
CIANJUR, sinarlampung.co – Dibalik tewasnya MI (56), pria paruh baya di Desa Talaga, Cugenang, terungkap sebuah fakta pilu. Aksi nekat MI mengambil dua butir labu siam di kebun milik tetangganya, UA, ternyata dipicu oleh keinginan sederhana sang ibu yang sudah jompo: ingin buka puasa dengan makan sayur.
Namun, keinginan mulia untuk berbakti itu berujung maut. MI mengembuskan napas terakhir setelah diduga dianiaya secara membabi buta oleh pemilik kebun yang memergokinya.
Adik korban, Tita (43), menceritakan momen terakhir sebelum petaka itu terjadi. Sang ibu yang selama ini dirawat sendirian oleh MI di rumah mereka, sempat meminta dibuatkan masakan sayur. Karena tak memiliki uang dan hanya bekerja serabutan, MI pun pergi ke kebun terdekat.
”Labu itu untuk makan Emak. Emak ingin makan pakai sayur. Kakak saya baru bawa dua biji dan baru mau dimasak, tiba-tiba (pelaku) datang ke rumah,” kenang Tita dengan nada getir saat ditemui wartawan di rumah duka, Rabu 4 Maret 2026 petang.
Selama ini, MI dikenal sebagai tulang punggung tunggal bagi ibunya yang sudah renta sejak ia bercerai. Ia rela melakukan pekerjaan apa saja demi menyambung hidup berdua. Sebelum kejadian, MI bahkan sempat mendatangi rumah Tita hanya untuk meminta beras.
Dihajar hingga ke Depan Rumah
Berdasarkan keterangan kepolisian, pelaku UA memergoki korban mengambil labu siam di kebunnya. Bukannya menyelesaikan secara kekeluargaan, UA justru mengejar MI hingga ke depan rumahnya.
Di sanalah, penganiayaan terjadi. MI dipukul dengan tangan kosong dan ditendang berkali-kali. Akibatnya, korban menderita luka lebam di bagian mata, kepala, leher, hingga hidung berdarah. Dua hari setelah kejadian, MI sempat mengeluh pusing dan muntah-muntah sebelum akhirnya meninggal dunia di pelukan sang ibu.
Kapolsek Cugenang, AKP Usep, menyatakan pihaknya telah mengamankan UA. Meski hasil pemeriksaan luar menunjukkan adanya luka memar dan benjolan di belakang kepala korban, polisi masih menunggu hasil autopsi untuk menetapkan status tersangka secara resmi.
”Masih intensif diperiksa. Kami menunggu hasil autopsi jenazah korban untuk memperkuat bukti penyebab utama kematian,” ujar Usep.
Di tengah duka yang mendalam, Tita mengaku telah memaafkan pelaku dan tidak menaruh dendam. Namun, ia meminta keadilan tetap ditegakkan seadil-adilnya. “Saya hanya ingin hukum ditegakkan sesuai perbuatannya,” tuturnya.
Kini, sang ibu yang kehilangan putranya itu rencananya akan dibawa ke Bogor untuk dirawat oleh saudara tertua. Rumah di Desa Talaga yang biasanya dihuni MI dan ibunya, kini sunyi—menyisakan cerita tentang dua butir labu yang dibayar dengan nyawa. (Red/*)