
BANDAR LAMPUNG, sinarlampung.co – Jarum jam baru menunjukkan pukul 11.30 WIB, namun aspal di Pelabuhan Panjang seolah sedang membara. Senin, 9 Maret 2026, cuaca Lampung sedang tidak berkompromi. Matahari tegak lurus, mengirimkan gelombang panas yang membuat udara tampak bergetar di atas hamparan beton pelabuhan yang gersang.
Bagi saya, berjalan beberapa ratus meter dari gerbang masuk menuju dermaga terasa seperti perjalanan melintasi padang pasir. Tenggorokan terasa seperti kertas amplas—kering dan menyengat.
Di balik kemeja tipis ini, lambung mulai bergemuruh, melilit perih menahan lapar di jam-jam krusial ibadah puasa. Rasanya ingin segera menyerah pada bayang-bayang peneduh.
Namun, pemandangan di depan dermaga seketika membungkam keluhan saya.
Di tengah kepulan debu putih dan deru mesin kapal, ratusan kuli panggul bergerak seperti mesin yang tak kenal lelah. Mereka bertelanjang dada, membiarkan kulit mereka legam dipanggang matahari. Punggung-punggung perkasa itu basah kuyup oleh peluh yang bercampur dengan debu tepung.
Satu per satu, mereka memanggul karung-karung berisi tiga hingga lima karung tepung seberat 50 kilogram. Jalurnya tidak main-main: dari perut kapal, melintasi jembatan sempit, naik ke bak truk, hingga akhirnya diturunkan kembali di dalam gudang yang pengap.
”Haus itu pasti, Mas. Tapi kalau berhenti, dapur di rumah tidak ngepul,” ujar salah satu pekerja singkat, sambil menyeka keringat dengan handuk kumal sebelum kembali memanggul karung berikutnya.
Iman dalam Beban Berat
Yang membuat hati mencelos adalah kenyataan bahwa mayoritas dari mereka tetap menjalankan ibadah puasa. Di saat saya merasa “tersiksa” hanya karena berjalan kaki di bawah terik, para pria ini justru melakukan kerja fisik ekstrem dengan perut kosong.
Tidak ada keluhan. Tidak ada wajah merengut. Mereka melakukan sinkronisasi antara kekuatan otot dan keteguhan iman. Bagi mereka, puasa bukan alasan untuk memangkas produktivitas, melainkan sebuah ujian martabat sebagai kepala keluarga.
Sebuah Cermin Diri
Melihat hilir mudik para kuli panggul ini seperti sedang menatap cermin yang jujur. Seringkali, kita yang bekerja di ruangan ber-AC atau sekadar berjalan kaki sebentar sudah merasa menjadi “pahlawan” karena berhasil menahan lapar. Kita merasa puasa kita begitu berat hanya karena melewatkan makan siang.
Nyatanya, tingkat kesulitan puasa kita tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Di Pelabuhan Panjang siang ini, saya belajar bahwa rasa lapar dan haus hanyalah masalah perspektif.
Saat kaki ini melangkah meninggalkan dermaga, rasa haus yang tadi menyiksa tenggorokan perlahan memudar, digantikan oleh rasa malu yang mendalam.
Ternyata, pengorbanan kita selama Ramadan seringkali hanyalah butiran debu dibandingkan ketangguhan mereka yang menjemput rezeki di bawah sengatan matahari. (Juniardi)