
Bandar Lampung, sinarlampung.co-Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung Thomas Americo atas nama Gubernur Lampung Rahmad Mirzani Djausal menunjungi kediaman Siswa SMP Negeri 13 Bandar Lampung, yatim Gina Dwi Sartika (16) yang harus putus sekolah karena sering dibully oleh teman sekolahnya. Gina Dwi Sartika tinggal di belakang SMK Negeri 8 Bandar Lampung, atau di Desa Kurungan Nyawa, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran itu itu kini harus memulung membantu ibunya, untuk biaya hidup bersama dua adiknya, Rabu 22 Oktober 2025.
Menindaklanjuti viralnya kasus ini, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal melalui Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lampung, Thomas Amirico bersama Dinas Sosial, melakukan peninjauan langsung ke lapangan. “Atas perintah Pak Gubernur, kami sudah mendatangi rumah Gina. Ditemukan dua adiknya juga belum sekolah. Ketiganya akan kita fasilitasi agar bisa bersekolah di Sekolah Rakyat Lampung,” kata Thomas, Kamis 23 Oktober 2025.
Thomas mengatakan, hasil mengunjungi rumah Gina dan bertemu langsung dengan keluarga, diketahui bahwa Gina memiliki dua adik yang juga putus sekolah, yakni Putri Agustina (11) dan Gibran Alfarizki (6). “Gina saat ini mengikuti program Paket B, dan setelah lulus akan masuk ke Sekolah Rakyat Menengah Atas Lampung,” kata Thomas.
Sementara adiknya, Putri Agustina, tengah mengikuti program Paket A dan akan masuk ke Sekolah Rakyat setelah memperoleh ijazah tahun depan. Adik bungsunya, Gibran Alfarizki, akan dimasukkan ke Sekolah Rakyat jenjang SD pada tahun ajaran baru 2026 setelah dokumen kependudukannya rampung.
“Selain fasilitas pendidikan, keluarga Gina juga menerima tali asih dari Pemprov Lampung. Ini adalah atensi langsung dari Pak Gubernur agar ketiga anak ini bisa kembali sekolah dan punya masa depan yang lebih baik. Pemerintah Provinsi Lampung menyatakan akan terus memantau perkembangan Gina dan kedua adiknya hingga kembali bersekolah,” kata Thomas.
Sementara Gina Dwi Sartika mengaku dirinya masih ingin bersekolah jika ada yang menyekolahkannya. Dan sejak dikeluarkan dari sekolah tahun 2023 lalu, Gina harus membantu orang tua mencari rongsokan demi menyambung hidup. “Saya sering di-buly sama teman saya, mereka menghina orangtua saya pemulung, tukang rongsokan hingga akhirnya saya dikeluarkan dari sekolah saat saya duduk dibangku kelas VIII,” kata Gina, kepada wartawan, Senin 20 Oktober 2025.
Ibu Gina, Misna Megawati (42) mengaku dirinya menyesalkan anaknya dikeluarkan dari sekolah. “Saya tidak tega anak saya dihina dan dibully hingga akhirnya anak saya dipulangkan oleh gurunya kepada saya. Kata kepala sekolah tentang anak saya, daripada milih satu dan yang lainnya bubar akhirnya Gina dikeluarin,” ujar Misna terisak.
“Saya sangat berat hati melihat anak saya berhenti sekolah. Namun kondisi ekonomi keluarga membuat tak punya banyak pilihan. Saya ini tulang punggung, tidak ada yang bantu saya cari barang bekas,” kata Misna.
Misna juga berharap Gina tetap bisa melanjutkan pendidikan, meski bukan di sekolah formal. “Paling tidak ambil Paket B sampai lulus SMA, biar nggak kayak saya,” harapnya.
Kisah Gina kemudian viral di media sosial dan disorot media pers. Publik yang prihatin karena Gina berhenti sekolah bukan karena malas, melainkan karena miskin dan kerap diejek oleh teman-temannya. Gina kerap mendapat hinaan “anak pemulung” atau “tukang rongsokan” karena pekerjaan ibunya, yang sehari-hari mencari barang rongsokan.
“Saya tidak menyangka Bapak Gubernur sampai peduli dengan anak saya. Saya cuma ingin anak-anak saya bisa sekolah lagi dan tidak dipandang rendah,” ucapnya dengan suara bergetar, menitikkan air mata.
Pasca viral, banyak pihak yang kemudian berempati mengunjungi kediaman Gina. Termasuk pihak Pemda Kota Bandar Lampung, anggota DPRD, dan simpatisan lain. Bahkan pihak sekolah justru sibuk klarifikasi jika Gina keluar atas kemauan sendiri, hingga sekolah tak berdaya. “Tidak ada perundungan. Gina sendiri yang minta berhenti dan pindah,” kata Dalih Kepala SMPN 13 Bandar Lampung, Amaroh, membela diri.
Bahkan Kepala Dinas PPPA Kota Bandar Lampung, Maryamah mengaku bahwa, Gina telah mendapatkan pendampingan sejak dua tahun lalu. Dan kasus perundungan terhadap Gina telah ditangani pada saat itu. “Gina selama ini selalu kami dampingi. Dugaan bullying terjadi dua tahun lalu dan sudah diselesaikan. Bahkan dulu kami tawarkan untuk melanjutkan sekolah, tapi ia menolak dengan alasan ingin mondok,” ujar Maryamah.
Menurut Maryamah, Dinas PPPA bersama unsur pemerintah setempat telah mengunjungi rumah Gina di Desa Kurungan Nyawa, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran untuk memastikan kondisi terkini Gina dan keluarganya. (Red)