
WAY KANAN – Aroma merkuri dan sisa bahan kimia tercium samar di aliran sungai yang kini tak lagi bening. Di kejauhan, deru mesin menyalak membelah keheningan hutan. Bukan deru mesin pembangunan, melainkan deru 683 “pron”—mesin-mesin tambang emas ilegal yang tengah menggerogoti perut bumi Way Kanan.
Bagi sebagian orang, deru itu adalah suara pundi-pundi rupiah. Namun bagi masyarakat di 15 kecamatan di Kabupaten Way Kanan, suara itu adalah lonceng kematian bagi lingkungan hidup mereka.
Membeli Keheningan dengan “Cukk”
Di balik rimbunnya hutan dan jauhnya jangkauan patroli darat, sebuah sistem “koordinasi” diduga telah berurat akar. Informasi yang beredar di akar rumput menyebutkan sebuah angka yang fantastis: Rp6 juta per bulan. Itulah “cukk” atau upeti yang diduga disetorkan per satu mesin tambang agar bisa terus beroperasi tanpa gangguan.
Jika angka itu dikalikan dengan ratusan mesin yang tersebar, maka miliaran rupiah uang “gelap” mengalir setiap bulannya. Pertanyaannya kemudian bermuara pada satu titik: ke kantong siapa uang itu bermuara?
“Ini bukan lagi soal urusan perut rakyat kecil, ini soal mafia. Mereka yang mengatasnamakan perlindungan, baik dari oknum aparat, oknum LSM, hingga oknum media, diduga ikut menikmati manisnya kue tambang ini,” keluh seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan karena alasan keamanan.
Wajah Ganda Sang Pelindung
Masyarakat Way Kanan kini berada dalam krisis kepercayaan yang akut. Di satu sisi, mereka melihat spanduk-spanduk penegakan hukum berdiri tegak di depan kantor polisi. Namun di sisi lain, peredaran narkoba justru kian merajalela, berjalan beriringan dengan aktivitas tambang ilegal.
Ada kecurigaan yang kian menebal bahwa bandar narkoba dan bos tambang emas adalah dua sisi dari koin yang sama, yang sama-sama dipelihara oleh oknum penegak hukum yang “bermain mata”.
“Kami rindu sosok polisi yang mengayomi, bukan polisi yang hanya namanya saja ada, tapi tindakannya berpihak pada pemilik modal,” cetus warga lainnya dengan nada getir.
Menanti Helikopter di Langit Way Kanan
Asa kini digantungkan setinggi langit. Masyarakat tak lagi percaya pada razia darat yang seringkali “bocor” sebelum dimulai. Mereka mendesak Kapolri untuk menurunkan helikopter, memantau dari udara setiap jengkal tanah Way Kanan yang telah bopeng oleh ekskavator.
Tuntutannya tegas: bersihkan institusi Polri di Way Kanan melalui tes urine massal dan audit investigatif. Mereka tidak ingin hutan yang gundul memicu bencana banjir bandang di masa depan, yang hanya akan menyisakan duka bagi anak cucu, sementara para oknum penikmat “cukk” telah pergi dengan kantong tebal.
Melawan Lupa, Menuntut Keadilan
Selasa, 3 Maret 2026, menjadi saksi bisu bergerak laporannya pengaduan ini menuju meja Divisi Propam Mabes Polri. Laporan ini bukan sekadar lembaran kertas, melainkan tumpuan harapan dari ribuan pesan di grup-grup WhatsApp warga yang sudah jengah dengan ketidakadilan.
Way Kanan sedang tidak baik-baik saja. Ia sedang terluka oleh merkuri, dilemahkan oleh narkoba, dan dikhianati oleh mereka yang seharusnya menjadi pelindung. Kini, mata seluruh masyarakat tertuju pada Jakarta: Apakah keadilan akan turun ke Way Kanan, ataukah deru mesin tambang itu akan tetap abadi di bawah lindungan bayang-bayang oknum?. (Juniardi)