
Lampung Tengah, sinarlampung.co– Kebakaran hebat yang melanda pabrik tapioka PT Sinar Pematang Mulia (SPM) 2 di Kampung Mataram Udik, Kecamatan Bandar Mataram, Lampung Tengah, belum sepenuhnya berhasil dijinakkan. Hingga Minggu malam (15/2/2026), kobaran api masih menyisakan titik-titik bara di area mesin produksi meski bala bantuan armada pemadam kebakaran dari berbagai daerah telah dikerahkan.
Skala kebakaran yang masif memaksa petugas pemadam kebakaran (Damkar) dari enam kabupaten/kota lintas wilayah turun ke lokasi. Tim bantuan tersebut berasal dari Pringsewu, Metro, Bandar Lampung, Pesawaran, Lampung Timur, hingga Lampung Utara.
”Kami sudah dua malam di sini, berbaur dengan petugas dari kabupaten lain. Namun, sampai sekarang masih banyak titik api yang belum benar-benar padam,” ujar M. Topik, anggota Damkar Pringsewu, saat ditemui di lokasi kejadian.
Area Produksi Ludes, Kerugian Capai Ratusan Juta
Informasi yang dihimpun menyebutkan api pertama kali muncul pada Sabtu (14/2/2026) sekitar pukul 18.30 WIB. Saksi mata, Wiji (40), seorang petugas keamanan setempat, melihat api bersumber dari bagian mesin produksi dan dengan cepat menjalar ke seluruh area pabrik.
Kepala Bidang Damkarmat Satpol PP Lampung Tengah, Eddy Ismail Idris, mengonfirmasi bahwa meski tidak ada korban jiwa, dampak fisik kebakaran sangat parah. “Kerugian sementara ditaksir mencapai Rp750 juta. Kami terus melakukan upaya pendinginan untuk memastikan api tidak kembali membesar,” jelasnya.
Petani Singkong Tetap Tenang
Di tengah musibah yang melanda salah satu raksasa pengolahan singkong tersebut, para petani di Lampung Tengah relatif tidak terdampak secara ekonomi. Hal ini dikarenakan skema rantai pasok PT SPM 2 yang lebih banyak menyerap singkong dari pengepul (lapak) ketimbang langsung dari petani.
Tejo, salah seorang petani singkong lokal, menjelaskan bahwa terbakarnya pabrik tersebut tidak menghentikan arus penjualan hasil panen mereka.
”Tidak begitu berpengaruh bagi kami. Pabrik itu biasanya menampung dari lapak. Di daerah sini juga masih ada sekitar tiga perusahaan besar lainnya. Kalau satu pabrik tutup, lapak tinggal mencari tempat lain sesuai kalkulasi mereka,” ungkap Tejo.
Menurutnya, fleksibilitas ini membuat petani tidak bergantung pada satu perusahaan saja. “Kami antar petani dan lapak sering bertukar informasi tentang harga dan pabrik mana yang buka. Jadi, opsi penjualan masih banyak,” tambahnya.
Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Fokus utama petugas di lapangan tetap pada pemadaman total sisa-sisa api yang masih tersembunyi di bawah puing-puing bangunan pabrik. (Red)