
Papua, sinarlampung.co – Situasi keamanan di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, mencekam setelah insiden berdarah yang merenggut nyawa satu anggota Polri dan lima warga sipil. Tragedi ini bermula dari penemuan jasad anggota Satbinmas Polres Dogiyai yang memicu operasi penyisiran oleh aparat keamanan, Selasa 31 Maret 2026.
Ketegangan bermula saat jasad Bripda JE ditemukan dengan luka bacok di leher tepat di depan Gereja Ebenhaezer (GKI), Jalan Trans Papua Km 200, Moanemani, sekitar pukul 08.22 WIT. Bripda JE sebelumnya diketahui baru saja menyelesaikan tugas piket malam di pos penjagaan.
Pihak kepolisian menduga korban dieksekusi di lokasi lain sebelum jasadnya diletakkan di depan gereja. Namun, intelektual lokal, Simion Petrus Pekei, menyebut lokasi penemuan adalah area ramai, sehingga pelaku seharusnya dapat dideteksi jika prosedur olah TKP dilakukan secara tepat.
Pasca-penemuan jasad rekan mereka, personel kepolisian diduga melakukan operasi penyisiran secara emosional tanpa melalui prosedur olah TKP terlebih dahulu. Tembakan dilepaskan ke arah pemukiman warga hingga masuk ke dalam rumah-rumah.
Aksi tersebut mengakibatkan 8 warga sipil tertembak, dengan rincian 5 orang tewas di tempat dan 3 lainnya luka kritis. Berikut identitas korban tewas:
Yulita (Ester) Pigai (80): Lansia penderita lumpuh, tewas ditembak di dalam rumahnya.
Martinus Yobe (14): Anak di bawah umur, tewas dengan luka tembak di bagian perut.
Siprianus Tibakoto (25): Tewas dengan luka tembak di kepala.
Ankian Edowai (19): Tewas dengan luka tembak di kepala.
Feri Auwe (20): Tewas terkena tembakan.
Dua korban lainnya, termasuk anak berusia 12 tahun (Maikel Waine), saat ini dalam kondisi kritis dan sedang menjalani perawatan medis intensif.
Tuntutan Masyarakat kepada Kapolda
Koalisi Masyarakat Dogiyai telah bertemu dengan Kapolda Papua Tengah pada Kamis (2/4/2026) untuk menyampaikan empat tuntutan utama:
Copot Kapolres Dogiyai: Mendesak pencopotan Kompol Yocbeth Mince Mayor karena dinilai gagal menjaga kamtibmas dan tidak profesional dalam menangani kasus.
Investigasi Transparan: Meminta pengungkapan pelaku pembunuhan Bripda JE sekaligus pelaku penembakan terhadap 8 warga sipil secara transparan dan sesuai prosedur hukum.
Kehadiran Pemerintah: Meminta Pemprov Papua Tengah turun langsung memastikan kondisi keamanan warga.
Moratorium Pasukan: Memohon agar tidak ada penambahan pasukan ke Dogiyai selama masa perayaan Paskah (3-7 April 2026) demi menjaga kekhusyukan ibadah.
Koordinator Akar Rumput Dogiyai, Benny Goo, menyatakan bahwa masyarakat dan TNI-Polri telah sepakat untuk saling menahan diri guna menghormati hari raya Paskah. Meski demikian, Tim Pencari Fakta Independen dipastikan akan tetap bekerja untuk mengusut tuntas pelanggaran HAM yang diduga terjadi dalam insiden ini. (Red)