
Bandar Lampung (SL)-Saresehan penanggulangan kebencanaan merupakan bagian dari kesiapan dini masyarakat menghadapi suatu bencana alam yang pasti seringkali datang tanpa dapat diprediksi sebelumnya. Untuk itu, dalam saresehan ini kiranya dapat menghasilkan rumusan penting pola dan sistem penanganan kebencanaan agar terlaksana secara baik dan dapat dipertanggungjawabkan secara administratif terutama berkaitan kepada para donatur melalui fundrising Lazisnu untuk NU Peduli Kemanusiaan

Hal itu disampaikan DR Amas Tadjuddin, sekretaris PWNU Provinsi Banten, disela acara saresehan Kebencanaan se Sumatera di PWNU Lampung yang digelar oleh PBNU di sebuah hotel di kawasan Jalan Jendral Ahmad Yani Bandar Lampung.
Hadir dalam kegiatan tersebut rois PWNU Lampung KH Mukhsin Abdillah, Ketua Prof Dr KH Muhamad Mukri MAg, dan Dr Syahrizal Syarif dari PBNU serta seluruh unsur pimpinan PWNU,PCNU, Lembaga dan Banom se Provinsi Lampung, juga turut serta hadir akademisi Unila Prof Dr H Karomani, dan tokoh Lakpesdam Titut Sudiono.
Amas Tadjuddin, hadir memenuhi undangan panitia selaku sekretaris PWNU Provinsi Banten itu mengatakan bahwa warga Provinsi Lampung dan Provinsi Banten memiliki kemiripan kultur sosial budaya dan bahasa serta amaliyah keagamaan ahli sunah wal jamaah atau disebut pengikut Nahdlatul Ulama.
Hal lainya menurut Amas Tadjuddin, Lampung dan Banten dipandang perlu untuk membuat rumusan teknis untuk dijadikan pedoman umum dalam hal menangani kebencanaan seperti Desember tahun lalu dilanda musibah tsunami selat sunda akibat gejolak anak gunung krakatau, sebelumnya NTB, donggala, Palu, dan Aceh.
“Korban jiwa berjatuhan, kerusakan pemukiman, ladang sawah, perkebunan, dan lahan pertanian serta nelayan sangat berdampak pada kehidupan kemanusiaan, untuk itu diperlukan sistem manajemen penanganan penanggulangan dan pemulihan bagi korban”, demikian Amas Tadjuddin.
Dampak tsunami Banten misalnya, ujar Amas, meliputi sepanjang pantai Cinangka Anyer Kabupaten Serang, kemudian Kecamatan Carita, Labuan, sampai ke Kecamatan Sumur di Kabupaten Pandeglang, “Artinya sangat memerlukan penanganan khusus melalui wadah NU Peduli Kemanusiaan yang berfungsi sebagai relawan untuk membantu para korban mulai dari tahapan masa bencana, sampai pada tahap pemulihan dan normalisasi kehidupan sosial seperti semula,” katanya.
Selain itu, Amas menjelaskan kegiatan sarseahn ini adalah bagian dari menyambut Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU pada akhir Februari 2019 mendatang, berbagai agenda kegiatan akan digelar oleh panitia. Salah satunya adalah Sarasehan Kebencanaan Regional Sumatera di Provinsi Lampung selama dua hari mulai 4-5 Februari 2019.
Kegiatan sarasehan ini akan diikuti oleh perwakilan pengurus wilayah NU se-Sumatera dan pengurus cabang NU se-Provinsi Lampung. Dan ada 100 peserta yang terdiri dari unsur pengurus wilayah dan cabang masing-masing dua orang dan unsur lembaga serta banom.
Dalam sarasehan ini, berbagai tema diangkat terkait dengan penanggulangan bencana baik yang telah dilakukan oleh NU maupun yang menjadi langkah antisipasi NU dalam menangani bencana. Ada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang mengangkat tema Kebijakan Penanggulangan Bencana untuk Ketangguhan Bangsa, Koordinator NU Peduli NTB dengan tema Pembelajaran NU Peduli Lombok dalam Penanganan Dampak Bencana di NTB, dan Koordinator NU Peduli Sulteng dengan tema Pembelajaran NU Peduli Sulteng dalam Penanganan Dampak Bencana di Sulawesi Tengah.
Ada juga Lembaga Penanggulangan Bencana Dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) dengan tema Peran dan Kontribusi NU dalam Penanganan Bencana dan Krisis Kemanusiaan, dan dari NU-Care LAZISNU dengan tema Sinergi Elemen NU dalam Penanganan Dampak Bencana dan Krisis Kemanusiaan. (Juniardi)