
Lampung Timur, sinarlampung.co – Asa panjang masyarakat Desa Sriminosari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur, bersama sejumlah desa penyangga akhirnya terwujud. Setelah 52 tahun menanti, jembatan penghubung antara ruas jalan kabupaten menuju jalan nasional lintas Pantai Timur di Dusun Munjuk, Desa Labuhan Maringgai, akhirnya berdiri.
Namun pembangunan jembatan ini bukan hasil program pemerintah, melainkan swadaya penuh warga. Warga Dusun 01 Pekawatan, Desa Sriminosari, secara gotong royong merampungkan jembatan hanya dalam waktu delapan hari.
Sedikitnya 90 orang ikut bekerja, ditambah dukungan warga Dusun Way Bandar. Total biaya pembangunan mencapai Rp18 juta yang seluruhnya dipakai untuk material.
“Seingat saya, jembatan ini pertama kali dibangun tahun 1973 dari batang pohon kelapa. Sejak itu sampai 2025, tidak pernah ada pembangunan,” keluh Kasiman, warga Dusun 01 Pekawatan yang juga Wakil Ketua BPD Sriminosari, saat ditemui.
Kasiman mengaku gagasan membangun jembatan secara swadaya muncul dari keprihatinan. Ia sering menyaksikan kecelakaan akibat jembatan rusak.
“Banyak pedagang sayur keliling terperosok, anak sekolah tergelincir, sampai truk pengangkut hasil panen dan laut terguling. Bahkan ada motor warga yang mencari rumput untuk ternak ikut terperosok,” imbuhnya.
Meski jembatan kini bisa dilalui, Kasiman berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki infrastruktur lainnya. Dari total panjang jalan sekitar 2.200 meter yang menghubungkan ruas kabupaten ke jalan nasional, masih ada 900 meter yang kondisinya onderlah dan sangat memprihatinkan.
“Saya sudah empat kali mengajukan proposal pengaspalan jalan, tapi sampai hari ini belum ada realisasi,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Pujo Asmoro, Kepala Dusun 01 Pekawatan. Ia menilai keberadaan jembatan ini sangat vital bagi warga.
“Jembatan ini akses utama untuk ke pasar, sawah, kebun, sekolah, hingga mengangkut hasil panen. Saya pribadi merasa senang, bersyukur, sekaligus bangga kepada warga, khususnya Pak Kasiman yang telah menginisiasi pembangunan ini,” kata Pujo.
Pembangunan jembatan secara swadaya ini menjadi cermin betapa kebutuhan infrastruktur dasar masih jauh dari perhatian pemerintah. Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang semakin sulit, warga kembali harus menanggung beban pembangunan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara. (Afandi)