
Buku kumpulan perjalanan “Travel Writing #2, Menyeberangi Batas: Catatan dari Singapura, Malaysia, hingga Nusantara” merupakan cara mengabadikan perjalanan dalam bentuk Travel Writing pada dunia sastra Indonesia.
Diterbitkan oleh SIP Publishing pada November 2025, antologi setebal vi + 165 halaman ini merangkum karya 28 penulis dari beberapa provinsi yang menuliskan perjalanannya dan diabadikan dalam bentuk buku.
Di antara berbagai macam karya, Arsiya Oganara nama penanya. Memiliki nama asli Arsiya Heni Puspita, mewujudkan perjalanan spiritualnya dengan judul “Senja di Masjid Raya Lampung al Bakrie” yang dimuat pada halaman 128 – 134.
Arsiya Oganara mendeskripsikan Masjid Raya Lampung al Bakrie, bangunan megah warana putih berada di jantung Kota Bandar Lampung menjadikan kota ini lebih hidup dan religius. Masjid iconik dengan tampilan futuristik dipadu-padankan kearifan lokal Lampung serta didukung fasilitas modern juga multi fungsi. (Halaman 128)
Arsiya Oganara juga menginformasikan beberapa destinasi wisata di Bandar Lampung. Berbelanja khas Lampung mulai dari tapis, kaos bertemakan Lampung, makanan ringan khas Lampung seperti keripik pisang aneka rasa yang ada di jalan Radin Inten lokasinya dekat dengan Masjid al Bakrie.
Bisa juga berbelanja handycraf khas lampung lainnya di Pasar Kreatif dan Seni (Paksi) di Pusat Kegiatan Olahraga (PKOR) Way Halim Bandar Lampung. Jarak tempuh dari Masjid al Bakrie hanya 25 menit. (Halaman 131)
Tertarik dengan Sejarah Lampung dari masa pra sejarah sampai masa kini bisa mengunjungi Museum Lampung. Jarak tempuh dari Masjid al Bakrie 25 menit.
Bandar Lampung sebagai Ibukota Provinsi memiliki landscape yang unik karena paduan gunung dan pantai serta dataran tinggi. Beberapa wisata kekinian di dataran tinggi kawasan Kemiling bisa menjadi pilihan dengan jarak tempuh 20 – 30 menit.
Tak hanya itu, Arsiya Oganara menuliskan, ingin merasakan nuansa berbeda dengan kehangatan pantai bisa langsung menuju Pulau Pahawang. Jarak tempuh satu jam sehingga bisa pesan paket tour harian atau bermalam.
Lampung juga terkenal dengan Gajah Sumatera. Kita bisa melihat lebih dekat di Lembah Hijau Bandar Lampung. Atau habitat aslinya di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur, jarak tempuh dua jam dari Masjid al Bakrie.
Wisata situs arkeologi Taman Purbakala Pugung Raharjo berlokasi di Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur. Situs ini ditemukan pada tahun 1957 oleh warga transmigran yang sedang menebang hutan.
Kita bisa menyaksikan peninggalan dari zaman Megalitikum hingga Islam, seperti arca, punden berundak, benteng, dan batu mayat, menjadikannya lokasi edukasi sejarah yang menarik. Jarak tempuh dari Masjid al Bakrie satu jam. (Halaman 132)
Cerita bergulir, berminat menelusuri gugusan Pegunungan Bukit Barisan di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) mulai dari Liwa Kabupaten Lampung Barat dilanjutkan ke Kabupaten Pesisir Barat. Jarak tempuh dari Masjid al Bakri ke Liwa 6-7 jam.
Wisata Bahari tak luput dari pantauan Arsiya Oganara. Surfing atau selancar bisa dilakukan di Pantai Tanjung Setia, Pantai Mandiri, dan masih banyak lokasi lainnya di Krui Pesisir Barat. Jarak tempuh dari Masjid al Bakri ke Krui 6.
Kita bisa menggunakan bus atau mobil travel untuk menuju destinasi wisata yang berada di luar Kota Bandar Lampung.
Masjid Raya Lampung al Bakrie bukan hanya sekedar tempat ibadah, namun juga tempat bertemu serta tempat kemaslahatan umat lainnya.
Tak hanya wisata religi namun bisa juga wisata kekinian, wisata sejarah serta wisata pantai semua lokasinya berada di Bandar Lampung.
Yuk datang dan nikmati indahnya wisata Provinsi Lampung, ajak Arsiya Oganara. (Halaman 133)
Tentang Penulis “Senja di Masjid Raya Lampung al Bakrie”
Arsiya Heni Puspita dengan nama pena Arsiya Oganara, merupakan lulusan Sarjana Ilmu Komunikasi yang gemar membaca, menulis, dan menjelajahi tempat baru. Ia adalah jurnalis profesional yang telah dinyatakan kompeten melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW), sekaligus Tourist Guide dan Tour Leader bersertifikat dari Disparekraf DKI Jakarta dan BNSP.
Ketertarikannya pada dunia sastra membawanya menulis berbagai karya seperti cerpen, puisi, puisi esai, dan fiksi mini. Beberapa karyanya telah terbit dalam sejumlah antologi, di antaranya Saat Hujan Membaca Namaku, Menyeberang Batas: Catatan dari Singapura, Malaysia, hingga Nusantara.
Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Jilid 5, Boss Muda, Akar Serumpun Anyaman Rasa, Lentera dari Timur ke Barat Jilid 2, dan Sahabat Sepanjang Cerita Jilid 5. (Red)