
Bandar Lampung–Angin perubahan itu mulai berhembus kencang sejak pertengahan 2024. Di tengah hiruk-pikuk politik daerah, dua sosok muda muncul dengan narasi yang berbeda. Rahmat Mirzani Djausal, politisi santun dengan latar belakang insinyur, dan dr. Jihan Nurlela, senator muda yang lekat dengan isu kesehatan dan perempuan, menyatukan langkah.
Kini, Januari 2026, genap hampir setahun pasangan ini menahkodai Provinsi Lampung. Dari sorak-sorai kampanye hingga heningnya ruang kerja gubernur yang penuh tumpukan berkas, perjalanan “Mirza-Jihan” adalah kisah tentang transisi harapan menjadi kerja nyata.
Agustus 2024 menjadi titik mula. Sebagai pasangan pertama yang mendaftar ke KPU Lampung, mereka menawarkan kombinasi unik, teknokrasi dan empati sosial. Mirza membawa “efek ekor jas” dari kemenangan Prabowo-Gibran di level nasional, sementara Jihan membawa basis massa loyal dari pengalamannya sebagai senator DPD RI dengan suara terbanyak. “Ini bukan sekadar koalisi partai, ini koalisi gagasan,” ujar Mirza kala itu.
Kampanye mereka tidak hanya diisi orasi berapi-api, tapi juga pendekatan pop-culture yang merangkul Gen-Z dan milenial, segmen pemilih terbesar di Lampung.
Hasil Pilkada 27 November 2024 menjawab keraguan. Mirza-Jihan menyapu bersih kemenangan dengan angka fantastis, meraup lebih dari 3,3 juta suara atau sekitar 82,54%. Angka ini bukan sekadar statistik, ini adalah mandat mutlak rakyat Lampung yang merindukan perbaikan infrastruktur dan kesejahteraan.
Puncak euforia itu terjadi pada 20 Februari 2025. Di Istana Negara, Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik mereka. Hari itu, Lampung resmi memiliki pemimpin baru. Tidak ada pesta berlebihan pasca-pelantikan; sinyal bahwa kerja keras langsung menanti.
Tahun Pertama
“Tahun pertama adalah tahun fondasi,” begitu mantra yang kerap diulang Gubernur Mirza di berbagai kesempatan sepanjang 2025. Alih-alih langsung menjanjikan proyek mercusuar yang bombastis, Mirza memilih “jalan sunyi” perbaikan infrastruktur dasar.
Fokus utamanya jelas perbaikan dan rekonstruksi 52 ruas jalan provinsi yang selama bertahun-tahun menjadi keluhan warga. Di bawah komandonya, alat-alat berat bekerja siang malam mengejar target kemantapan jalan.
Di sisi lain, Wakil Gubernur Jihan Nurlela tidak sekadar menjadi “ban serep”. Ia mengambil peran strategis di sektor “lunak” namun krusial yaitu kesehatan, perempuan, dan anak.
Jihan aktif memastikan program makan bergizi gratis untuk siswa dan santri berjalan tepat sasaran, serta menginisiasi pengelolaan sampah yang lebih modern—isu yang selama ini kerap terabaikan.
Ekonomi Desa
Mei 2025 menjadi momen penting ketika Gubernur Mirza memimpin delegasi Lampung ke Shandong, Tiongkok. Bukan sekadar jalan-jalan, kunjungan ini menghasilkan Letter of Intent (LoI) kerja sama ekonomi. Lampung tidak lagi hanya menunggu investor datang, tetapi menjemput bola, memposisikan diri sebagai gerbang strategis Sumatera.
Namun, kaki mereka tetap berpijak di bumi Ruwa Jurai. Program “Desa Kumaju” diluncurkan sebagai mesin ekonomi dari bawah. Mirza ingin desa-desa di Lampung mandiri, bukan sekadar penonton pembangunan.
Catatan Akhir Tahun
Menutup tahun 2025, dalam refleksi akhir tahunnya, Mirza menegaskan bahwa perjalanan baru saja dimulai. “Pondasi sudah kita bangun, arah sudah jelas. Sekarang saatnya akselerasi,” tegasnya.
Bagi masyarakat Lampung, satu tahun ini mungkin belum menyelesaikan semua masalah. Jalan berlubang mungkin masih ada, harga panen mungkin masih fluktuatif. Namun, ada satu hal yang dirasakan berbeda kehadiran negara di tengah mereka.
Pasangan Mirza-Jihan telah membuktikan bahwa paduan teknokrat dan aktivis sosial bisa berjalan irama. Tahun 2026 akan menjadi ujian sesungguhnya mengubah fondasi yang telah dibangun menjadi bangunan kesejahteraan yang bisa dinikmati seluruh warga Lampung.
Di balik angka statistik pertumbuhan ekonomi dan indeks pembangunan manusia, keberhasilan sebuah pemerintahan sejatinya diukur dari cerita-cerita kecil di warung kopi, di ruang kelas, dan di jalanan lintas kabupaten.
Memasuki tahun kedua masa jabatan Mirzani-Jihan, narasi perubahan itu tidak lagi sekadar jargon “Lampung Emas”, melainkan mulai mewujud dalam denyut keseharian warga.
Tentu, satu tahun belum cukup untuk menyulap Lampung menjadi surga. Kritik masih terdengar, terutama soal stabilitas harga panen petani jagung dan singkong yang masih fluktuatif.
Persoalan lingkungan dan tata kelola tambang juga masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar yang menanti ketegasan Mirza-Jihan di tahun kedua.
Seperti yang diungkapkan oleh pengamat kebijakan publik Universitas Lampung, “Tahun pertama adalah tahun ‘bulan madu’ dan pembuktian awal. Tahun 2026 adalah ujian konsistensi.
Masyarakat menunggu apakah jalan yang mulus hari ini bisa terawat tahun depan, dan apakah investasi benar-benar menyerap tenaga kerja lokal.”
Satu tahun berlalu, Mirza dan Jihan telah meletakkan rel. Kereta kemajuan Lampung sudah bergerak meninggalkan stasiun ketertinggalan. Kini, tugas mereka adalah memastikan kereta itu terus melaju, tanpa ada gerbong rakyat yang tertinggal. (Juniardi)