
Makasar (SL)-Sekertaris PWNU Banten, Dr H Amas Tadjuddin, jatuh cinta dengan pilosofi masyarakat Sulawesi Selatan, yaitu Sipakatau dan Sipakainga. Yang merupakan pilosofi menjaga kerukunan dan kedamaian umat beragama bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Pilosofi itu harusnya bisa ditiru oleh masyarakat Indonesia secara lebih luas.
Hal itu diungkapkan Dr H Amas Tadjuddin mengutip sambutan Gubernur Sulawesi Selatan Prof Dr H Nurdin Abdullah disampaikan dalam acara Konferensi Nasional FKUB se Indonesia di Asrama Haji Sudiang Makasar (2/03).
Konferensi dibuka oleh Menteri Agama yang juga dihadiri oleh delegasi Banten diantaranya Dr H Amas Tadjuddin, Dr H Bazari Syam, Dr H Kosasih, Dr H Asnawi Syarbini, dan pdt Beni Halim.
Menurut Amas Tadjuddin bahwa Sipakatau merupakan sikap saling menghargai sesama manusia tanpa membedakan suku ras dan agama, sedangkan Sipakainga bermakna saling mengingatkan dalam pelbagi kehidupan tanpa mengedepankan suatu keangkuhan dan merasa yang paling benar.
“Sipakatau dan Sipakainga (teks lafadznya bukan dari kitab suci) itulah pilosofi yang dianut oleh masyarakat Sulawesi Selatan mengadopsi kearifan lokal suku-suku besar bugis, toraja, makasar, dan suku mandar,” kata Amas.
“Sipakatau dan sipakainga, model tradisi lokal yang dapat diterima oleh seluruh masyarakat Sulawesi dalam hubunganya berbangsa dan bernegara di tengah keragaman adat budaya dan agama, tanpa harus mengedepankan istilah istilah lain dalam teks kitab suci,” ujar intelektual muda Nahdlatul Ulama yang juga Sekretaris PWNU Banten.
Terkait konferensi, Amas menyatakan kegiatan diawali pembacaan 5 butir deklarasi bersama yang pada intinya menolak informasi hoax dan fitnah, mendukung kampanye dan Pemilu damai, mendukung pemimpin nasional yang memiliki program kerja yang terbukti untuk kepentingan masyarakat tanpa membedakan agama suku ras dan budaya, serta tetap kokoh mempertahankan Pancasila UUD 1945 kebinekaan dan NKRI.
Amas Tadjuddin juga menghimbau masyarakat Banten untuk mampu menahan diri dan tidak terprovokasi menuduh orang lain kafir munafik musyrik hanya karena beda pilihan politik. “Bangga orang banten dipercaya untuk Indonesia masa depan,” kata Amas Tadjuddin. (red)