
Lampung Tengah, sinarlampung.co – Manajemen Tol Bakauheni-Terbanggi Besar (Bakter) bergerak cepat menindaklanjuti laporan dugaan pelemparan batu terhadap kendaraan yang melintas, Jumat (27/2/2026) sekitar pukul 23.00 WIB. Kurang dari 1×24 jam, tim pengamanan bersama personel BKO dari Korem 043/Garuda Hitam berhasil mengidentifikasi dan mengamankan sejumlah remaja yang diduga terlibat.
Dari hasil observasi di titik yang dicurigai, petugas mendapati sekelompok remaja berada di atas jembatan penyeberangan orang (JPO). Tak lama kemudian terdengar benda keras dijatuhkan ke arah badan jalan tol. Petugas langsung melakukan pengejaran dan mengamankan dua orang untuk pengembangan lebih lanjut.
Hasil pendalaman mengungkap sekitar 10 remaja diduga terlibat. Seluruhnya masih berstatus pelajar dan masuk kategori usia remaja. Atas pertimbangan itu, pengelola tol memilih pendekatan pembinaan dengan melibatkan orang tua.
Manager Public Affairs PT Hakaaston Ruas Bakter, M. Alkautsar, menegaskan keselamatan dan keamanan pengguna jalan menjadi prioritas utama. Namun, dalam kasus yang melibatkan anak-anak, pendekatan edukatif dinilai lebih tepat.
“Karena semuanya masih berstatus pelajar, kami memanggil dan menghadirkan orang tua untuk bersama-sama melakukan pembinaan. Kami berikan edukasi mengenai risiko dan dampak hukum dari tindakan tersebut, serta membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya. Kami ingin mereka memahami bahwa apa yang dilakukan sangat membahayakan bagi pengguna jalan dan mencoreng citra wilayah di sektor keamanan,” ujar Alkautsar.
Sebagai bagian dari pendekatan restoratif, para remaja itu diberi predikat simbolis sebagai Pelopor Keselamatan dan Keamanan Jalan Tol di lingkungan sekitarnya. Predikat tersebut diharapkan menjadi pengingat sekaligus tanggung jawab moral agar mereka tidak mengulangi perbuatan serupa.
“Anak-anak ini bukan untuk diberi stigma, tetapi untuk diarahkan. Kami ingin mereka menjadi agen perubahan di lingkungannya. Jika sebelumnya mereka berada di titik yang berpotensi membahayakan, maka ke depan mereka harus menjadi yang terdepan dalam menjaga keselamatan dan keamanan jalan tol,” tambahnya.
Manajemen tol juga mengajak masyarakat sekitar ikut berperan aktif menjaga keamanan ruas jalan bebas hambatan itu. Menurut Alkautsar, tol bukan sekadar infrastruktur penghubung antarwilayah, melainkan ruang publik yang manfaatnya kembali kepada masyarakat.
Sementara itu, salah satu perwakilan orang tua menyampaikan permohonan maaf dan apresiasi atas langkah pembinaan tersebut.
“Kami sangat menyesal dan tidak menyangka kejadian ini terjadi. Kami berterima kasih karena anak kami diberi kesempatan untuk dibina dan diarahkan. Kami berkomitmen melakukan pengawasan lebih ketat agar hal serupa tidak terulang,” ujarnya.
Pendekatan edukatif ini diharapkan menjadi momentum pembelajaran bersama, sekaligus memperkuat sinergi antara pengelola, aparat, dan masyarakat dalam menjaga keselamatan pengguna jalan di Tol Bakter. (*)