
Bandar Lampung, sinarlampung.co – Di balik kemeriahan peluncuran buku antologi “Festival Cerpen Indonesia 2025” dan suksesnya acara Wisata Literasi yang baru saja berlalu, terselip kisah ironis yang menimpa sosok di balik layarnya. Arsiya Heni Puspita, S.I.Kom., atau yang akrab disapa Henny, sosok yang menjadi “mesin penggerak” bangkitnya Forum Guru Motivator Peduli Literasi (FGMPL) Provinsi Lampung, kini harus menelan pil pahit.
Bukan apresiasi jangka panjang yang ia terima, melainkan kabar penonaktifan dirinya dari kepengurusan, tepat di penghujung tahun, Rabu 31 Desember 2025 lalu.
Kisah ini bermula pada Februari 2025, saat Henny bergabung dengan FGMPL. Kala itu, organisasi ini bisa dikatakan sedang “tidur”. Program tahunan tersendat, kas organisasi minim karena hanya mengandalkan iuran anggota yang tidak lancar, dan gaung literasi di tingkat provinsi nyaris tak terdengar.
“Sebelum saya bergabung, belum ada pemasukan dana selain iuran. Program internal seperti Lomba Pentas Literasi pun tidak berjalan sesuai harapan, hanya terealisasi di Lampung Tengah,” ungkap Henny mengenang kondisi awal.
Tak mau diam, Henny bergerak. Ia menjadi inisiator yang menghubungkan Ketua Umum FGMPL, Sumedi, dengan Indra Gunawan, Direktur SIP Publishing Banyumas. Dari sinilah lahir gagasan besar: “Festival Cerpen Indonesia 2025”.
Tak hanya ide, Henny bekerja keras “menjual” nama FGMPL agar dikenal.
Ia membawa organisasi ini tampil di TVRI Lampung dalam acara Selayang Pandang, mempublikasikan kegiatan di berbagai media massa nasional dan lokal, hingga melakukan survei lokasi dan audiensi sendirian.
“Persiapan acara peluncuran buku dan wisata literasi itu 80 persen saya kerjakan sendiri. Tujuannya satu, agar FGMPL punya marwah, dikenal pemerintah dan masyarakat,” tuturnya.
Hasilnya manis. Kerja sama dengan SIP Publishing tak hanya melahirkan karya, tapi juga menyuntikkan dana (fee) ke kas organisasi sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. FGMPL Provinsi Lampung pun mulai diperhitungkan.
Kejutan di Akhir Tahun
Namun, pepatah “habis manis sepah dibuang” sepertinya menemukan relevansinya. Rapat Koordinasi (Rakor) FGMPL pada 31 Desember 2025 di Aula Pahawang, Bandar Lampung, menjadi titik balik.
Berdasarkan surat laporan hasil Rakor, Henny dinonaktifkan dari Bidang Publikasi/Komunikasi dan Portal IT. Ironisnya, hingga kini, Henny mengaku belum menerima selembar pun surat resmi terkait pemecatan tersebut.
“Saya hanya tahu secara lisan dan tiba-tiba dikeluarkan dari grup WhatsApp FGMPL Provinsi Lampung sore itu juga,” jelas Henny dengan nada kecewa.
Ia mempertanyakan etika organisasi yang ia besarkan dengan susah payah. Di saat FGMPL kini telah memiliki nama besar, dana kas yang terisi, dan jejaring yang luas berkat tangan dinginnya, ia justru disingkirkan tanpa prosedur administrasi yang patut.
Kini, jejak kerja keras Henny tertinggal jelas dalam sejarah FGMPL Lampung: sebuah festival sukses, buku yang terbit, dan nama organisasi yang melambung. Namun, sang arsitek kesuksesan itu kini harus berdiri di luar pagar rumah yang ia bangun sendiri. (Riki)