
Oleh : Ali Rosad (Pemerhati Pendidikan)
Pernyataan Mendikdasmen yang mengaitkan rendahnya hasil TKA (Tes Kompetensi Akademik) dengan guru, buku dan cara mengajar yang dianggap “salah”, memicu perdebatan yang wajar dalam ekosistem pendidikan kita. Satu sisi pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan pemerintah atas capaian belajar yang menurun. Namun di sisi lain pernyataan itu justru memantulkan kembali tanggung jawab kepada Kementerian Pendidikan yang merancang kurikulum, menyusun buku, menyiapkan sistem rekrutmen dan pembinaan guru, serta menentukan arah kebijakan pembelajaran. Mengkritik guru tanpa menelaah akar sistemik sama halnya dengan mengobati gejala tanpa memahami penyakitnya.
Pendidikan adalah ekosistem yang saling terhubung kualitasnya ditentukan oleh guru, siswa, sarana prasarana, pemerintah daerah, proses penyiapan guru, kurikulum dan stabilitas kebijakan. Oleh karena itu menyederhanakan masalah dengan menyalahkan satu pihak jelas keliru. Dari sudut pandang saya sebagai pemerhati pendidikan, hasil TKA tidak tepat dipahami sebagai “bukti kesalahan”, melainkan sebagai alat diagnostik yang memberi peta kesadaran bersama. TKA harus dibaca sebagai kompas yang menunjukkan celah kompetensi guru, cara belajar siswa, kelayakan sarana, kapasitas dinas pendidikan, hingga konsistensi kebijakan kementerian yang perlu diperbaiki secara bertahap dan sistemik.
Dengan cara pandang ini kritik seharusnya berubah menjadi energi koreksi, bukan pelampiasan. Guru bukan kambing hitam, tetapi aktor utama yang harus diperkuat. Pemerintah tidak cukup berdiri di menara gading kebijakan, tetapi perlu turun memberdayakan. Dinas pendidikan pun perlu berperan sebagai pembina, bukan sekadar pelapor. Evaluasi yang sehat menuntut semua pihak bercermin, bukan saling menuding. Pemaknaan seperti inilah yang menempatkan TKA sebagai mekanisme refleksi bersama, bukan vonis sepihak terhadap guru atau sekolah.
Jika dikaitkan dengan Peringatan Hari Guru Nasional 2025, maka pesan ini menjadi semakin relevan. Hari Guru bukan sekadar ucapan, karangan bunga, tukar kado atau seremoni lain, melainkan pengingat bahwa kualitas bangsa bergantung pada kualitas guru dan kualitas guru bergantung pada ekosistem yang mendukungnya. Menghormati guru berarti memperbaiki sistem; menyediakan pelatihan bermutu, buku yang layak, kurikulum stabil, sarana memadai, serta budaya belajar yang sehat. Guru telah lama menjadi garda terdepan; kini seluruh ekosistem pendidikan termasuk kementerian dan dinas pendidikan harus berdiri sejajar dan bertanggung jawab bersama. Peringatan HGN pada hari ini sebagai momentum hari guru yang otentik; bukan selebrasi semata, tetapi komitmen perbaikan pendidikan secara utuh dan bermakna. Terima kasih.
Selamat Hari Guru Nasional 2025