
Lampung Timur, sinarlampung.co – Harapan untuk menikmati aliran listrik yang aman dan layak masih menjadi penantian panjang bagi puluhan keluarga di Dusun I RT IV, Desa Braja Dewa, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur.
Selama puluhan tahun, warga di wilayah yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan “Klampis Ireng” mengaku belum mendapatkan fasilitas jaringan listrik yang memadai. Tiang listrik resmi yang memenuhi standar PLN belum masuk ke permukiman, dengan terpaksa, warga harus mencari solusi sendiri supaya rumah mereka tetap bisa mendapatkan aliran listrik.
Kondisi yang dialami sebagian warga desa Braja Dewa tersebut tentu sangat memprihatinkan. Di tengah semangat PLN dengan slogan “Listrik untuk Kehidupan yang Lebih Baik” tapi justru menjai sebuah anomali bagi sebagian warga desa Braja Dewa. Sambungan kabel dan tiang darurat yang dibuat secara swadaya,menjadi kenyataannpahit yang harus rela ditelahselama puluhan tahun.
“Sejak tahun 90 an Pak, tiang listrik PLN belum masuk. Kabel jaringan ini inisiatif dari warga RT kita sendiri,” ujar Solihin, Selasa (29/8/2026).
Dengan nada tegas, Solihin menjelaskan keinginan warga untuk bisa segera mendapatkan penerangan yang memadai dengan terpenuhi nya fasilitas penupang berupa tiang, kabel dan gardu yang sesuai standar.
Keinginan kuat tersebut mendorong warga berinisiatif untuk mengumpulkan iuran secara kolektif, hasil iuran yang terkumpul, kemudian dioergunakan untuk membangun jaringan listrik seadanya secara mandiri. Bentangan kabel tidak beraturan kemudian menjadi pemandangan di sepanjang jalan menuju atap -atap rumah warga.
“Kabel ini dulu hasil patungan, saking kepinginnya hidup terang kan,” Solihin menegaskan.
Jaringan listrik hasil patungan kolektif tersebut terlihat jauh dari kata layak dan sesuai standar, Jaringan kabel ditopang menggunakan batang – batang bambu. Bahkan, dibeberapa titik pohon hidup digunakan sebagai tiang penyangga. Sebuah kondisi yang sungguh ironis ditenagh derasnya kemajuan dunai digital.
Kehawatiran akan standar keselamatan menyelimuti warga desa, tiang bambu yang mudah roboh, menjadi salah satu kehawatiran akan jaminan keamanan dan keselamatan. Terlebih, terpaan angin kencang ketika memasuki musim penghujan menambah resiko terjadinya korsleting listrik.
“Ya berbahaya. Tiang dari bambu itu mudah rapuh. Terus kabel yang memakai pohon sebagai tiangnya juga khawatir roboh. Kalau sudah roboh, ya mati listrik semua,” jelas Solihin.
Tegangan Listrik Rendah, Aktivitas Warga Ikut Terganggu
Persoalan warga bukan sekedar jaringan kabel dan tiang listrik ang tidak memenuhi standar. Kualitas asokan listrik yang sampai ke rumah warga pun disebut tidak stabil dengan tegangan yang rendah.
Kondisi tersebut mengakibatkan penggunaan peralatan elektronik menjadi tidak optimal dan pencahayaan lampu menjadi redup, terlebih pada saat puncak beban penggunaan pada malam hari.
Bagi warga, kebutuhan listrik bukan hanya sekadar kebutuhan penerangan. Pasokan listrik yang aman dan memadai, akan berimplememtasi terhadap peningkatan keamanan, pendidikan dan perekonomian.
Hingga kini, warga menanti asa untuk dapat mendapatkan jaringan listrik yang stabil dan memadai, tiang darurat berganti menjadi tiang yang sesuai standar. Asa warga tersebut menjadi sebuah penantian tanpa kepastian.
Puluhan KK Menunggu Jaringan Listrik Layak
Sediktnya, 30 Kepala Keluarga (KK) berharap tidak lagi harus selalu merasa was – was dengan mempertaruhkan keselamatan dibawah jaringan dan tiang listrik yangbtidaknseauai standar.
Mewakili warga, Solihin berharap, pemerintah desa dan instansi terkait dapat memberikan perhatian serius atas kondisi yang mereka alami sehingga dapat menghadirkan solusi konkret.
Bagi puluhan warga di dusun Klampis Ireng,adanya tiang listrik yang sesuai standar, bukan sekadar pembangunan infrastruktur. Tetapi juga merupakan sebuah simbol, bahwa mereka juga berhak mendapatkan fasilitas dasar yang aman dan layak.
Kini, warga berharap. Penantian panjang yang mereka lewati, tidak hanya berujung pada janji, tetapi,menjadi sebuah wujud nyata. Sehingga mereka dapat menikmati penerangan yang aman dan memadai. (Afandi)