
Purworejo, sinarlampung.co – Tradisi sedekah bumi atau yang akrab disebut “Merti Desa” oleh masyarakat Pituruh dan Bruno, Kabupaten Purworejo, selalu menghadirkan nuansa sakral setiap kali digelar. Ribuan ingkung atau ayam panggang utuh menjadi sajian wajib dalam setiap penyelenggaraan tradisi ini.
Lebih dari sekadar ritual adat, merti desa merupakan simbol identitas budaya sekaligus cerminan sosial dan spiritual masyarakat Jawa. Ingkung yang dimasak utuh dengan kepala tertunduk dimaknai sebagai wujud kepasrahan diri kepada Sang Pencipta dalam setiap sendi kehidupan.
Dalam budaya Jawa, ingkung bukan sekadar hidangan. Ia dipandang sebagai lambang penghambaan, doa, serta medium spiritual yang menyatukan manusia, alam, dan leluhur.
Salah satu desa yang dikenal luas dengan tradisi ini adalah Desa Pamriyan, Kecamatan Pituruh. Setiap tiga tahun sekali, warga setempat menggelar merti desa secara besar-besaran dengan menghadirkan ribuan ayam panggang. Pada gelaran tiga tahun lalu, tercatat sekitar 5.000 ingkung tersaji. Ribuan ingkung tersebut diletakkan di atas 47 ancak (ambeng) besar, kemudian diarak dalam kirab budaya, didoakan oleh para sesepuh, dan akhirnya dibagikan kepada seluruh masyarakat.
Kemeriahan tradisi ini menjadikan Pamriyan sebagai ikon budaya Kabupaten Purworejo. Acara tersebut tidak hanya menarik wisatawan lokal, tetapi juga kerap menjadi liputan media nasional maupun daerah.
Tak hanya Pamriyan, desa-desa lain di Purworejo pun melestarikan tradisi serupa. Di Kemranggen dan Bruno, setiap keluarga membawa ingkung dan hasil bumi masing-masing untuk kemudian dikumpulkan di balai desa. Sajian itu didoakan, dikenduri bersama, lalu dibagikan merata kepada seluruh warga sebagai ungkapan syukur sekaligus simbol persatuan.
Sementara itu, di Wonosido dan Pituruh, ingkung hadir dalam merti dusun. Doa keselamatan dipanjatkan di punden desa, kemudian ingkung disantap bersama. Tradisi ini diyakini sebagai doa dan wujud syukur atas tanah yang subur, hasil panen melimpah, serta harapan agar masyarakat semakin makmur. Lebih dari itu, merti desa dipercaya mampu menjaga harmoni antara manusia dengan alam.
Meski berbeda dalam skala dan bentuk pelaksanaan, setiap merti desa memiliki makna yang sama: ungkapan syukur atas rezeki, doa keselamatan, serta perekat kebersamaan.
Tradisi ingkung dalam merti desa tak hanya bermakna spiritual, tetapi juga menjadi identitas budaya. Dari Pamriyan hingga desa-desa lain di Purworejo, ingkung menjadi saksi perjalanan sejarah masyarakat pedesaan Jawa, warisan leluhur yang harus terus dijaga lintas generasi. (Afandi)