
Pesawaran, sinarlampung.co – Dugaan penyelewengan dana Program Indonesia Pintar (PIP) oleh pihak sekolah dan komite SMKN 1 Padang Cermin, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung, menjadi sorotan tajam masyarakat. Dana yang seharusnya diperuntukkan bagi siswa kurang mampu diduga dialihkan untuk pembayaran SPP siswa yang menunggak. Hal ini memicu kemarahan warga setempat, yang menilai komite dan kepala sekolah telah merugikan wali murid.
Menurut informasi yang beredar, dalam tiga tahun terakhir, dana PIP diduga terus disalahgunakan oleh komite sekolah. Kejadian ini pun mendapat reaksi keras dari warga, salah satunya Dodi, yang mendatangi sekolah bersama sejumlah awak media pada Kamis, 30 Januari 2025. Ia menuntut pihak sekolah dan komite memberikan penjelasan mengenai dasar kebijakan pemotongan dana PIP dari siswa kurang mampu.
“Baik pihak sekolah maupun komite harus memberikan klarifikasi terkait pemotongan ini. Jangan seenaknya meminta sumbangan kepada siswa tidak mampu. Saat kami datang, kami hanya ditemui oleh Doni, yang kapasitasnya hanya sebagai penjaga sekolah dan tidak memahami urusan sekolah. Sementara itu, Ketua Komite SMKN 1 Padang Cermin, Murtiono, malah menghindar saat diminta keterangan. Jika mereka merasa benar, mengapa harus kabur?” ujar Dodi.
Ia menambahkan, jika setiap siswa penerima PIP menerima dana Rp1.800.000 dan ada sekitar 200 siswa penerima, maka total dana yang dikelola sekolah mencapai Rp360.000.000. Dengan jumlah siswa terdaftar sebanyak 795 orang, Dodi menduga kuat adanya praktik penyelewengan, kolusi, dan nepotisme dalam pengelolaan anggaran tersebut.
H. Bathin Bahrul Alam, yang juga turut mendatangi sekolah, mengaku geram dengan tindakan komite dan kepala sekolah yang dianggap tidak transparan dalam penggunaan dana PIP.
“Saya ingin tahu untuk apa uang sebesar itu digunakan. Dana tersebut bukan milik sekolah, melainkan hak siswa yang tidak mampu. Jika ternyata dana ini hanya masuk ke kantong pribadi, tentu ini merupakan tindakan yang tidak bisa dibiarkan. Sebenarnya, saya sudah lama mendengar desas-desus mengenai persoalan ini, namun baru kali ini saya datang langsung untuk mencari kejelasan,” tegasnya.
Ia menambahkan, jika diperlukan, ia akan mendatangi rumah seluruh anggota komite yang masih aktif untuk mengungkap persoalan ini secara terang benderang.
“Saya tidak ingin ada permainan dalam masalah ini. Saya juga sudah berbicara dengan Kepala Sekolah Hadi Suarno, namun jawabannya tidak memuaskan. Hal ini semakin menambah kecurigaan saya,” tandasnya.
Kasus ini kini menjadi perhatian masyarakat dan diharapkan pihak berwenang segera melakukan investigasi untuk memastikan transparansi dalam pengelolaan dana PIP di sekolah tersebut. (Mahmuddin)