
Tulang Bawang Barat, sinarlampung.co – Kesabaran warga Tiyuh Penumangan dan Penumangan Baru tampaknya sudah berada di batasnya. Setelah berulang kali diberitakan dan dikeluhkan, akses penghubung antarwilayah itu kini benar-benar lumpuh total. Jembatan kayu seadanya yang selama ini menjadi satu-satunya penghubung, akhirnya ambruk dan tak lagi bisa dilalui.
Derasnya arus sungai akibat curah hujan tinggi disebut menjadi penyebab utama putusnya jembatan tersebut. Namun bagi warga, ini bukan sekadar bencana alam melainkan bukti nyata kelalaian yang dibiarkan berlarut-larut.
“Ini bukan baru terjadi. Sudah lama kami keluhkan, tapi seolah tidak pernah dianggap serius,” ujar Andi, salah satu warga setempat dengan nada kesal, Rabu (25/3/2026).
Kondisi ini membuat aktivitas warga menjadi terganggu yang sebelumnya bisa mempersingkat waktu namun sekarang harus jauh memutar ke jalan lainnya. Ironisnya di tengah kondisi yang semakin parah, warga menilai Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat justru terkesan diam tanpa langkah konkret.
“Kalau sudah seperti ini, siapa yang bertanggung jawab? Jangan tunggu ada korban dulu baru bergerak,” tambah Andi.
Pemerintah daerah dan Pemerintah tiyuh setempat dinilai gagal menjalankan tanggung jawab dasar dalam menyediakan infrastruktur yang layak. Jembatan yang selama ini digunakan bahkan disebut hanya dibangun dari material kayu sederhana tanpa standar keamanan yang memadai.
Kini masyarakat mendesak agar Pemerintah Tiyuh Penumangan, Penumangan Baru, serta Pemkab Tulang Bawang Barat segera turun tangan. Mereka menuntut pembangunan jembatan permanen yang aman dan layak, bukan sekadar solusi tambal sulam yang berujung pada masalah yang sama di kemudian hari.
“Jangan hanya datang saat kampanye atau seremonial. Kami butuh bukti nyata, bukan janji,” tutup andi.
Jika kondisi ini terus diabaikan, bukan tidak mungkin kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah akan semakin terkikis. Bagi warga, akses jalan bukan sekadar fasilitas melainkan urat nadi kehidupan yang kini telah terputus. (Dirman)