
LEBAK, sinarlampung.co — Di tengah derap digitalisasi yang kian bising, terdapat sebuah oase yang menolak waktu di kaki Pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten. Suku Baduy—atau yang lebih memilih menyebut dirinya Urang Kanekes—hidup dalam kesederhanaan ekstrem yang sarat makna. Bagi mereka, hidup bukanlah soal mengejar kemajuan, melainkan menjaga keseimbangan alam dan mematuhi mandat leluhur.
Baduy Teguh Jaga Adat: Merawat Titipan Karuhun di Tengah Gempuran Zaman
Pada Selasa, 10 Februari 2026, jarum jam menunjukkan pukul 11.00 siang saat rombongan belasan jurnalis yang tergabung dalam Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung tiba di gerbang desa. Kunjungan ini terasa istimewa karena didampingi langsung oleh Ketua Komisi DPRD Kabupaten Lebak, Bambang SP, yang turut menjembatani dialog antara insan pers dan masyarakat adat.
Udara pegunungan yang bersih segera menyergap, menggantikan debu jalanan yang tertinggal di perbatasan. Di sini, jalan setapak tidak dilapisi aspal hitam, melainkan susunan batu-batu kali yang ditata rapi secara manual—sebuah fondasi alami yang juga menjadi penopang rumah-rumah panggung warga agar tetap kokoh namun fleksibel terhadap getaran bumi.
Rombongan disambut hangat di sebuah rumah berdinding anyaman bambu (bilik) dengan atap jerami yang meneduhkan. Hidangan khas Baduy yang bersahaja namun penuh kehangatan tersaji, mengawali percakapan yang mengalir santai bersam warga.
Sambil duduk bersila di atas lantai bambu (palupuh) yang berberit halus, Kang Udil, salah satu tokoh adat Baduy Luar, telah menanti. Kang Udil membagikan filosofi hidup sukunya yang begitu membumi. Bagi masyarakat Kanekes, hidup dipandu oleh kearifan lokal yang disebut Pikukuh. Prinsip ini secara mutlak melarang adanya perubahan pada hal-hal yang sudah digariskan leluhur.
“Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung” (Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung). “Kami tidak butuh gedung tinggi untuk merasa besar, dan tidak butuh harta berlebih untuk merasa cukup. Hidup kami adalah menjaga apa yang ada,” tutur Kang Udil dengan tatapan tenang di hadapan rombongan IJP Lampung dan Bambang SP.
Sambil mendengarkan petuah Kang Udil, rombongan diajak melihat lebih dekat keunikan tata ruang desa. Di ujung desa, pada dataran yang lebih tinggi, berderet rapi Leuit—lumbung padi kayu yang berdiri anggun. Penempatan lumbung di lokasi tinggi bukan tanpa alasan; selain menghindari kelembapan, ini adalah bentuk penghormatan terhadap sumber kehidupan.
Leuit adalah simbol ketahanan pangan. Padi di dalamnya diatur sedemikian rupa sehingga bisa bertahan hingga puluhan tahun tanpa membusuk. Selain itu, keunikan terlihat pada sistem pengairan. Tanpa pipa besi atau listrik, air sungai pegunungan dialirkan menggunakan bilah-bilah bambu yang saling menyambung menuju rumah warga. Gemericik air ini menjadi musik latar alami, membuktikan harmoni sistem mereka yang melampaui teknologi modern.
Salah satu fakta paling unik tentang masyarakat Kanekes adalah ketiadaan kuburan secara fisik. Anda tidak akan pernah menemukan nisan, gundukan tanah, apalagi bunga kamboja di wilayah Baduy.
Bagi mereka, manusia berasal dari tanah dan harus kembali menjadi tanah semurni mungkin. Ketika seseorang meninggal, jasad dikuburkan di lahan hutan (setra). Setelah pemakaman selesai, tanah langsung diratakan kembali tanpa tanda apa pun.
Setelah lewat satu tahun, lahan tersebut dianggap sudah “bersih” dan jasad telah menyatu sempurna dengan bumi. Lahan itu kemudian boleh digunakan kembali untuk bertani (huma) atau dibiarkan tumbuh semak secara alami. Itulah sebabnya pemukiman Baduy tetap asri tanpa kesan angker. Penghormatan leluhur dilakukan melalui doa dan ketaatan adat, bukan perawatan fisik makam.
Struktur Masyarakat Kanekes
| Aspek | Baduy Dalam (Tangtu) | Baduy Luar (Panamping) |
| Pakaian | Dominasi putih & ikat kepala putih (simbol suci). | Dominasi biru dongker atau hitam (batik). |
| Lokasi | Cikeusik, Cibeo, dan Cikertawana. | Kaduketuk, Gajeboh, dan puluhan lainnya. |
| Prinsip | Pikukuh mutlak & anti-perubahan. | Mulai menerima pengaruh luar & teknologi. |
| Keterbukaan | Tertutup dari teknologi/orang asing. | Lebih terbuka & menerima tamu menginap. |
Mereka tidak mengenyam pendidikan formal karena dianggap bertentangan dengan adat. Budaya tulis-menulis dihindari demi menjaga kemurnian warisan lisan. Namun, banyak warga yang fasih berbahasa Indonesia saat berkomunikasi dengan pengunjung.
Bagi pengunjung yang hendak melangkah lebih jauh ke wilayah Dalam, berikut adalah aturan ketat yang harus dihormati yautu Tanpa Alas Kaki (Wajib berjalan kaki tanpa alas kaki di wilayah tertentu), Anti-Elektronik (Dilarang menggunakan ponsel, kamera, atau alat elektronik lainnya (termasuk dokumentasi foto/video).
Kemudian Kebersihan Alami (Dilarang menggunakan sabun, sampo, atau pasta gigi saat mandi di sungai agar tidak mencemari alam), Waktu Menginap (Tamu hanya diperbolehkan menginap maksimal satu malam di Baduy Dalam).
Kunjungan ini memberikan refleksi mendalam bagi para jurnalis Lampung. Bambang SP mengapresiasi keteguhan Kanekes dalam menjaga aturan adat di tengah arus pariwisata. Di balik dinding bambu dan atap rumbia, ada keteguhan luar biasa: Suku Baduy tidak setia pada masa lalu karena mereka tertinggal, melainkan karena mereka memilih untuk setia pada janji kepada bumi. (Juniardi)