
Ramadhan di Lampung bukan sekadar urusan menahan lapar dan dahaga. Bagi jajaran Pemerintah Provinsi, bulan suci ini juga menjadi momentum turun gunung melalui agenda Safari Ramadhan yang rutin digelar.
Namun, jika kita melihat lebih jeli pada rangkaian perjalanan di awal 1447 Hijriah ini, terasa ada sesuatu yang berbeda. Safari kali ini bukan lagi sekadar silaturahmi formal atau seremonial bagi-bagi takjil, melainkan sebuah gerilya kebijakan yang membawa “buah” nyata bagi masyarakat melalui intervensi yang lebih terukur.
Hingga penghujung Februari 2026, jejak Safari Ramadhan telah melintasi Lampung Tengah, Pringsewu, Tanggamus, Metro, Bandar Lampung, hingga menjangkau Pesawaran, Tulangbawang Barat, Lampung Barat, dan Pesisir Barat. Rangkaian kunjungan itu membentuk peta kehadiran pemerintah yang tidak lagi terkonsentrasi di wilayah perkotaan saja, tetapi mulai menyentuh kawasan pesisir dan pedalaman.
Di balik perjalanan fisik tersebut, terdapat tiga lapis kemanfaatan yang dibawa, yakni intervensi sosial, stabilitas ekonomi, dan janji pembangunan struktural.
Dimulai dari berbagai daerah, kita disuguhi sisi humanis pemerintahan melalui bantuan untuk anak yatim dan hibah rumah ibadah. Di Pesawaran, pemerintah menyalurkan hibah Rp30 juta untuk Masjid Al Ikhlas, bantuan Rp10 juta dari pemerintah kabupaten untuk Masjid Nurul Islah, paket sembako bagi kaum dhuafa, serta santunan untuk 50 anak yatim piatu.
Jejak serupa juga terlihat di Pesisir Barat. Di Masjid Al-Muhajirin, Kecamatan Ngambur, pemerintah menyalurkan tali asih bagi 50 anak yatim serta bantuan Rp30 juta untuk penguatan sarana ibadah dan kegiatan keagamaan masyarakat.
Sementara di Lampung Barat dan Tulangbawang Barat, Safari Ramadhan menghadirkan pola yang sama berupa bantuan rumah ibadah dan santunan anak yatim yang menjadi wajah paling konkret dari kehadiran pemerintah di tengah masyarakat.
Meski angka-angka bantuan tersebut terlihat kecil dalam skala APBD, secara sosiologis ia berfungsi sebagai instrumen “perekat”. Kehadiran pemimpin di tengah saf salat yang sama dengan rakyatnya membangun legitimasi sosial yang tidak bisa dibeli dengan baliho, sebuah pesan kuat bahwa pemerintah hadir dan mendengar langsung kegelisahan warganya.
Sejalan dengan penguatan aspek sosial tersebut, pemerintah juga bergerak cepat meredam potensi gejolak ekonomi yang biasa terjadi di bulan suci.
Saat memasuki wilayah Tanggamus, “buah” Safari Ramadhan hadir dalam wujud konkret pasar murah bersubsidi.
Kita semua memahami bahwa Ramadhan sering kali diikuti dengan “demam” harga pangan yang mencekik daya beli. Dengan memberikan subsidi langsung pada komoditas pokok, pemerintah sebenarnya sedang melakukan intervensi psikologis pasar.
Bagi seorang ibu rumah tangga, selisih harga beras atau minyak goreng bukan sekadar angka statistik dalam laporan inflasi, melainkan napas bagi keberlangsungan dapur mereka. Inilah dampak ekonomi jangka pendek yang paling cepat dirasakan dan sangat krusial bagi stabilitas daerah.
Namun, yang paling mencuri perhatian dalam rangkaian perjalanan kali ini adalah pernyataan kebijakan strategis saat rombongan tiba di Lampung Tengah.
Alokasi anggaran sekitar Rp300 miliar untuk perbaikan jalan provinsi pada Tahun Anggaran 2026 menjadi titik kulminasi dari Safari Ramadhan tahun ini. Komitmen ini menegaskan bahwa jalan bukan sekadar aspal, melainkan urat nadi ekonomi yang menentukan harga diri komoditas lokal.
Bagi petani singkong atau tebu di Lampung Tengah, jalan yang mantap berarti penurunan biaya angkut dan peningkatan daya saing hasil panen. Jika komitmen ini terealisasi sesuai rencana, maka Safari Ramadhan tahun ini akan dikenang sebagai tonggak transformasi infrastruktur yang melampaui seremoni penutupannya.
Tentu saja, segala capaian dan janji manis tersebut tidak boleh membuat kita terpukau hanya pada angka di atas kertas. “Buah” yang sedang tumbuh ini hanya bisa dinikmati jika dirawat hingga matang melalui pengawasan yang ketat.
Publik kini memegang janji tersebut, di mana transparansi realisasi anggaran Rp300 miliar serta pemerataan pasar murah hingga ke titik-titik terpencil menjadi tantangan nyata bagi pemerintah provinsi ke depan. Keberhasilan agenda ini akan sangat bergantung pada sejauh mana komitmen yang diucapkan di mimbar-mimbar masjid selaras dengan eksekusi di meja-meja birokrasi.
Pada akhirnya, Safari Ramadhan tahun ini menunjukkan pergeseran paradigma yang positif. Ia telah bermutasi dari sekadar tradisi tahunan menjadi sebuah “Forum Kebijakan Bergerak”, sebuah langkah di mana doa-doa di rumah ibadah bersambut dengan kebijakan nyata di meja kerja pemerintahan.
Harapannya, “buah” pembangunan ini benar-benar matang dengan sempurna sehingga kemanfaatannya dapat dicicipi secara adil oleh seluruh rakyat Lampung, dari pesisir hingga pedalaman. (Redaksi)