan pendataan hingga Sabtu 7 Maret 2026, setidaknya 929 bangunan dan areal persawahan terdampak banjir. Lokasi terparah berada di wilayah pemukiman yang berdekatan dengan aliran sungai,” ujar Maturidi dalam keterangan tertulisnya.
Jebolnya Tanggul dan Rincian Dampak
Di Kecamatan Tanjung Sari, banjir diperparah oleh jebolnya tanggul Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung (BBWS-MS). Hal ini menyebabkan lahan pertanian milik 38 kepala keluarga di Desa Malang Sari dan Desa Kertosari terendam air.
Sementara itu, rincian rumah warga yang terendam meliputi:
Kecamatan Jati Agung (655 rumah): Terdampak di tujuh desa, dengan konsentrasi terbesar di Desa Way Hui (198 rumah) dan Desa Gedung Harapan (165 rumah).
Kecamatan Natar (143 rumah): Meliputi Desa Hajimena dan Desa Sidosari.
Kecamatan Tanjung Bintang (93 rumah): Meliputi Desa Way Galih, Lematang, dan Sabah Balau.
Satu Korban Jiwa dan Krisis Air Bersih
Plt. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Lampung Selatan, Nurma Suri, mengonfirmasi satu korban jiwa di Desa Kaliasin, Kecamatan Tanjung Bintang, dan sudah ditemukan. Korban merupakan seorang anak berusia 10 tahun yang terpeleset saat memancing dan terseret arus deras.
Pasca-banjir, warga kini mulai menghadapi masalah baru yakni krisis air bersih karena sumur warga tercemar lumpur dan material sisa banjir.
“Warga saat ini sangat membutuhkan bantuan logistik berupa makanan, susu, air mineral, air bersih, obat-obatan, serta pakaian dan selimut,” Ujar Nurma. (Red)