
Bandar Lampung, sinarlampung.co-Maraknya alih fungsi lahan dan hilangnya kawasan resapan air menjadi pemicu banjir di Kota Bandar Lampung. Termasuk drainase yang buruk dan penyimpanan aliran anak sungai. Belum lagi prilaku buang sampah sembarangan.
“Gimana gak banjir mas, lihat saja bukit di Kemiling itu sudah habis jadi perumahan, sampai ke Puncak. Padahal itu kawasan resapan air. Bukit bukit di Sukabumi, Campang, Kedamaian, Bukit Camang, Hingga wilayah teluk betung habis, ” Kata Eri, seorang mahasiswa, di bandar Lampung.
Selain itu, hampir seluruh aliran anak sungai mengalami penyempitan, mulai aliran anak sungai Way Balau, Way Awi, Way Panengahan, Way Simpur, Way Kuala, Way Galih, Way Kupang, Way Lunik, Way Kunyit, Way Kuripan, Way Kedamaian, Anak Way Kuala, Way Kemiling, Way Halim, Way Langkapura, Way Sukamaju, Way Keteguhan, Way Simpang Kanan, Way Simpang Kiri, Way Betung. “Banyak gedung dan bangunan yang makan sepadan sungai. Termasuk industri dan Hotel,” Katanya.
Ahli Hidrologi Guru besar Fakultas Teknik Universitas Lampung, Prof Dyah Indriana Kusumastuti, mengatakan terdapat tiga penyebab Kota Tapis Berseri menjadi daerah langganan banjir. “Penyebab banjir Kota Bandar Lampung datang dari masalah drainase, daerah resapan air yang minim, dan alih fungsi lahan yang marak,” kata Dyah kepada wartawan di Bandar Lampung, Minggu, 25 Februari 2024.
Menurut Dyah daerah resapan air di Bandar Lampung saat ini banyak berkurang akibat pembangunan. Meski penting untuk pembangunan, pemerintah dan masyarakat tidak boleh mengabaikan untuk memperhatikan aspek low impact development (LID).
LID yaitu istilah yang digunakan untuk menggambarkan perencanaan tanah dan rekayasa desain untuk mengelola limpasan air hujan. “Artinya pembangunan itu harus memberikan dampak yang rendah terhadap lingkungan. Itu hal yang harus disoroti bersama,” ujarnya.
Pasalnya, daerah resapan sangat penting untuk meneruskan air hujan masuk ke dalam tanah. Kehadiran embung atau kolam-kolam penampungan air itu punya peran sentral dalam menghalau air bah yang turun akibat curah hujan tinggi. ”Daerah resapan ini tentu saja akan memperkecil koefisien limpahan air dan itu berkaitan dengan kondisi lahannya,” katanya.
Menurut Dyah, input curah hujan yang tinggi juga tidak bisa lepas dari drainase. Tutupan lahan menyebabkan tidak semua air hujan mampu terserap ke tanah. Air yang tidak terserap itu akan menimbulkan limpahan air yang tidak bisa terkendali sehingga meluap ke pemukiman.
“Kapasitas tampung drainase harus cukup dan alirannya harus tidak tersumbat sampah. Jika tersumbat air tidak bisa menemukan jalan keluar dan akhirnya meluap,” ujarnya.
Selain itu, masalah alih fungsi lahan pada bukit-bukit yang ada seharusnya bisa menjadi daerah resapan air alami. Namun, kini banyak beralih fungsi menjadi perumahan dan lokasi wisata. Padahal bukit memiliki peran penting dalam menurunkan koefisien limpasan.
“Kalau terjadi alih fungsi lahan daerah bukit-bukit itu akan meningkatkan koefisien limpahan. Sehingga air bah yang datang tidak sempat terserap dan akan langsung melimpas,” ujarnya.
Sementara Ahli Tata Kelola Air Institut Teknologi Sumatera, Muhammad Hakiem Sedo Putra, menambahkan bahwa pemerintah perlu melakukan serangkaian evaluasi guna meminimalisasi daerah rawan banjir di Bandar Lampung.
Hakim meminta pemerintah dapat lebih memperhatikan saluran infrastuktur pembangunan drainase dari segi kapasitas serta perbaikan dan pelebaran saluran air yang rusak.
Kemudian normalisasi sungai juga menjadi upaya untuk melancarkan dan mengembalikan fungsi sungai agar dapat mengalirkan limpasan air.
“Pemerintah perlu memberikan regulasi tegas kepada masyarakat atau oknum yang masih membuang sampah ke sungai. Kondisi itu lah yang menyebabkan pendangkalan sungai. Sehingga sungai tidak mengalir dengan baik dan tidak sesuai fungsinya,” katanya.
Walikota Gagal
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung menyatakan banjir yang terjadi di Bandar Lampung pada Sabtu sore 24-25 Februari 2024 dini hari merupakan banjir terparah dalam 10 tahun terakhir.
Direktur Walhi Lampung Irfan Tri Musri mengatakan beberapa tahun terakhir banjir besar pernah terjadi tahun 2013 dan 2017. Namun yang terjadi kemarin merupakan yang terparah.
“Selama 10 tahun terakhir bisa kita simpulkan ini kejadian banjir terbesar. Sebelumnya banjir besar terjadi tahun 2017 dan 2013, tapi secara jumlah titik dan intensitas, ini banjir yang terbesar,” kata Irfan saat konferensi pers di Kantor Walhi Lampung, Minggu 25 Februari 2024.
Irfan mengatakan, dari data Walhi, ada 11 titik utama banjir di Kota Bandar Lampung. Ke-11 titik itu semuanya berada di dekat sungai. “Daerah-daerah itu bukan merupakan kali pertama terkena banjir, sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Tapi intensitasnya ini paling luas dampaknya,” ujar Irfan.
Terkait penyebab bencana banjir ini Walhi menilai kinerja Pemkot Bandar Lampung dalam hal pencegahan bencana masih sangat lemah. Dan Pemerintah Kota bandar Lampung belum mampu meminimalisir intensitas banjir di saat musim penghujan.
“Kita lihat dalam 10 tahun terakhir intensitas banjir di Bandar Lampung bukan hanya angkanya saja yang bertambah secara berulang, tapi titik lokasinya juga terus bertambah,” katanya.
Yang kedua, upaya migitasi yang dijalankan Pemkot Bandar Lampung juga dinilai belum maksimal, terutama dalam hal penanganan korban banjir. “Saat banjir, masyarakat kita masih kesulitan untuk mengungsi atau evakuasi karena belum ada sistem peringatan dini yang dibangun oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung,” ujarnya. (Red)