
Banten (SL)-Diduga akibat data administrasi pelayanan pasien acak-acakan, berakibat pada pelayanan dan pasien terlantar. Hal ini terjadi pada keluarga Eny Analies sandi seorang Pasien RS Hermina Ciruas Serang Banten yang dalam keadaan hamil 6 bulan yang hendak melakukan persalinan dengan operasi pengeluaran bayi dalam kandungan yang telah meninggal,,

Pasien yang terlebih dahulu sudah berkoordinasi dengan Dr Maya pada hari Rabu 6/4 akan melakukan pengeluaran bayi dalam kandungannya. Atas dasar anjuran Dr Maya akhirnya pihak keluarga, Kamis (7/4) sekira pukul 11.00 wib mendatangi rumah sakit Hermina Ciruas Serang Banten.
Sesampainya di rumah sakit Hermina, bukanya mendapat perawatan dari pihak rumah sakit tetapi pasien malah di telantarkan hingga pukul 16.00 wib sore. Sedangkan pasien sudah dalam keadaan pucat dan dingin dan membuat pihak keluarga terpaksa harus emosi bercampur kecewa dan sedih.
“Kami sudah bertemu dengan Dr Maya dan Dr maya menganjurkan hari kamis pukul 15.00 wib,untuk di lakukan pengobatan dengan cara memberikan obat perangsang agar bayi dapat keluar. Jikalau tidak keluar maka akan dilakukan operasi,” kata Fajri, suami pasien Hermina kepada sinarlampung.com.
Menurut Fajri, dia sudah sempat minta kepada dokter Maya, agaar dapat di lakukan penanganan padaa Hari Rabu (5/3), tapi di tolak dokter. “Saya sudah meminta agar di lakukan penanganan pada hari rabu. Tapi kata Dr Maya karena hari Kamis libur, lebih baik hari Kamis jam 15.00 wib. agar dapat di kasih obat. Dan jikalau belum bersih maka hari Jumat bisa dilakukan operasi. Tapi saat kami sampai di rumah sakit berkas istri saya tidak ada dalam data komputer. Setelah kami dan keluarga agak keras barulah diketahui bahwa berkas atas nama istri saya ada di meja UGD,” jelas Fajri.
Kekecewaan keluarga pasien yang di ketahui bernama Eny Analies Sandi, (24) warga Puri Kencana, Serang Banten, karena pelayanan yang lamban dan nampak tidak profesional, apalgi para perawat dan dokter Rumah Sakit Hermina tersebut.
Menurut ibu kandung pasien, bahwa anaknya yang bernama Eni Analies sandi (24) warga Puri Kencana Serang Banten dalam keadaan hamil 6 bulan, “Tiga hari yang lalu anak saya bilang bahwa perut tidak ada gerakan,lalu ke bidan teryata bidan juga bilang harus ke klinik teryata sama hasil klinik dan bidan jantung tidak aktif,” kata Eti ibu pasien.
“Kami pada hari Rabu tanggal 6 Kemarin sudah ke RS Hermina, lalu pihak rumah sakit meminta kami pulang dan di minta datang lagi hari Kamis hari ini 7/4 sekira pukul 11.00 wib. “Setiba di rumah sakit menantu saya masukin berkas BPJS. Dari pihak rumah sakit mengatakan bahwa di minta menunggu,” kata Eti.
Yang anehnya lagi ujar Eny, bahwa putrinya di biarkan saja. Seharusnya ada tindakan,karena putrinya ini keadaan hamil dan anak dalam kandungannya sudah meninggal, “Yang saya takutkan, anak saya ini keracunan karena bayi di dalam kandungan sudah meninggal sementara anak saya sudah pucat dingin dan kaki anak saya sudah dingin. Bukan apa-apa kalau terjadi apa-apa dengan anak saya bagaimana,” katanya.
Sementara cucunya saja sudah meninggal dalam kandungan` “Cucu saya yang ada dalam kandungan memang sudah meninggal tapi jikalau dibiarkan bagaimana nasib anak saya sebagai pasien. Sebab bayi itu sudah meninggal sekira 4 hingga 5 hari, “Yng kami takutkan terjadi sesuatu yang di luar dugaan,” Ujar Ety ibu kandung pasien dengan marah.
Eti juga berharap kejadian serupa tidak terulang. “Kami berharap kejadian serupa jangan terulang kembali. Data-data pasien jangan dianggap sepele karena yawa taruhannya,”saya dalam hal ini meminta pihak rumah sakit Hermina ini menertibkan bagian administrasinya agar pelayanan menjadi lebih baik,” kata Ety.
Sementara pihak Rumah Sakit belum ada yang memberikan keterangan resmi terkait hal tersebut. “Maaf mas, kami tidak berhak berkomentas, silahkan hubungi managemen ada humasnya,” kata petugas rumah sakit di ruangan pasien kepada sinarlampung.com. (ahmad suryadi)