
Bandar Lampung (SL)-Ujang, warga Palas Pasemah, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, geram. Dia histeris didepan jasad anaknya Muhammad Rezki Mediansor (21), pasien BPJS diagnosa demam berdarah dengue (DBD), di atas tandu transfer pasien Rumah Sakit Abdoel Moeleok, Senin 10 Februari 2020, sekitar pukul 15.00 WIB.
Diduga sejak tiba di RSUAM hingga meninggal dunia, Muhammad Rezki Mediansor, tidak mendapatkan perawatan yang maksimal. Bahkan, saat meninggal dunia pada Senin sore itu, Muhammad Rezki Mediansor masih berada di selasar RSUAM, bukan di dalam ruangan perawatan. “Kami di sini dibiarin saja. Setelah itu dipindahin, dititipin di ruangan, tidak jelas, setelah sekarat baru dipindahin di ruang sebenarnya. Bukan di sini sebenarnya. Ternyata di kuburaaaaaan!” teriak Ujang histeris bersama istri dan keluarganya.
“Kenapa harus begitu? Saya ini peserta BPJS bayar. Mana BPJS tanggung jawabnya, BJPS!, Saya ini bayar! Ke pemda saya juga bayaaar!. Saya ini orang miskin, dapatnya nomor tiga. Kelas tiga… saya ini enggak mampuuuu…” geram Ujang, mengumpat kesal, marahan dan kecewaan sang ayah pasien terhadap cara pelayanan RSAM.
Drama kepedihan keluarga pasien peserta Badan Pengelola Jaminan Kesehatan (BPJS) itu viral hanya dalam tempo beberapa jam. Kepedihan mereka setelah kehilangan salah satu anggota keluarganya di RSU Abdoel Moeloek (RSUAM) Bandar Lampung, Senin petang itu.
Video amatir diunggah warganet dengan akun Facebook Agus Rahmat Suhada dari halaman TVTIADATARA itu juga terdengar teriakan histeris seorang perempuan yang diduga ibu pasien. “Ya Allah ya Robiii, la ilaha ilallah, Muhammadarasulullah,” kata ibu pasien, menangis meraung.
Pada Selasa siang (11/2/2020) pihak RSUAM menggelar konferensi pers terkait kasus ini. Direktur Rumah Sakit Dr. Pad Dilangga menjelaskan tentang meninggalnya pasien, dan melakukan bantahan. Bahkan balik menuduh keluarga pasien melakukan tindakan tidak terpuji dengan merusak fasilitas Rumah Sakit diruangan tersebut.
Direktur Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) Lampung Dr. Pad Dilangga menjelaskan, pasien M Rezki Meidiansori masuk ke ruang IGD, pada Minggu, 9 Februari 2020, pukul 06.36 WIB. “Pasien ini rujukan dari RSUD Bob Bazar dengan diagnosa, DHF ( Demam Berdarah), gastro enteritis akut( Diare ), Hepatitis (Infeksi Hati). Kondisi pasien sakit berat, gelisah, sesak nafas dirawat di ruang HCU (ruang rawat dengan perhatian penuh) di IGD RSUDAM,” jelasnya di RSUDAM, Selasa, 11 Februari 2020.
Menurut Pad, pihaknya sudah melakukan penatalaksanaan sesuai dengan kondisi pasien dan dikonsulkan ke Dr Riki. Lalu mendapatkan rencana terapi transfusi darah lengkap 2 kantong, transfusi trombosit 10 kantong, dan diobservasi secara ketat.
“Sekitar pukul 17.00 WIB visit Dr Riki mengatakan, kondisi pasien masih sakit berat gelisah, kontak inadekuat dan terapi dilanjutkan, pada Senin, 10 Februari 2020, pukul 03.00 WIB, pasien alih rawat keruangan Bougenvile terapi dilanjutkan terapi tranfusi dilanjutkan sesuai intruksi,” kata dia.
Lanjut Pad, kemudian dilakukan visit oleh Dr Riki di Diagnostic DHF (demam berdarah) dengan ensefalopati, sepsis ( infeksi berat) disertai Uremia dan asma Eksaserbasi. “Lalu Dr Riki melakukan edukasi kepada keluarga pasien bahwa kondisi yang bersangkutan sangat serius dan rencana akan dipindahkan keruangan rawat khusus penyakit dalam ( sesuai dengan keahlian DPJP),” ujarnya.
Ia mengatakan, sekitar pukul 16.00 WIB, pasien ditransfer keruang Nuri dengan oksigen terpasang didampingi dua petugas. Sesampai di depan kamar ruang Nuri sudah ditunggu oleh perawat untuk tatalaksana selanjutnya. “Tetapi pasien mendadak kejang dan perawat segera melakukan tindakan tetapi keluarga pasien tiba-tiba marah memegang dan memukul petugas serta mencabut selang oksigen yang masih terpasang dipasien,” terangnya.
Dia menambahkan, sehingga mengganggu proses penanganan kegawat daruratan pasien tersebut yang berakibat pasien tersebut tidak tertolong, dan pasien dinyatakan meninggal dan dibawa kerumah duka dengan menggunakan mobil jenazah RSUDAM. “Selain itu keluarga pasien melakukan tindakan tidak terpuji dengan merusak fasilitas Rumah Sakit diruangan tersebut,”katanya.
Dua Cerita Pilu di RSUAM
RSUAM Abdoel Moeloek termasuk rumah sakit yang dibanggakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) karena diklaim pelayanan pasien BPJS-nya bagus. Medio Jumat (15/11/2019) lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan inspeksi mendadak (sidak) di RSU Abdoel Moeloek (RSUAM) Bandarlampung sebelum resmikan Tol Mesuji.
Di rumah sakit milik Pemprov Lampung ini, Jokowi meninjau instalasi rawat jalan dan pemanfaatan kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Padahal, terkait BPJS Kesehatan, Presiden Jokowi menggali informasi tentang pemanfaatan dan pelayanan BPJS Kesehatan yang diterima oleh para pasien. “Saya hanya ingin memastikan apakah yang namanya Kartu BPJS itu betul-betul sudah dipegang oleh rakyat, oleh pasien, yang ada di rumah sakit. Saya cek tadi hampir 90 persen lebih memakai BPJS,” kata Presiden.
Dari penuturan pasien, Presiden memperoleh informasi bahwa proporsi kepesertaan BPJS Kesehatan yang ia temui di rumah sakit tersebut justru lebih banyak didominasi oleh peserta program BPJS Kesehatan di luar pembiayaan negara atau daerah yang berarti membayar iuran secara mandiri. Padahal, jumlah peserta BPJS Kesehatan terbesar merupakan yang berasal dari kategori Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang dibiayai oleh anggaran APBN.
Kasus pelayanan RSU Abdoel Moeloek yang menjadi sorotan publik karena dinilai mengecewakan. Pertama, kasus meninggalnya seorang pemulung karena sempat ditolak dirawat di RSU Abdoel Moeloek. Lalu kasus pasien balita warga Lampung Utara yang terpaksa dibawa pulang digendong oleh ibunya karena keluarganya tidak mampu membayar uang sewa ambulans. Sang ibu membawa mayat anaknya sambil berurai air mata di dalam angkutan umum.
GPN Kecam RSUAM
DPD GPN Provinsi Lampung, Edwinata mengutuk keras kejadian tersebut dan meminta Dirut dan para kroninya mundur karena tidak becus dalam hal memperbaiki citra pelayanan RSUAM.
“Sebuah video yang menjadi viral hanya dalam tempo beberapa jam menggambarkan kepedihan keluarga pasien peserta Badan Pengelola Jaminan Kesehatan (BPJS) setelah kehilangan salah satu anggota keluarganya di RSU Abdoel Moeloek (RSUAM) Bandarlampung, Senin petang sekitar pukul 15.00 WIB (10/2/2020),” kata Edwinata.
Menurutnya bahwa pelayanan RSUAM ini bukan rahasia lagi kalau pelayanan disana sangat buruk. Sudah ada beberapa kejadian yang telah terjadi RSUAM. “Padahal RSUAM tahun kemaren sempat dipuji oleh presiden terkait masalah pelayanan yang baik,” katanya.
“Tapi ini berbanding terbalik dengan kenyataannya. Kita harus jujur mengatakan kalau pelayanan RSUAM ini sangat buruk. Apa lagi kalau yang berobat itu pasien yang menggunakan BPJS. Sudah banyak bukti koq kalau pelayanan dan prasarana untuk peserta BPJS kelas 3 ini sangat tidak manusiawi,” katanya. (Juniardi/Red)