
Di saat dunia berlari mengejar kemajuan teknologi dan gedung-gedung beton terus membelah langit, ada sebuah ruang di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten, di mana waktu seolah berjalan dengan ritmenya sendiri. Di sanalah masyarakat adat Baduy bermukim—menjadi oase kesederhanaan sekaligus benteng terakhir penjaga keseimbangan alam, Selasa 10 Februari 2026 pagi.

Bagi suku Baduy, arus modernisasi dan ekspansi pembangunan yang bising di luar sana bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan disikapi dengan satu prinsip teguh: memegang erat pikukuh karuhun (amanat leluhur).
Komitmen luhur ini tergambar jelas dari senyum dan tutur kata Kang Udil, salah satu tokoh adat Baduy Luar. Saat berbincang santai dengan belasan jurnalis dari Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung pada Selasa (10/2), ia membagikan filosofi hidup sukunya yang begitu membumi.
Bagi Kang Udil dan masyarakat Baduy, adat bukanlah sekadar baju tradisi yang dipakai saat upacara, melainkan napas yang memastikan alam tetap hidup.
“Kami hidup bukan untuk mengejar banyak. Kami hidup untuk menjaga titipan. Tanah tidak boleh dijual, hutan tidak boleh ditebang sembarangan, dan kami tetap bertani tanpa bahan kimia. Itu tidak boleh berubah,” tutur Kang Udil dengan tatapan tenang namun sarat ketegasan.
Masyarakat Baduy menyadari betul peran mereka di bumi. Secara pembagian wilayah, mereka terbagi menjadi dua: Baduy Luar dan Baduy Dalam. Baduy Luar bertindak layaknya “beranda” yang ramah. Mereka berinteraksi dengan dunia luar, menjamu wisatawan, dan memutar roda ekonomi lewat hasil bumi dan karya tangan, seperti kain tenun yang indah, madu hutan yang manis, dan gula aren.
Namun, keramahan itu memiliki batas yang tak boleh dilanggar. Keterbukaan Baduy Luar sama sekali tidak melunturkan pakem adat. “Kami tidak menolak tamu, tapi tamu harus menghormati adat. Kalau adat rusak, kami kehilangan jati diri,” tegasnya.
Melangkah lebih jauh ke wilayah Baduy Dalam, kehidupan berputar murni bersama alam. Di sana, kegelapan malam tidak diusir oleh listrik, jalanan setapak tak pernah tersentuh roda kendaraan, dan dering alat elektronik adalah sesuatu yang asing. Pola hidup mereka sederhana: bertani secara tradisional dan menjadikan hutan sebagai ibu yang harus dihormati.
”Kami diajarkan untuk tidak rakus. Ambil secukupnya, tanam kembali, jaga alam seperti menjaga orang tua,” tambah Kang Udil, mengingatkan pada nilai keberlanjutan yang kerap dilupakan manusia modern.
Perisai Regulasi untuk Sang Penjaga Alam
Romantisisme kehidupan Baduy tentu membutuhkan perisai di dunia nyata. Hal ini disadari penuh oleh Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Lebak, Bambang SP. Saat menjamu rombongan IJP Lampung, legislator asal Partai Gerindra ini menegaskan bahwa perlindungan terhadap Baduy tak boleh hanya berhenti di bibir sebagai wacana.
Bagi Kabupaten Lebak, Baduy adalah detak jantung identitas mereka, yang keberadaannya telah dipagari oleh Peraturan Daerah (Perda).
”Baduy adalah identitas Lebak. Mereka bukan hanya destinasi wisata, tetapi komunitas adat dengan sistem nilai dan hukum yang hidup. Negara wajib hadir untuk melindungi,” ucap Bambang.
Ketua Partai Gerindra Kabupaten Lebak itu menggarisbawahi bahwa pembangunan daerah tidak boleh menjadi raksasa buta yang menabrak nilai-nilai budaya. Penguatan regulasi wilayah adat, perlindungan kawasan hutan, dan pengawasan ketat terhadap aktivitas luar adalah mutlak.
”Pembangunan tidak boleh memaksa perubahan budaya. Modernisasi harus menghormati batas adat. Pemerintah harus menjadi mitra dialog, bukan tekanan,” tegas Bambang, memastikan bahwa pemerintah daerah berdiri di barisan yang sama dengan masyarakat Baduy.
Membawa Pesan Baduy ke Luar Batas
Kunjungan belasan pewarta IJP Lampung ke Kanekes hari itu bukan sekadar perjalanan jurnalistik biasa, melainkan sebuah ziarah batin untuk belajar dari alam.
Ketua IJP Lampung, Abung Mamasa, tak bisa menutupi kekagumannya. Sambutan hangat dari legislator setempat dan keteguhan masyarakat Baduy meninggalkan kesan mendalam.
”Kami berterima kasih atas jamuan dan kesempatan ini. Apa yang kami lihat di Baduy bukan sekadar tradisi, tetapi contoh nyata bagaimana alam dan budaya dijaga dengan konsisten di tengah modernisasi,”Ungkap Abung.
Di akhir kunjungannya, Abung membawa sebuah harapan besar. Ia ingin pena dan lensa para jurnalis mampu menjadi jembatan informasi yang tak kasatmata, memperluas cakrawala publik bahwa masyarakat adat adalah kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya.
”Baduy sudah mendunia. Semoga kita semua, di mana pun berada, bisa ikut terus menjaga kelestarian alam, adat, dan budayanya,” Ujar Abung.
Di bawah rimbunnya pepohonan Kanekes, pesannya jelas: selama pikukuh karuhun masih dijaga, selama itu pula Baduy akan terus berdiri teguh—menjadi suluh bagi kita semua yang kerap tersesat dalam gemerlapnya modernisasi. (Juniardi)