
Oleh: Juniardi
Dalam tatanan sosial kita, sering kali muncul fenomena paradoks: seseorang bisa bersikap sangat dermawan dan santun kepada orang asing, namun menjadi sangat perhitungan dan tajam lisannya kepada saudara kandung sendiri.
Ungkapan “orang lain terasa keluarga, saudara kandung terasa musuh” bukan sekadar isapan jempol, melainkan realita pahit yang kerap berujung pada putusnya tali silaturahmi.
Retaknya hubungan persaudaraan jarang terjadi secara mendadak. Sering kali, ini adalah akumulasi dari sibling rivalry atau persaingan masa kecil yang tidak teresolusi.
Luka lama dalam memperebutkan perhatian orang tua terbawa hingga dewasa, lalu meledak saat diperhadapkan pada urusan duniawi yang lebih konkret yaitu Harta Warisan.
Di titik ini, adab sering kali luntur. Atas nama “darah daging sendiri”, seseorang merasa legal untuk berbicara tanpa filter, meremehkan privasi, hingga membuka aib saudara di ruang publik atau grup percakapan keluarga.
Peran Ipar dan Dominasi Pihak Luar
Masuknya orang baru dalam lingkaran inti persaudaraan melalui pernikahan membawa dinamika tersendiri. Ipar bisa menjadi perekat, namun tak jarang menjadi “provokator tak terlihat”.
Intervensi yang terlalu jauh dalam urusan internal saudara kandung, atau sikap protektif pasangan yang berlebihan, perlahan tapi pasti menjauhkan seseorang dari keluarga asalnya. Dominasi ekonomi dan perbandingan pencapaian sering kali menjadi bumbu yang memperkeruh suasana.
Ghibah Digital dan Matinya Tabayyun
Di era digital, konflik keluarga tidak lagi selesai di ruang tamu, melainkan berpindah ke grup WhatsApp. Ghibah (menggunjing) menjadi tren untuk mencari pembenaran kolektif.
Padahal, dalam kacamata Islam, menjaga hubungan Ar-Rahm adalah kewajiban syariat yang mutlak. Rasulullah SAW dengan tegas memperingatkan bahwa pemutus silaturahmi tidak akan mencium bau surga.
Orang bijak menyarankan, untuk mengurai benang kusut persaudaraan membutuhkan kedewasaan spiritual. Solusinya bukan sekadar bertemu fisik, tapi melakukan Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa).
Dia menyarankan beberapa langkah konkret yang bisa diambil antara lain: Batasan tegas, yaitu menghormati ipar namun tetap menjaga kedaulatan hubungan antar saudara kandung.
Kemudian prinsip mengalah, dengan menyadari bahwa dalam keluarga, “mengalah” bukanlah kekalahan, melainkan kemuliaan. Tak kalah penting adalah tabayyun dengan menyelesaikan masalah secara langsung tanpa perantara media sosial.
Terakhir, perlu diingat saudara kandung adalah takdir yang tidak bisa dipertukarkan. Teman mungkin bisa dipilih, namun hubungan darah adalah ikatan yang telah digariskan Tuhan. Menjaga silaturahmi memang berat, namun di situlah letak ujian kedewasaan dan pahala yang besar. Selamat saur perdana ramadhan. *****