
Bakauheni, sinarlampung.co– Sejumlah sopir pengangkut buah pisang mengeluhkan sulitnya menyeberang dari Pelabuhan Bakauheni menuju Pulau Jawa melalui Pelabuhan Bakauheni Bandar Jaya (BBJ), Lampung Selatan. Para sopir mengaku tertahan hingga satu malam yang mengakibatkan muatan buah membusuk dan rugi puluhan juta rupiah.
Antoni, salah satu sopir mobil L300, mengungkapkan kekecewaannya lantaran kendaraan jenis pikap miliknya dilarang menyeberang, sementara kendaraan jenis Colt Diesel diperbolehkan.
”Sudah satu malam tertahan, pisang ya rusak pak. Untuk menyiasatinya, kami harus bongkar muat lagi ke mobil Colt Diesel karena mobil kecil tidak bisa menyeberang,” keluh Antoni, Selasa 24 Maret 2026.
Antoni menyebut kerugian yang dialami mencapai puluhan juta rupiah, mencakup kerusakan buah hingga biaya tambahan sewa kuli dan kendaraan pengganti. Ia mengaku heran karena pada tahun-tahun sebelumnya kendaraannya tidak pernah mengalami kendala serupa.
Senada dengan Antoni, Yusuf, sopir pikap asal Riau tujuan Jakarta, mengaku telah mencoba tiga titik penyeberangan yakni ASDP, BBJ, dan PT SMA, namun semuanya menolak kendaraan jenis pikap tanpa alasan yang jelas.
”Sangat merugikan, apalagi saya mau pulang ke Jawa. Tidak ada kejelasan dari petugas di lokasi,” kritik Yusuf.
Bantahan KSOP Kelas IV Bakauheni
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Bakauheni, Suratno, membantah adanya antrean hingga 24 jam bagi pengangkut komoditas buah.
”Setahu saya tidak ada yang sampai 24 jam, menyentuh 12 jam pun tidak. Pisang itu kendaraan prioritas, jadi kami tempatkan khusus,” ujar Suratno saat dikonfirmasi.
Terkait klaim kerusakan muatan, Suratno meragukan laporan tersebut. Menurutnya, pihak otoritas tidak melihat adanya bukti fisik buah yang busuk di area pelabuhan sebagaimana yang dikeluhkan para sopir.
”Agak sulit kami membenarkan itu karena barangnya tidak kami lihat. Di foto (laporan) juga hanya memperlihatkan orangnya, bukan fisik barangnya. Jadi kami klarifikasi bahwa kejadian (buah busuk) itu tidak ada,” tegasnya.
Suratno pun menyarankan agar pihak pengelola Pelabuhan BBJ memberikan klarifikasi lebih lanjut mengenai operasional di lapangan, mengingat seluruh aktivitas pelabuhan dipantau langsung oleh Media Center Kementerian Perhubungan Pusat. (Red/*)