
bAnggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) melakukan pengibaran dan penurunan bendera merah putih pada Hari Kemerdekaan RI ke-80 tahun 2025 sukses melaksanakan tugas rutin tahunan. Namun kali ini kegiatan Paskibraka di Provinsi Lampung menyisakan kekecewaan bagi sejumlah anggotanya.
Terutama terkait sarana prasarana fasilitas sebagai anggota Paskibraka tahunan Provinsi yang berasal dari Kabupaten Kota. “Kami banggga, dan banyak dapat pengalaman baru. Apalagi kami adalah duta kabupaten, di Provinsi. Tapi aneh fasilitas, perhatian dan penghargaan kepada kami di Provinsi, beda jauh dengan yang di Kabupaten, dan daerah lain. Soal seragam saja kalo tidak ditulis media mungkin gak ada kak,” kata salah satu peserta.
Menurutnya, dia dan teman-temannya hanya menerima tas tipis, bahka banyak yang sudah rusak sejak awal pembagian karena kualitasnya tipis. Batik yang dibagikan ukuran tidak sesuai, hingga sepatu pantofel dengan ualitas rendah dan lebih buruk dibanding angkatan sebelumnya. “Kekecewaan terberat saat honor yang dibagikan hanya sebesar Rp1,7 juta. Di kabupaten saja ada yang sampai Rp1,5 juta. Masa di tingkat provinsi hanya selisih Rp200 ribu,” ujarnya.
Selain itu, lanjutnya para Paskibraka juga mengaku tidak mendapatkan jaket sehingga mereka sampai berinisiatif patungan menggunakan biaya pribadi. “Untuk membuat jaket angkatan ke-25, karena tidak ada inisiatif dari pihak panitia ya kami patungan sendiri,” ujarnya.
Mereka juga membandingkan dengan provinsi lain yang bahkan memberikan hadiah berupa laptop dari gubernurnya. “Bukan kami tidak bersyukur, tapi miris rasanya. Seolah-olah pengabdian kami tidak dihargai sepantasnya. Apalagi setelah pengibaran bendera, hari Senin kami langsung bubar tanpa ada apresiasi apa apa lagi,” ucapnya.
Untuk diketahui anggaran Paskibraka Tahun 2025 di Provinsi Lampung mencapai sekitar Rp900 Juta. Harusnya para Paskibraka itu mendapatkan pasilitas dan saran serta gizi yang layak. Terkait hal itu Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Lampung Dr Senen Mustakim, yang dikonfirmasi wartawan tidak merespon. Dikonfirmasi melalui pesan WhatsAppnya tidak menjawab meskipun pesan untuk konfirmasi sudah terkirim.
Kecewanya Orang Tua Paskibraka Nasional di Papua
Keluarga anggota Paskibraka Nasional asal Papua Barat Daya Andrew Warmasen juga melakukan kritik dan kecewa terhadap pemerintahan Papua Barat, karena dianggap tidak menghargai anaknya yang sudah menjadi Petugas Paskibraka Nasional di Jakarta.
Penyambutan anaknya di sekolah justru lebih manusiawi dan penuh penghormatan dibandingkan acara resmi pemerintah provinsi. “Di sekolah, anak saya disambut dengan penuh rasa bangga, ada cinderamata, guru dan teman-temannya memberi penghargaan. Itu jauh lebih bermartabat dibanding penyambutan di provinsi,” katanya.
“Kita tidak minta ada arak-arakan. Yang kami minta itu anak-anak anggota Paskibraka ini disambut dengan baik. Masa anak-anak datang dari perjalanan jauh hanya disuguhi satu botol air mineral tanpa ada snack, apakah itu manusiawi?,” tegas Andrew Warmasen, Senin 25 Agustus 2025.
Kesbangpol Klaim Sesuai Mekanisme
Sementara itu, Kepala Kesbangpol Papua Barat Daya, Sellvyana Sangkek, dalam rilis persnya menyatakan bahwa penyambutan yang dilakukan sudah sesuai aturan. Ia menekankan bahwa Paskibraka Nasional bukanlah ajang kompetisi atau perayaan yang memerlukan arak-arakan.
“Tugas Paskibraka adalah bagian dari tanggung jawab negara yang memiliki nilai pendidikan, pembinaan karakter, dan wawasan kebangsaan. Prosesi penyambutan dilakukan sesuai prosedur, menjaga kesopanan dan ketertiban,” jelasnya.
Sellvyana juga menyebut, mekanisme penyambutan yang dilakukan di Bandara DEO dan Kantor Gubernur sudah mengacu pada pedoman pusat dan daerah, dengan tujuan menyerahkan kembali peserta kepada sekolah asal dan keluarga mereka. (Red)