
Lampung Timur, sinarlampung.co – Sebuah tamparan keras bagi dunia konservasi terjadi di Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Hanya berselang satu hari setelah kunjungan jajaran pejabat tinggi negara untuk membahas mitigasi konflik gajah, kawasan hutan seluas 2.685,43 hektare justru hangus terbakar. Muncul dugaan kuat bahwa kebakaran ini bukanlah faktor alam, melainkan sabotase atau kesengajaan.
Si jago merah dilaporkan melalap zona rimba dan rehabilitasi di lima wilayah resort utama. Berdasarkan data Balai TNWK, berikut rincian area yang kini menghitam, yaitu Resort Rantau Jaya: 1.236,53 hektare (Terparah), Resort Umbul Salam: 792,43 hektare, Resort Susukan Baru: 271,99 hektare, Resort Toto Projo: 277,42 hektare, dan Resort Rawa Bunder: 107,06 hektare
Kepala Balai TNWK, MHD Zaidi, mengungkapkan kejanggalan dalam peristiwa ini. Mengingat saat ini Lampung sedang berada di musim penghujan, faktor alam sangat kecil kemungkinannya memicu api sedahsyat itu. “Memang kami belum bisa memastikan, tapi melihat cuaca musim hujan saat ini, tidak tertutup kemungkinan ada unsur kesengajaan,” tegas Zaidi, Selasa (27/1/2026).
Kebakaran ini terjadi tepat setelah Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, bersama Pangdam XXI/Radin Inten dan Forkopimda menggelar dialog strategis di Desa Rajabasa Lama, Sabtu 24 Januari 2026.
Dalam dialog tersebut, Gubernur Mirza membawa kabar besar: Presiden Prabowo Subianto telah menjadikan Way Kambas sebagai prioritas nasional. Bahkan, isu konservasi Way Kambas telah dibahas Presiden bersama Raja Charles III di Inggris.
Pemerintah berencana membangun batas permanen sepanjang 70 kilometer untuk mengakhiri konflik gajah dan manusia yang telah berlangsung puluhan tahun. “Way Kambas akan menjadi percontohan bagi 57 taman nasional di Indonesia,” ujar Mirza optimis saat itu.
Bencana ini juga menelanjangi rapuhnya sistem pengamanan TNWK. Dengan luas kawasan mencapai 125.000 hektare, jumlah polisi hutan yang tersedia hanya 39 orang. Artinya, satu personil harus mengawasi sekitar 3.200 hektare lahan—sebuah rasio yang sangat tidak ideal.
Gubernur Mirza menjanjikan solusi berupa pelibatan masyarakat melalui satgas desa dan kemitraan konservasi untuk menutupi kekurangan personil tersebut.
Nasib Satwa Masih Misteri
Hingga Senin malam, tim di lapangan masih melakukan ground check untuk memastikan titik api benar-benar padam, mengingat sering terjadi kebakaran berlapis pada vegetasi kering. Terkait nasib satwa ikonik seperti gajah dan badak sumatera, pihak balai belum menerima laporan adanya kematian.
“Sejauh ini belum ada data satwa mati yang masuk. Kami harap tidak ada,” pungkas Zaidi.
Kini, publik menunggu ketegasan aparat penegak hukum. Jika benar ada unsur kesengajaan, maka pembakaran ini bukan sekadar tindak pidana lingkungan, melainkan upaya merongrong komitmen nasional di mata dunia internasional.(Red)