
Nusa Tenggara Barat (SL)-Gempa pertama sebesar 6,4 skala richter (SR) terjadi pada Minggu siang (19/8), disusul gempa lebih dahsyat sebesar 7,0 SR yang meluluhlantakkan pulau Lombok pada Minggu berikutnya (5/8). Masih di hari Minggu juga (19/8), gempa 6,9 SR semakin hancurkan pulau seribu masjid itu, teras hingga pulau Sumbawa.
“Hingga hari Rabu 922/8), tercatat 555 orang telah meninggal dunia. Sebanyak 76.765 rumah rusak, 402.529 orang jadi pengungsi. Rusak juga 1.229 fasilitas umum dan tempat ibadah,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, H Mohammad Rum yang juga Wakil Komandan Satgas Penanganan Darurat Bencana (PDB) gempa Lombok, Rabu (22/8).
Kondisi Kabupaten Lombok Utara (KLU) sangat mengenaskan. Daerah pariwisata yang mengandalkan keindahan gili dan alamnya itu kini hancur. Jumlah korban meninggal dunia saja sebanyak 466 orang. Kemudian 829 orang luka-luka, 23.098 rumah rusak dan 178.122 orang di KLU jadi pengungsi hingga saat ini.
Kemudian di Lombok Barat yang juga daerah pariwisata, korban meninggal sebanyak 40 orang. Kemudian 399 orang mengalami luka-luka, 37.285 rumah rusak dan 116.453 orang menjadi pengungsi. Selanjutnya di Lombok Timur ada 31 orang telah meninggal dunia akibat gempa. Sebanyak 122 orang terluka, 7.280 rumah mengalami kerusakan. Sedangkan jumlah pengungsi mencapai 104.060 orang.
Berikutnya di Kota Mataram ada 9 orang meninggal dunia. 63 orang luka-luka, 2.060 rumah rusak dan 18.894 orang mengungsi. Kemudian di Lombok Tengah, masih 2 orang meninggal dunia. “Tapi di Loteng, ada 4.629 rumah rusak, 13.887 orang mengungsi. Yang luka-luka ada 3 orang,” kata Rum.
Korban jiwa juga ada di Kabupaten Sumbawa sebanyak 5 orang. Bahkan 105 mengalami kerusakan akibat gempa tanggal 19 Agustus. Belum lagi korban luka-luka dan mengungsi. Untuk Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), ada juga 2 orang meninggal dunia. Sebanyak 60 orang terluka, 6.131 rumah hancur dan banyak mengungsi.
Disampaikan Rum, upaya penanganan terbaik terus dilakukan. Saat ini puing-puing rumah dan bangunan mulai dibersihkan. “Kemudian menyalurkan logistik, pembuatan MCK, penyaluran air bersih, bangun sekolah darurat dan lain sebagainya,” sebut Rum.
Terpisah, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengakui masih ada kekurangan dalam penanganan paska bencana. Namun hal itu terus diupayakan teratasi.
Ada satu hal yang menjadi catatan Sutopo. Sepanjang kariernya menangani bencana, sangat aneh dialami di Lombok. “Saya baru sekali menangani bencana besar yang terlalu banyak hoaks dan informasi-informasi bohong di sosmed. Ini juga mengganggu penanganan di lapangan,” ungkapnya. (nt/jun)