
Kota Metro, sinarlampung.co – Warga RT 25, RW 10, Kelurahan Hadimulyo Timur, Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro, bergotong royong memperbaiki jalan di lingkungannya, tepatnya di ruas Mekarsari, Senin (4/5/2026).
Aksi serupa sebelumnya juga dilakukan warga RT 27A, RW 10, yang lebih dulu memperbaiki jalan rusak secara swadaya. Inisiatif ini muncul sebagai bentuk kekecewaan warga RT 25 terhadap Pemerintah Kota Metro yang dinilai abai terhadap kerusakan infrastruktur di wilayah mereka.
Toyib (60), salah satu warga sekaligus mantan Ketua RW, mengatakan perbaikan jalan yang sudah lama rusak itu murni menggunakan dana swadaya masyarakat tanpa campur tangan pemerintah.
“Kami masyarakat terus melakukan gotong-royong untuk memperbaiki jalan di lingkungan kami yang sudah lama rusak dengan cara menggunakan dana swadaya, tidak menggunakan dana dari pemerintah,” ujarnya kepada sinarlampung.co di lokasi gotong royong, Senin (4/5/2026).
Toyib menambahkan, warga sebenarnya sudah berulang kali mengajukan perbaikan jalan melalui Musrenbang sejak dirinya masih menjabat sebagai RW. Namun, hingga kini usulan tersebut belum juga direalisasikan.
“Maka itu kami mengambil inisiatif untuk melakukan perbaikan sendiri bersama dengan masyarakat dengan cara swadaya,” ucapnya.
Menurut Toyib, jalan yang diperbaiki memiliki panjang sekitar 30 meter dan lebar 5 meter, dengan estimasi biaya sekitar Rp35 juta yang dihimpun dari lima RT di RW 10.
“Ini aja kami cor blog sekitar 30 meter panjang lebar 5 meter kami perkirakan menelan biaya sekitar 35 juta rupiah ini murni swadaya masyarakat dari lima RT,” ucap Toyib.
Ia juga menjelaskan, Jalan Mekarsari merupakan akses utama masyarakat menuju pasar, terutama bagi para pedagang.
“Sehingga kalau jalan ini rusak, masyarakat yang melintas, jelas merasa tidak nyaman,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Ketua Pemuda Sinergi Kampung (KPSK), Sopian Hasan (45). Ia menilai perbaikan jalan tersebut sangat penting karena selain menjadi akses vital, kondisi jalan juga rawan menyebabkan kecelakaan.
“Jalan ini rawan kecelakaan, makanya harus diperbaiki apalagi diujungnya ada turunan,” ucapnya.
Sopian mengapresiasi kekompakan warga yang memperbaiki jalan secara mandiri, yang menurutnya masih menjunjung tinggi nilai kebersamaan.
“Kami juga bersyukur, masyarakat yang rela mengeluarkan uang dari kantong masing-masing untuk perbaikan jalan,” imbuhnya.
Ia juga menyinggung persoalan lain yang dihadapi warga, yakni banjir yang kerap terjadi saat hujan turun. Menurutnya, persoalan jalan rusak dan banjir sama-sama membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.
“Bukan hanya persoalan jalan saja yang menjadi momok masyarakat akibat rusak tetapi persoalan banjir juga perlu di perhatikan. Padahal RW/RT sudah mengajukan ke pemerintah melalui Musrenbang tetapi nyatanya belum juga tersentuh untuk melakukan perbaikan jalan atau pun banjir yang kerap menjadi momok warga setiap hujan turun,” pungkasnya. (Tabrani)