
Bandar Lampung, sinarlampung.co – Kebudayaan nasional merupakan kumpulan dari budaya daerah di seluruh Nusantara. Kebudayaan daerah yang ada di nusantara saling berkaitan dan mempunyai nilai-nilai yang sama.
“Adat budaya Lampung sebagai identitas budaya nasional memiliki dualitas adat yaitu Saibatin dan Pepadun”, kata Mawardi Harirama. Hal ini ia katakan pada acara Diskusi Kebudayaan dengan judul materi “Adat Budaya Lampung sebagai Identitas Budaya Nasional” di Hotel Emersia, Bandar Lampung. Senin, 11 agustus 2025.
Ia menyebut beberapa ciri dari Saibatin yaitu berbasis di wilayah pesisir, dialek bahasa ‘A’. Bersifat aristokratik, kedudukan dan gelar diwariskan turun-temurun secara nasab. Menjunjung tinggi adab, karakter dan jati diri.
Sedangkan Pepadun ciri-cirinya adalah berbasis di pedalaman dialek bahasa ‘O’ dan ‘A’. Bersifat egaliter, demokrasi, kedudukan dan gelar diperoleh secara nasab dan sabab ilmu warisan adat secara turun menurun serta dilakukan secara musyawarah, tambah pria Gelar Suttan Seghayo Dipuncak Nur dari Kedatun Keagungan Lampung yang berada dalam Kepenyimbangan Adat Marga Subing dan Marga Nuban.
Pemberian gelar, katanya lagi, bagi bangsawan Pepadun diberikan kepada anak sebelum lahir kedunia melalui selamatan orang tuanya saat perkawinan. Menekankan keberadaan kedudukan yang Kayo-khayo (lahir dan batin).
“Keduanya sama-sama menjunjung nilai falsafah adat budaya Piil Pesenggiri, Sakai Sambayan, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Julug Adek”, tegas Mawardi.
Pada kesempatan ini, Mawardi juga mengungkapkan tentang Pemangku/Penyimbang/Kesultanan adat Lampung. Saibatin, kedudukan diperoleh melalui garis nasab/darah, mempunyai wilayah dan masyarakat adat. Mempunyai sarana dan pakaian adat serta lamban/gedung/istana adat, dan atau istilah lain.
Selanjutnya, Pepadun, kedudukan diperoleh melalui nasab/arah dan sabab ilmu. Proses nasab dilakukan sebelum keturunan lahir di dunia dengan prosesi selamatan penganggik dalam acara Cengget Agung dan Sekhak Asah serta pemberian Julug/Gelar (sebelum hahir dan sebelum baligh).
“Sebelum nikah ada acara Temu Dilunjuk/turun mandi sebagai pembersihan selanjutnya Munggah Bumi/Cakak Pepadun. Pemberian kedudukan/gelar melalui sabab/ilmu, dapat juga dilakukan melalui proses Kemuakhian/Pengangkatan Kerabat”, papar Mawardi.
Ia meneruskan, mempunyai wilayan dan masyarakat adat yang mengakui. Mempunyai sarana dan pakaian adat serta Nuwo Balakh/Mahan/Kedatun/Keratun atau istilah lain.
Bahasa dan Aksara Lampung
Menurut Mawardi, salah satu ketinggian nilai adat budaya Lampung adalah memiliki bahasa dan aksara. Secara garis besar, bahasa Lampung mempunyai dialek ‘A’ dan ‘O’, dialek tersebut tetap ada walaupun kian berkurang penuturannya.
Mawardi mengutip ahli linguistic UI, Alm. Prof. Hasyim Gunarwan yang meneliti di Lampung untuk mencapai gelar Doktoral Sorbone University – Prancis, bahwa bahasa Lampung akan punah sekita 25 tahun kedepan dari sekarang.
Aksara Lampung semula berjumlah 19 huruf, sesuai kesepakatan tokoh-tokoh Lampung di tambah ‘Ghro’ sehingga kini menjadi 20 huruf. Jumlah aksara19 tersebut di atas, menurut penelitian dan pengkajian mempunyai makna filosofi yang sangat dalam karena jumlah 19 sama dengan huruf pada bacaan Bismillahirrahmaanirrahiim.
Hubungan antara aksara dengan kalimat Bismillahirrahmaanirrahiim merupakan sarana pertama mempelajari suatu ilmu. Menurut Hadits Rasululloh SAW “Segala sesuatu yang tidak dimulai dengan Bismillahirrahmaanirrahiim maka putuslah barokah Allah SWT”, ujar Mawardi.
Sarana Adat Lampung
Sarana adat Lampung terdiri dari pakaian pengantin, rumah adat/nuwo balagh/keratun/kedatun/lamban balagh. Khato/kereta kencana dan jepano/tandu, lunjuk balakh, dan kesenian.
Masih menurut Mawardi, pakaian pengantin Saibatin di dominasi warna merah merupaka simbol keberanian dan kesemangatan. Wanita menggunakan Siger Lekuk 7 dan aksesoris lainnya melambangkan kehidupan. Dilandasi oleh kesadaran dalam kehidupan7 hari/malam diatas 7 lapis langit, dibawah 7 lapis bumi. 7 lapis jasmani dan rohani yang berpedoman dari 7 ayat pembuka Kitabulloh.
Pria dengan kopiah kiket yang melambangkan ikatan antara kemampuan spiritual (rasa), intelektual (periksa,) dan karya (karsa), imbuh Mawardi.
Ada pun Pepadun pakaian pengantinnya di dominasi warna putih simbol kesucian, kerendahan hati dan kebesaran jiwa. Wanita dengan Siger Lekuk 9 dan aksesoris lainnya melambangkan ketetapan dan kemuliaan. Pria dengan kopiah emas berbentuk gunung lekuk 9 melambangkan kebesaran dan keagungan jasmani dan ruhani.
Warna merah dan putih yang hidup dalam budaya Saibatin dan Pepadun bermuara pada keseimbangan antara keberanian dan kasih sayang, antara kekuatan dan kebeningan nurani yang membangkitkan semangat dan cinta terhadap bumi Lampung, juga merupakan sumber lambang kebanggaan nasional “Sang Saka Merah Putih”, tambah Mawardi.
Dari perbedaan antara Pepadun dan Saibatin merupakan keragaman di bumi Lampung yang menggambarkan Bhineka Tunggal Ika, katanya.
Mawardi juga memaparkan beberapa hal mulai dari rumah adat Lampung melambangkan tegak berdiri karena adat dan adab, kokoh karena keimanan dan kemanusiaan, luas karena cinta, dan terbuka karena bijaksana. Khato dan japano bukan sekadar alat transportasi, tetapi simbol budaya luhur yang mengiringi perjalanan hidup manusia, berpijak pada nilai iman, kemanusiaan, dan martabat.
Lunjuk balakh merupakan tempat pernikahan secara adat Lampung untuk pelepasan muli yang akan menikah. “Sedangkan kesenian meliputi tari adat, tenun tapis, dan sastra lisan”, tandas Mawardi. (Heny)