
Bandar Lampung (SL)-Kena serangan jantung Kanithartib 2 Subbidprovos Bidpropam Polda Lampung AKP Burhanuddin wafat mendadak saat sedang joging pagi, di Jalan Yossudarso, depan Taman Pemakaman Umum (TPU) Panjang, Rabu 20 Mei 2020 sekira pukul 06.00 WIB. Petugas medis berpakaian APD lengkap mengevakuasi korban .
Kabar itu sempat ramai di media sosial media sosial WhatsApp, seorang pria meninggal dunia mendadak di pinggir jalan. Peristiwa ini terjadi di depan Taman Pemakaman Umum (TPU) Panjang Rabu 20 Mei 2020 sekira pukul 06.00 WIB. Direkam warga durasi 50 detik, petugas medis menggunakan APD lengkap tengah melakukan evakuasi anggota Polda itu. AKP Burhanuddin sempat dibawa ke RSUDAM.
Kabid Humas Polda Lampung Kombespol Zahwani Pandra Arsyad membenarkan kabar dua wafarnya perwira id Propam Polda tersebut. “Benar, kejadian Rabu pagi. Almarhum adalah Kanithartib 2 Subbidprovos Bidpropam Polda Lampung. AKP Baharudin sedang olahraga pagi terkena serangan jantung,” kata Pandra.
Penyebab Mati Mendadak Usai Lari
Fisioterapis Syahmirza Indra Lesmana, SKM, SFt.MOr, ada dua kemungkinan yang terjadi pada seseorang yang meninggal saat mengikuti perlombaan lari, yaitu hipoksia dan kerja jantung berlebih. “Hipoksia itu tidak sampainya oksigen ke otak. Ketika kita berlari, 80 persen energi oksigen itu pindah ke otot kita, sehingga otaknya kekurangan oksigen,” ujarnya dilangsir detikHealth, Rabu (21/11/2018) lalu.
Otak yang kekurangan oksigen akan menyebabkan seseorang mengalami penurunan fungsi tubuh secara drastis atau biasanya disebut kolaps. Kondisi seperti ini bisa menyebabkan seseorang meninggal jika tidak segera diberikan penanganan secara baik. “Yang kedua, ketika dia butuh (lari) lebih banyak, jantungnya akan (bekerja) lebih berat. Kalau dia nggak kuat jalan terus dia akan meninggal,” lanjut fisioterapis yang juga Dekan Fakultas Fisioterapi Universitas Esa Unggul tersebut.
Sementara itu menurut dokter kesehatan olahraga dari RS Premier, dr Hario Tilarso, SpKO, seseorang yang mengalami kolaps kemudian meninggal saat perlombaan lari tentunya terlalu memaksakan tubuhnya, dan kemungkinan memang ada kelainan jantung yang diidapnya.
“Itu mungkin pada waktu mau finis kan tidak finis katanya, mungkin dia sprint habis-habisan. Sprint itu merupakan suatu upaya yang sangat berat buat dia. Kemungkinan besar dia memang punya kelainan jantung kalau begitu. Tapi sebab kematian harus ditentukan dengan autopsi kan, perkiraan saja,” jelasnya. (red)