
Padang, sinarindonesia.id-Redaksi Mediainvestigasi.net secara resmi menempuh jalur hukum dengan melaporkan seorang wanita berinisial S (21), warga Dharmasraya, yang sempat mengaku menjadi korban pelecehan ke Polda Sumatera Barat. Laporan atas dugaan pemberian keterangan palsu kepada pihak redaksi, yang berpotensi menyesatkan publik serta mencederai kredibilitas media.
Pelaporan dilakukan langsung oleh Pimpinan Redaksi Mediainvestigasi.net, Mitra Yuyanti, didampingi Pimpinan Perusahaan, Atrijon Koto, serta kuasa hukum media, di Mapolda Sumatera Barat, pada Senin 27 Oktober 2025.
Mitra Yuyanti menjelasakn berawal dari pemberitaan Mediainvestigasi.net yang berjudul: “ART di Rumah Dinas Bupati Dharmasraya Mengaku Dilecehkan, M Pilih Bungkam” https://www.mediainvestigasi.net/art-di-rumah-dinas-bupati-dharmasraya-mengaku-dilecehkan-m-pilih-bungkam/
Berita tersebut disusun berdasarkan keterangan langsung yang diberikan oleh S kepada Redaksi Mediainvestigasi.net. Namun, beberapa waktu setelah berita tayang, beredar video klarifikasi dari S yang menyatakan bantahan terhadap isi pemberitaan.
Dalam video itu, S tampak membacakan teks pernyataan, yang menimbulkan keraguan mengenai keaslian, independensi, dan kebenaran pernyataan tersebut. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan di masyarakat serta dampak terhadap kredibilitas pemberitaan dan reputasi redaksi.
Redaksi juga menemukan adanya indikasi ketidaksesuaian antara keterangan awal dan klarifikasi publik yang disampaikan S. Munculnya video klarifikasi tersebut menimbulkan kebingungan di masyarakat dan berpotensi mengaburkan fakta.
“Demi menjaga integritas jurnalisme dan kepercayaan publik, Redaksi memilih menempuh jalur hukum. Redaksi tetap berkomitmen mengawal kasus dugaan pelecehan yang sempat diberitakan, terutama jika terbukti bahwa pernyataan S dalam video klarifikasi dibuat di bawah tekanan atau intervensi dari pihak tertentu,” kata Mitra Yuyanti.
Sebagai lembaga pers yang berpegang pada Kode Etik Jurnalistik, asas verifikasi, dan prinsip kebenaran publik, Mediainvestigasi.net memastikan setiap berita yang diterbitkan telah melalui proses klarifikasi dan pemeriksaan data secara ketat.
Memanipulasi informasi, intervensi terhadap narasumber, maupun upaya menggiring opini publik dengan cara yang tidak benar adalah tindakan yang tidak dapat Redaksi toleransi. Melalui pelaporan ini, redaksi berupaya menjaga marwah jurnalisme, menegakkan prinsip kebenaran, dan melindungi kehormatan lembaga pers dari tudingan maupun tindakan yang dapat mencederai kepercayaan publik.
Langkah ini juga ditempuh untuk memastikan tidak ada pihak yang dirugikan, termasuk terduga M serta nama baik Rumah Dinas Bupati Dharmasraya, yang sempat disebut sebagai tempat kejadian perkara. Berkas laporan lengkap beserta bukti dan saksi-saksi telah diterima oleh petugas Setum Polda Sumbar atas nama Ridho. Redaksi berharap, melalui proses hukum ini akan terwujud kejelasan fakta dan keadilan bagi semua pihak.
Korban Pelecehan Seksual Oleh Mantan Bupati
Sebelumnya ramai pemberitaan, seorang asisten rumah tangga (ART) berinisial S (21) mengaku menjadi korban pelecehan seksual di Rumah Dinas Bupati Dharmasraya. Dugaan peristiwa tersebut disebut melibatkan orangtua dari Bupati Dharmasraya yang berinisial M, yang juga mantan Bupati Dharmasraya.
Kepada awak media, korban menceritakan bahwa kejadian bermula pada 1 September 2025. Saat itu, ia diminta untuk memijat pelaku pada malam hari di kediaman dinas Bupati. “Waktu itu malam-malam, sekitar jam 9 atau 10, Pak ‘M’ minta saya memijat kakinya. Awalnya saya pikir biasa saja. Tapi tengah malam, dia minta diurut lagi. Karena perasaan saya tidak enak, saya ajak teman,” ungkap S.
Korban mengaku kian merasa tak nyaman karena M hanya mengenakan celana pendek (boxer) selama proses pemijatan. Masih menurut pengakuan korban, pada keesokan harinya saat dirinya membersihkan kamar pelaku, M kembali melakukan tindakan yang dinilai tidak pantas. “Waktu saya bersih-bersih, Pak M datang dan mencium kening saya, lalu berusaha mencium bibir. Saya langsung lari keluar kamar, bahkan sempat menepuk bokong saya,” ujar S sambil menahan tangis.
Kritik Forum Mahasiswa Dharmasraya
Forum Mahasiswa Dharmasraya (Formadha) melalui presidium Dharmasraya, Gilang Permana Putra meminta Pemda dan aparat mengambil tindakan atas kasus dugaan pelecehan itu. “Kami mendesak pemerintah daerah dan aparat untuk mengambil tindakan tegas, tentang dugaan pelecehan seksual ART di rumah dinas Bupati Dharmasraya,” kata Gilang, didampingi Muhammad Abdul Hafidz sebagai koordinator Formadha Dharmasraya
Formadha menyatakan akan terus mengawal dugaan kasus tersebut, jangan sampai menjadi bola liar yang menambah keresahan di tengah masyarakat. “Kami mendesak, Dinas Sosial Bidang Perlindungan Anak & Perempuan untuk reaktif dan aktif menangani kasus ini. Kami menduga korban mendapat intimidasi dan perlu perlindungan segera. Unit PPA Satreskrim Polres Dharmasraya harus segera turun tangan untuk mengusut tuntas secara transparan dan profesional,” ujarnya.
Wartawan telah berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait guna menggali informasi tentang benar atau tidaknya pengakuan ART berinisial S tersebut. M, diduga pelaku yang disebut oleh narasumber sebagai orangtua Bupati Dharmasraya, belum memberikan tanggapan. Termasuk Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhan, juga belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan peristiwa yang terjadi di lingkungan rumah dinasnya.
Dukungan Masyarakat
Kabar itu juga menjadi ramai di Nagari Gunung Medan, Kabupaten Dharmasraya pada Minggu 12 Oktober 2025 kemarin. “Mantan bupati Dharmasraya diduga melecehkan ART-nya, perempuan berusia 21 tahun, sudah ada reporter perempuan yang mengangkat ini di sebuah web, ini perlu diadvokasi” ungkap warga bernama Michael Jarda (31).
Melalui aplikasi chat WhatsApp, Michael memberikan link artikel media online. Dalam berita berjudul “ART di Rumah Dinas Bupati Dharmasraya Mengaku Dilecehkan, M Pilih Bungkam” yang ditulis Mitra Yuyanti di situs mediainvestigasi.net pada 5 Oktober tersebut, terdapat kutipan langsung dari terduga korban.
“Saya diminta untuk memijit M pada tengah malam, dan M sempat menyentuh, mencium saya dan selama saya bekerja di rumah dinas M beberapa kali memukul pantat saya. M juga sering bertanya apakah saya sudah punya pacar dan sudah pernah ciuman dan melakukan hal apa saja. Apa ada yang percaya sama omongan saya orang miskin ini, apa ada yang mendengar keterangan saya bu,” papar terduga korban dengan identitas yang disamarkan.
Dalam berita juga terdapat tangkapan layar (screenshot) pesan (chat) WhatsApp reporter Mitra Yuyanti terhadap terduga pelaku untuk mendapatkan keterangan pasti terkait dugaan pelecehan tersebut. “Izin konfirmasi pak terkait informasi dugaan pelecehan seksual yang bapak lakukan terhadap gadis remaja yang bekerja di rumah dinas bupati. Dimana korban merupakan ART bapak, apakah itu benar atau tidak pak,” demikian pertanyaan Mitra kepada mantan bupati Dharmasraya inisial M.
Upaya Konfirmasi
Reporter Mitra Yuyanti juga mengaku telah menghubungi bupati Dharmasraya saat ini, Anisa Suci Ramadani untuk mendapatkan keterangan mengenai dugaan kekerasan seksual yang dilakukan mantan bupati Dharmasraya periode 2005-2010 sekaligus ayah kandung dari bupati saat ini. Namun hingga saat ini belum ada jawaban dari kepala daerah tersebut.
“Assalamualaikum ibu Bupati Dharmasraya Anisa Suci Ramadani, izin konfirmasinya bu, terkait isu pelecehan seksual kepada ART di rumah dinas bagaimana ibu menyikapinya bu. Saat ini diduga korban sudah tidak bekerja di rumah dinas, apakah karena hal ini atau karena hal lain bu,” demikian isi tangkapan layar WhatsApp pesan reporter Mitra Yuyanti.
Mitra Yuyanti juga telah menghubungi Pj Sekda Kabupaten Dharmasraya, Jasman. Sebagai komitmen terhadap verifikasi data jurnalistik, EkspresNews juga telah mengirimkan pertanyaan melalui aplikasi WhatsApp kepada Jasman pada Senin 13 Oktober 2025 untuk mengonfirmasi dugaan pelecehan/kekerasan seksual tersebut dan masih menunggu jawaban.
Korban Klarifikasi di Media Sosial
Namun alih-alih konfirmasi dari pihak berwenang terkait dugaan kasus tersebut, pada hari Senin 13 Oktober 2025 situs mediainvestigasi.net melaporkan dugaan tekanan terhadap korban hingga perempuan berusia 21 tahun tersebut harus menyampaikan klarifikasi yang terekam dalam sebuah video.
“Kasus dugaan pelecehan terhadap seorang asisten rumah tangga (ART) di Rumah Dinas Bupati Dharmasraya terus bergulir. Korban S (21) tidak hanya mengaku mendapat perlakuan tak pantas, tetapi juga diduga mendapat tekanan dari pihak Marlon, ayah kandung dari bupati yang menjabat saat ini,” demikian paragraf pertama artikel berjudul “Diduga Korban Pelecehan di Rumah Dinas Bupati Dharmasraya Dapat Tekanan dari Marlon” tersebut.
Dugaan tekanan dari pihak Marlon tersebut muncul karena teman korban berinisial P (21) mengakui kepada reporter Mediainvestigasi.net bahwa orang-orang terdekat Marlon: sopir pribadi dan ART yang masih aktif di rumah dinas mendatangi korban ke Muaro Sijunjung, tempat korban berinisial S sekarang bekerja.
“Iya, saya diajak ikut, disuruh nemenin gitu. Siapa tahu S mau ketemu kalau ada saya. Tapi S dijaga ketat sama kepala cabang tempat dia kerja, jadi nggak dilepas buat ngobrol berdua sama Bibi. Kayaknya tujuannya memastikan S nggak ngomong ke siapa-siapa,” demikian pengakuan P, rekan S dikutip dari Mediainvestigasi.net.
Video klarifikasi S juga sebelumnya beredar di media sosial. “Menyatakan dengan benar dan sesungguhnya bahwa isu dan berita miring yang terjadi antara saya dengan Pak Marlon adalah tidak benar. Pak Marlon sebagai orang tua memperlakukan saya sebagai pekerja dengan baik, sopan, penuh rasa hormat, dan dengan sebagaimana mestinya. Saya sebagai pekerja juga telah menganggap beliau sebagai orang tua saya sendiri. Demikian pernyataan ini saya sampaikan dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan dari siapa pun. Terima kasih,” ungkap S sambil membaca teks di atas map kuning dalam video berdurasi 43 detik tersebut. (red)