
Kota Metro, sinarlampung.co – Senja di Gang Subur, RW 5, Kelurahan Hadimulyo Barat, Kecamatan Metro Barat, terasa lebih pekat dari biasanya pada Rabu 1 April 2026. Di depan sebuah rumah sederhana di Jalan Imam Bonjol, orang-orang tampak berdiri dengan raut cemas. Kursi-kursi plastik dikeluarkan ke halaman, namun rumah itu sendiri tetap sunyi—sang pemilik sedang bertaruh nasib di pesisir Bandar Lampung.
Tragedi Wisata Wira Garden: Dua Mahasiswi Unila Hilang Terseret Banjir Bandang
Di dalam rumah itu, biasanya terdengar derap langkah Bunga Rosna (22), mahasiswi Fakultas MIPA Universitas Lampung yang dikenal ceria. Namun hari ini, rumah itu kosong. Hairul Badri (58) dan istrinya masih berada di lokasi wisata Wira Garden, memandangi arus Sungai Batu Putuk yang mendadak berubah menjadi monster yang merenggut putri mereka.
Petaka di Balik Lensa Kamera
Rabu siang itu seharusnya menjadi momen melepas penat yang menyenangkan. Bunga bersama tiga rekannya berangkat menuju Wira Garden di Jalan Wan Abdurahman, Kelurahan Batu Putuk, Telukbetung Selatan. Sekitar pukul 11.30 WIB, tawa mereka masih pecah saat bergantian mengambil foto di atas batu-batu sungai yang artistik.
Namun, alam punya rencana lain. Tanpa peringatan, air bandang datang menerjang. “Tiba-tiba air bandang datang menerjang mereka. Dua temannya sempat menyelamatkan diri, sementara dua lainnya—termasuk anak saya—tidak bisa menghindar dan terseret arus yang sangat deras,” tutur Hairul Badri menyalin cerita teman anaknya, dengan suara bergetar saat memberikan keterangan.
Bunga Rosna hanyut tak sendirian. Bersamanya, rekannya Fatma Wati, warga Kelurahan Indraloka Jaya, Way Kenanga, Tulang Bawang Barat, juga hilang ditelan arus cokelat yang mengamuk.
Malam yang Panjang dan Arus yang Egois
Hingga berita ini ditulis, tim SAR gabungan bersama pihak kepolisian masih berjibaku di lapangan. Lampu-lampu sorot membelah kegelapan sungai, mencoba mencari celah di antara pusaran air dan bebatuan licin. Namun, alam seolah enggan bekerja sama.
“Malam ini tim SAR masih terus mencari, tapi terkendala arus yang masih sangat dalam dan deras. Petugas mengalami kesulitan di lapangan,” tambah Hairul.
Di Metro Barat, tetangga-tetangga Bunga terus berkumpul. Di sela-sela obrolan mereka, terselip doa agar mahasiswi MIPA itu segera ditemukan dalam kondisi selamat. Mereka masih menanti ponsel di tangan Hairul berdering membawa kabar baik, agar rumah di Gang Subur itu tak lagi kosong dan penuh kecemasan.
Bagi Hairul dan keluarga korban lainnya, malam ini bukan hanya soal pencarian fisik di sungai, melainkan sebuah ujian kesabaran yang luar biasa panjang di bawah guyuran sisa hujan yang menyisakan duka. (Tabrani)