
OLEH: Juniardi
Peristiwa Isra Mi’raj yang diperingati setiap tanggal 27 Rajab bukan sekadar catatan sejarah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Lebih dari itu, peristiwa agung ini menyimpan kode-kode etik yang sangat relevan untuk diterapkan di era disrupsi informasi dan teknologi digital saat ini.
Di zaman di mana manusia lebih takut kehilangan sinyal internet daripada kehilangan koneksi dengan Tuhan, Isra Mi’raj hadir sebagai reminder (pengingat) keras tentang prioritas kehidupan.
Lantas, bagaimana meneladani spirit Isra Mi’raj di tengah gempuran media sosial dan kecerdasan buatan (AI)?
Shalat sebagai “Charging” Jiwa
Oleh-oleh utama dari perjalanan Isra Mi’raj adalah perintah shalat lima waktu. Di era digital, kita terbiasa mengisi daya (charging) gawai kita setiap kali indikator baterai memerah. Kita panik saat power bank tertinggal.
Namun, seringkali kita abai saat “baterai” iman kita melemah. Shalat adalah metode charging jiwa yang diajarkan Nabi. Di tengah kesibukan scrolling media sosial yang tiada habisnya, shalat adalah momen jeda (pause) untuk meletakkan dunia dan kembali “online” dengan Sang Pencipta. Shalat adalah benteng agar kita tidak diperbudak oleh algoritma duniawi.
Tabayyun dan Kejujuran
Saat Nabi Muhammad SAW menyampaikan kabar bahwa beliau telah menempuh perjalanan ribuan kilometer hanya dalam satu malam, kaum Quraysh mencemoohnya. Mereka menganggap itu berita bohong (hoax). Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq membenarkannya karena iman.
Pelajaran bagi kita di era digital: tidak semua yang “cepat” dan “viral” itu benar. Era digital banjir dengan informasi sampah dan fitnah. Sebagai umat Nabi, kita diajarkan untuk memiliki sifat Shiddiq (jujur) dan Fathonah (cerdas).
Sebelum membagikan tautan berita di WhatsApp Group atau media sosial, lakukanlah Tabayyun (cek dan ricek). Jangan menjadi penyebar fitnah digital. Jadilah seperti Abu Bakar yang memegang teguh kebenaran, bukan sekadar ikut-ikutan arus komentar netizen.
Etika Jari-Jemari
Dalam perjalanan Mi’raj, Nabi diperlihatkan berbagai gambaran balasan amal manusia. Ada yang mencakar-cakar wajahnya sendiri karena semasa hidup gemar menggunjing (ghibah) aib saudaranya.
Jika ditarik ke masa kini, “lisan” itu telah bertransformasi menjadi “jari”. Ghibah digital, cyberbullying, dan ujaran kebencian di kolom komentar adalah bentuk modern dari perilaku yang dilihat Nabi di neraka tersebut.
Spirit Isra Mi’raj mengajarkan kita untuk menjaga adab. Jika Nabi saja sangat santun saat bertemu para Nabi terdahulu di setiap tingkatan langit, mengapa kita begitu kasar dan mudah menghakimi orang lain di ruang maya?
Kecepatan vs Keberkahan
Nabi menaiki Buraq, kendaraan super cepat melampaui cahaya. Namun, kecepatan itu digunakan untuk tujuan mulia: memenuhi panggilan Allah.
Hari ini, teknologi memberikan kita kecepatan. Internet 5G, pengiriman pesan instan, dan transaksi kilat. Pertanyaannya, kecepatan itu kita gunakan untuk apa? Apakah untuk menyebar kebaikan, ilmu, dan dakwah? Atau justru untuk mempercepat kerusakan moral dan penyebaran maksiat?
Penutup
Isra Mi’raj di era digital adalah tentang menyeimbangkan kehidupan langit dan bumi. Silakan menjadi manusia modern yang melek teknologi, namun jangan sampai “koneksi” kita dengan Allah terputus.
Jadikan gawai di tangan kita sebagai ladang amal jariyah, bukan ladang dosa. Mari jadikan momentum Isra Mi’raj ini untuk memperbaiki “shaf” kehidupan kita, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.***