Oleh: Romzy Hermansyah R.SP
Dinamika politik tergambarkan jelas adanya ketakutan penguasa dan para pemangku kewenangan akan terungkapnya pelanggaran moral atau etika, baik itu korupsi, nepotisme dan bahkan indikasi penyalahgunaan wewenang.
“Ya..!! Itu terjadi di sebuah daerah yang asri dan cukup heboh di sisi perebutan kursi politik. Ya..disini, di Kota Metro tanah kelahiran ku. Episode 1/Periode sebelumnya sudah tamat cerita kekuatan pengkoordiniran. Sekarang Episode 2/periode lanjutan, kekuatan baru “Penguasa dan Terpecahnya Pengkoordiniran Kewenangan.”
“Dua kali pergantian pemegang mahkota, sama-sama menyajikan tontotan apik, yang membuat saya tertarik mengikuti kisahnya, periode atau episode sebelumnya sama ceritanya dengan periode atau episode sekarang.”
“Dua Mahkota di bayangi satu penguasa elit penuh ambisi, yang muncul bukan sebagai peredam huru hara ditengah kekisruhan suara oposisi dan kritik.”
Pada akhirnya, masing-masingnya berjalan sendiri dengan berpangku pada keyakinan yang penuh kerisauan dan kebimbangan dibayangi sang penguasa yang ambisi.
Didasari hal ini, terpantik egoisme akan kekuasaan dan menggunakan manipulasi informasi politik sebagai mekanisme pertahanan diri.
Gambaran jelas yang dimaksudkan, di analisis lebih dalam, munculah keterkaitan antara ketakutan moral dan manipulasi informasi, yang saya sebut pemantik egoisme adalah alat “Motivasi Ketakutan” atau kerennya “Fear of Exposure”.
Dua pemegang mahkota, satu penguasa yang ambisi, yang tak jauh akan pelanggaran kode etik atau etika moral, mulai merasa terancam jika kebenaran terungkap.
Ketiganya mulai risau, ketakutan akan kehilangan legitimasi, kekuasaan, atau dukungan masyarakat, yang akhirnya mendorong untuk mengontrol narasi, melakukan manipulasi informasi sebagai alat untuk menutupi pelanggaran tersebut.
Masing-masingnya itu akan melakukan penyebaran informasi bijak terkandung propoganda, kata lain meng-amplifikasi pesan karangan untuk mengalihkan perhatian publik. Karena ketiganya paham akan “MUSUH” di sekitarnya bukan lahir dari lawan politik.
Dari ini, menggunakan framing media, influencer untuk membingkai ulang skandal sebagai fitnah atau drama politik. Dikemas melalui alat alat protek, khususnya di sisi hukum politik sosial karena mengait dengan “Trust Publik” serta hukum. Tak tertinggal penguasa yang ambisi, turut mengatur siasat dan strategi.
Dalam momen terpenting, digencarkan politisasi bantuan sosial, guna meredam menutup pelanggaran moral etika, meskipun hasilnya tak bisa diharap.
Rasa kerisauan hati itu, telah melakukan normalisasi ketakutan dengan manipulasi informasi guna menciptakan budaya takut dikalangan masyarakat, dimana sebuah kritik dianggap berbahaya.
Yang kemudian di framing apik, tersistematis pada peranan media massa dan influencer yang di ciptakan.
Artinya dalam konteks ini bahwa, manipulasi informasi bukan sekedar alat promosi sosial atau seremonial, tetapi juga sebagai mekanismenya untuk melanggengkan kekuasaan yang tergambarkan jelas telah “Cacat Moral”.
Cara ini dilakukan oleh ke tiga nya (2 Mahkota) yang tak harmonis, 1 Penguasa yang Ambisi. Masing – masing nya mengambil langkah dengan strategi saling bertahan “POWER SYNDROM Vs Power Egoism” terbingkai informasi politik menutup ruang pelanggaran etik cacat moral.