
Bandung, sinarlampung.co-Dekan Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung Dr Efa Rodiah Nur MH mengatakan kepemimpinan perempuan dalam perspektif Islam bukan hanya tentang jabatan atau kedudukan, melainkan tentang peran, keteladanan, dan tanggung jawab moral. Hal disampaikan Dr Eva Rodiah, saat menjadi nara sumber dalam Podcast Tamu Inspiratif, di Aula Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Senin 7 Oktober 2025.
“Seorang pemimpin perempuan sejati adalah mereka yang mampu menyeimbangkan peran antara kelembutan hati dan ketegasan prinsip. Perempuan yang hebat bukan semata karena pencapaiannya, tetapi karena kemampuannya menjaga integritas, bertanggung jawab, dan memberi manfaat bagi lingkungannya,” ujar Efa, disambut teput tangan peserta.
Menurutnya, dunia akademik, khususnya Fakultas Syariah, harus menjadi ruang yang subur bagi tumbuhnya kepemimpinan perempuan yang berakhlak, berpikir kritis, dan memiliki sensitivitas sosial. “Kita tidak hanya mencetak lulusan yang pandai membaca hukum, tetapi juga lulusan yang mampu menegakkan keadilan dan membawa kedamaian di tengah masyarakat,” ujarnya.
Dr. Efa menjelaskan bahwa kepemimpinan visioner tidak akan berjalan tanpa empat pilar utama yang ia sebut sebagai 4K yaitu Konsolidasi, Koordinasi, Komunikasi, dan Kontrol. Menurutnya, konsolidasi adalah langkah awal yang wajib dilakukan setiap pemimpin, yaitu memperkuat barisan internal agar setiap anggota memahami visi dan misi bersama. Tanpa konsolidasi, kepemimpinan akan rapuh dan mudah goyah.
Sementara koordinasi adalah bentuk keteraturan dalam pelaksanaan tugas. Efa menekankan pentingnya menghindari tumpang tindih wewenang dan memastikan bahwa setiap individu memahami peran masing-masing. “Pemimpin yang efektif adalah mereka yang mampu mengatur ritme kerja tim agar tetap harmonis dan produktif,” ujarnya yang tampil sebagai narasumber dalam Podcast bertajuk “Membangun Kepemimpinan Perempuan Visioner melalui Konsolidasi, Koordinasi, Komunikasi, dan Kontrol.
Selanjutnya, komunikasi disebutnya sebagai jantung kepemimpinan. Tanpa komunikasi yang jelas, terbuka, dan empatik, organisasi akan kehilangan arah. Pemimpin harus mampu mendengar sebelum berbicara, memahami sebelum menilai. Terakhir, kontrol menjadi penyeimbang dari keseluruhan proses.
“Kontrol bukan berarti mencari kesalahan, tetapi memastikan arah kerja tetap sesuai tujuan. Empat aspek ini, bila dijalankan secara seimbang, akan melahirkan gaya kepemimpinan yang efektif, bijak, dan berorientasi pada hasil,” katanya dalam bagian dari agenda studi banding Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung ke UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Selain menjelaskan konsep 4K tersebut, Efa juga menguraikan lima poin penting yang menjadi pesan utama bagi para mahasiswa dan dosen muda, terutama kaum perempuan. Pertama, definisi wanita hebat tidak hanya diukur dari prestasi akademik, melainkan dari integritas dan tanggung jawab sosial.
Kedua, kekuatan mental adalah fondasi untuk bertahan dalam setiap tekanan dan rintangan. Seorang pemimpin, katanya, harus mampu bangkit dari kegagalan dan menjadikannya bahan refleksi untuk tumbuh. Ketiga, kepemimpinan sejati bukan tentang kekuasaan, tetapi tentang pengaruh dan teladan. Keempat, kunci sukses terletak pada niat yang tulus, visi yang jelas, dan konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai positif.
Dan kelima, pesan motivasi, bahwa setiap perempuan memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin. “Yang membedakan hanya seberapa jauh kita mau mengasah potensi itu dan menjadikannya cahaya bagi orang lain,” ujarnya Efa.
Penampilan Dr. Efa dalam podcast tersebut mendapat sambutan luar biasa. Para mahasiswa menilai pandangan Efa tidak hanya inspiratif, tetapi juga relevan dengan tantangan zaman. Banyak yang terinspirasi oleh gagasannya tentang keseimbangan antara spiritualitas, intelektualitas, dan profesionalitas. Sejumlah dosen UIN Bandung bahkan mengapresiasi cara berpikirnya yang sistematis namun tetap hangat dan membumi.
Di akhir sesi, Dr. Efa mengingatkan bahwa kepemimpinan perempuan harus berpijak pada nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Ia menutup dengan pesan reflektif, “Kalau kita mau memimpin, penting untuk melakukan konsolidasi, koordinasi, komunikasi, dan kontrol agar langkah kita tidak hanya kuat, tapi juga terarah untuk mencapai tujuan bersama.” tutup Efa. (Red)