
Bandar Lampung, sinarlampung.co-RA (38), warga Perumahan Taman Gunter 2, Kemiling, melaporkan dugaan tindak pidana dugaan pengeroyokan yang dialaminya di sebuah bengkel cat mobil di Jalan Pramuka, Kelurahan Kemiling Permai, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung, pada Selasa, 30 September 2025 sekitar pukul 10.00 WIB.
Laporan korban telah diterima pihak kepolisian dengan Nomor LP/B/1432/IX/2025/SPKT/POLRESTA BANDAR LAMPUNG/POLDA LAMPUNG, tercatat sekitar pukul 13.39 WIB. Terlapor utama dalam kasus ini berinisial PAN , bersama beberapa orang lainnya.
RA mengatakan, kasus bermula saat mobil pribadinya masuk ke bengkel tersebut untuk pengecatan. Pada Jumat, 26 September 2025, pemilik bengkel mengabarkan bahwa pengerjaan telah selesai. Namun karena hari sudah sore, ia sepakat mengambil kendaraan keesokan harinya.
Saat tiba di bengkel pada Sabtu, RA menemukan sejumlah bagian kendaraan yang belum dikerjakan sesuai kesepakatan. Dan meminta perbaikan dan keluar sebentar untuk makan. Karena orang tuanya sedang dirawat di rumah sakit, RA menghubungi bengkel dan menyampaikan tidak bisa kembali hari itu.
Menurut RA, pihak bengkel tetap meminta pembayaran penuh, tetapi RA menegaskan akan melunasi setelah seluruh pengerjaan selesai. Karena akhir pekan, perbaikan dilanjutkan pada hari Senin 29 September 2025. Sore harinya, ia menerima kabar kendaraan telah rampung dan berjanji mengambilnya pada Selasa pagi.
Pada Selasa, 30 September 2025, sekitar pukul 10.00 WIB, RA datang ke bengkel bersama adiknya untuk mengecek hasil pekerjaan. Ia ditemani istri pemilik bengkel saat inspeksi. “Saya tanya kenapa stoplamp tidak dilepas saat pengecatan, tapi mereka ngotot bilang sudah dilepas. Dari situ cekcok mulai terjadi,” ujar RA.
Perdebatan memanas ketika pemilik bengkel keluar dan memaki korban. Tak lama, empat orang lainnya—diduga istri, dua anak, dan dua pekerja bengkel—ikut mengerumuni. RA mengatakan insiden itu juga menimpa adik kandungnya, TAH (28).
“Saat saya komplain hasil pengerjaan cat mobil yang menurut saya tidak sesuai kesepakatan awal itu. Saat itu terjadilah cekcok dengan pemilik bengkel yang diwakili istrinya, lalu adik saya mencoba menengahi. Tapi justru istri pemilik bengkel memukul adik saya di wajah,” ujar RA, Selasa, 1 Oktober 2025.
Ra menambahkan, setelah pemukulan itu, situasi semakin ricuh. “Adik saya langsung dikeroyok. Melihat itu, saya maju melindungi, tapi malah saya juga ikut dipukuli. Bibir saya robek, wajah saya lebam, adik saya juga mengalami lebam di bagian kepala dan baju adik saya pun sampai robek,” imbuhnya.
Tidak terima dengan perlakuan tersebut, RA mendatangi Mapolresta Bandar Lampung untuk membuat laporan resmi agar para pelaku diproses hukum. Dirinya bersama sang adik pun telah melakukan pemeriksaan dan visum terkait kejadian ini di Rumah Sakit Bhayangkara. “Tindak kekerasan itu dilakukan secara bersama-sama dan masuk dalam dugaan pelanggaran Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan. Saya berharap polisi segera menindaklanjuti perkara ini,’ katanya.
Pemilik Bengkel Membantah
Sementara, Dian, pemilik bengkel cat mobil di Jalan Pramuka, Kelurahan Kemiling Permai, membantah tuduhan pihaknya melakukan pengeroyokan kepada RA (38). Menurut Dian, keduanya menilai hasil pekerjaan bengkel buruk dan menuntut perbaikan segera.
Dian mengatakan, dirinya meminta konsumen menunjukkan bagian yang dimaksud, tetapi RA kesulitan menunjukkannya. Baru ketika menunjukkan di spoiler atas mobil, terlihat lukanya kecil dan hampir tidak terlihat. “Dari situ dia mulai menuduh hasil pekerjaan kami sangat jelek. Seharusnya kalau ada komplain, disampaikan sekaligus agar bisa kami perbaiki langsung. Meski begitu, kami tetap memperbaiki mobilnya,” kata Dian.
Kericuhan terjadi saat Dian menegur RA terkait sikapnya. Dalam insiden itu, Dian mengaku menjadi korban pemukulan pertama kali. “Rupanya dia tidak terima saat saya tegur. Lalu dia mukul saya, oleh karenanya Saya sama sekali tidak siap menerima pukulan. Jaraknya dekat, saya tidak bisa menghindar atau lari karena sedang menerima komplain dari dia di mobil. Saya benar-benar kaget karena seorang pria yang kami anggap tamu justru memukul saya,” ungkap Dian.
Menurut Dian, pukulan tersebut membuatnya sangat terkejut, karena sebelumnya tidak menyangka tindakan kasar itu datang dari tamu yang selama ini dianggap hormat. Setelah itu, Keributan Meluas ke Keluarga dan Karyawan Keributan pun melibatkan karyawan dan suami Dian.
Karyawan yang melihat kejadian langsung panik dan lari untuk menghindar. Suami Dian, Probo datang untuk melerai, tetapi menurut Dian, suaminya justru dipukul di tengkuk dan punggung oleh RA dan adiknya saat mencoba melindungi Dian.
Dian menegaskan tuduhan bahwa dirinya melakukan pemukulan terhadap konsumen tidak benar, dan justru dia beserta keluarganya menjadi korban kekerasan. Dian, menyebut masalah berawal dari pembayaran mobil yang belum dilakukan oleh RA.
“RA ingin mengambil mobil tapi sepertinya tidak ada niat untuk melakukan pelunasan pembayaran. Inti dari semuanya itu, orang ini nggak mau bayar. Mau ambil mobil tapi enggan bayar, terus komplain-komplain. Komplainnya sudah kami tampung selama tiga hari, dari Sabtu sampai Selasa,” ujar Dian.
Lalu, pada Selasa, 30 September 2025, RA datang ke bengkel bersama seseorang yang diklaim sebagai adiknya. “Suami saya dipukul dari belakang oleh RA dan juga dipukul dari depan oleh adik RA,” tegas Dian.
Sementara itu, Anak Dian yang kedua menyaksikan bapaknya dipukuli hingga lari mencari bantuan. “Anak pertama saya juga berteriak minta tolong warga agar menyaksikan kejadian, karena khawatir bengkel dan mobil konsumen lain ikut menjadi sasaran,” jelas Dian.
Dian menyebut, RA sempat bersitegang dengan petugas Kaling dan warga, karena ingin keluar dari bengkel. Namun, akhirnya berhasil diamankan agar tidak terjadi kerusuhan lebih lanjut. “Polisi kemudian dipanggil karena insiden ini termasuk membuat onar,” kata dia.
Dian menegaskan, tuduhan bahwa dirinya memukul konsumen adalah tidak benar. “Warga dan keluarga saya sangat marah melihat saya dipukuli. Mereka tidak terima seorang perempuan, seorang ibu, diserang. Saya bukan tipe orang arogan; bahkan saya orang Jawa yang sopan. Amat sangat tidak mungkin saya memukul konsumen saya sendiri. Faktanya, saya yang dipukuli, dan saya hanya melayani pelanggan saya,” tegas Dian.
Dian menyayangkan bahwa pemberitaan sebelumnya yang menyebutnya melakukan kekerasan adalah keliru. “Yang dibilang ‘dikeroyok’ itu tidak ada. Warga dan anak saya sampai teriak-teriak karena orang ini membabi buta. Kami takut bengkel kami dihancurkan. Makanya warga datang untuk melerai. Jadi berita yang menyebut saya memukul konsumen itu salah,” katanya. (Red)