
BANTEN, sinarlampung.co – Kasus penembakan wartawan senior sekaligus Sekretaris Jenderal Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Rahimandani, kembali menjadi sorotan nasional. Dalam peringatan HUT ke-6 JMSI yang bertepatan dengan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten, kepolisian didesak untuk segera menuntaskan kasus yang telah mengendap selama tiga tahun tersebut.
Ketua Umum JMSI, Dr. Teguh Santosa, menyatakan keprihatinannya atas lambatnya penanganan kasus yang terjadi di Bengkulu pada 8 Februari 2023 lalu. Hingga saat ini, terduga pelaku penembakan belum juga berhasil diidentifikasi maupun ditangkap.
“Sudah tiga tahun sejak 2023, penembak tokoh pers Rahimandani belum tertangkap. Ini adalah luka serius bagi dunia pers dan demokrasi kita,” ujar Teguh dalam sambutannya di Banten, Minggu (8/2/2026).
Teguh menegaskan bahwa kasus ini bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan ancaman nyata terhadap kebebasan pers dan keselamatan insan media di Indonesia. Menurutnya, negara harus memberikan jaminan keamanan agar jurnalis dapat bekerja tanpa rasa takut.
Senada dengan JMSI, Wakil Menteri Hak Asasi Manusia, Mugiyanto, turut menyoroti mandeknya perkara ini. Ia menegaskan bahwa peran strategis media dalam menjalankan amanat konstitusi harus dilindungi dari segala bentuk intimidasi.
“Media harus benar-benar terlindungi dari intimidasi dan mendapatkan jaminan keselamatan dalam menjalankan tugas di lapangan,” tegas Mugiyanto.
Ia juga berharap JMSI tidak hanya menjadi jaringan perusahaan media yang menyebarkan informasi, tetapi juga menjadi pilar utama dalam memperjuangkan tanggung jawab negara terhadap hak asasi manusia sebagaimana diamanatkan konstitusi.
Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) JMSI yang digelar sehari sebelumnya, isu keamanan insan pers resmi ditetapkan sebagai agenda utama organisasi. Teguh Santosa mengusulkan penguatan perlindungan HAM bagi wartawan, pemilik media, serta pengelola media arus utama, terutama mereka yang berada di daerah dan rentan terhadap ancaman.
“Dengan jaminan HAM yang ditegakkan bagi seluruh pekerja pers, fondasi Indonesia yang kuat, demokratis, dan berkeadilan akan semakin kokoh,” pungkas Teguh.
Sebagai informasi, Rahimandani ditembak oleh orang tak dikenal pada Jumat, 8 Februari 2023, saat hendak menunaikan salat Jumat di dekat kediamannya di Bengkulu. Meski penyelidikan telah dilakukan sejak hari pertama kejadian, identitas dan keberadaan pelaku masih menjadi misteri hingga hari ini. (Red)