
Lampung Timur, sinarlampung.co – Warga Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono, Kabupaten Lampung Timur, menghimpun dana swadaya yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp15 miliar untuk memperbaiki jalan desa. Besarnya dana yang dikumpulkan secara mandiri ini menunjukkan kuatnya semangat gotong royong warga dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur di wilayah mereka.
Dana tersebut berasal dari iuran masyarakat yang besarnya disesuaikan dengan wilayah masing-masing, mulai dari kawasan pekarangan hingga titik perempatan jalan.
Salah seorang warga Bandar Agung, Paryanto, mengatakan, pembiayaan perbaikan jalan berasal dari kontribusi sukarela masyarakat.
“Dari swadaya masyarakat, ikhlas iuran sendiri,” ujar Paryanto, Jumat (16/10/2026).
Menurutnya, perbaikan dilakukan untuk mengatasi kondisi jalan yang sebelumnya masih berbatu dan dinilai kurang memadai untuk menunjang mobilitas warga.
Biaya Satu Perempatan Diperkirakan Rp1 Miliar
Paryanto menjelaskan, biaya pembangunan dihitung berdasarkan kebutuhan pengerjaan di setiap titik. Salah satunya, biaya perbaikan jalan di setiap perempatan yang diperkirakan mencapai Rp1 miliar.
“Satu perempatan itu kalau satu perempatan ya sekitar Rp1 miliar lah, diperinci, kurang lebihnya,” ungkapnya.
Dalam satu jalur utama, terdapat sedikitnya delapan titik perempatan yang dikerjakan secara bertahap. Jika menggunakan estimasi Rp1 miliar per titik, kebutuhan biaya untuk delapan perempatan tersebut secara hitungan kasar mencapai Rp8 miliar.
Namun, angka tersebut merupakan perkiraan berdasarkan keterangan narasumber, bukan nilai realisasi biaya yang telah diverifikasi. Sementara itu, total dana swadaya yang disebutkan warga mencakup pembangunan jalan di wilayah desa yang lebih luas.
Mencakup 27 Kebayanan
Perbaikan jalan tidak hanya dilakukan di satu lokasi. Menurut Paryanto, kegiatan tersebut mencakup wilayah Desa Bandar Agung yang terdiri dari sekitar 27 kebayanan.
Jika kontribusi masyarakat dari seluruh wilayah itu dihitung, total dana swadaya diperkirakan mencapai lebih dari Rp15 miliar.
“Ya, kurang lebihnya Rp15 miliar lebih,” kata Paryanto.
Besarnya dana yang dihimpun membuat Paryanto mengaku bangga terhadap partisipasi masyarakat. Warga, kata dia, rela mengeluarkan biaya sendiri agar jalan yang mereka gunakan sehari-hari menjadi lebih baik.
“Perasaannya ya senang, bangga kita. Kita mengeluarkan biaya sendiri, kita banggalah,” tuturnya.
Upaya warga Bandar Agung ini memperlihatkan besarnya peran gotong royong dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur dasar. Di tengah kebutuhan ekonomi rumah tangga, masyarakat bersedia menyisihkan sebagian penghasilan untuk membiayai perbaikan jalan yang dinilai penting bagi aktivitas sehari-hari dan pergerakan ekonomi setempat.
Namun, besarnya dana swadaya yang dihimpun juga memunculkan pertanyaan mengenai pemenuhan kebutuhan infrastruktur dasar di desa. Ketika masyarakat harus mengumpulkan dana dalam jumlah besar untuk memperbaiki jalan secara mandiri, perhatian pemerintah terhadap kondisi jalan desa dan dukungan anggaran pembangunan menjadi hal yang perlu ditelusuri lebih lanjut. (Afandi)