
Bandarlampung (SL)-Ribuan warga Pesisir Teluk Lampung yang takut dengan Tsunami, dan letusan Gunung Anak Krakatau, mengungsi kedataran lebih tinggi. Mereka yang paling dekat adalah warga Kota Karang, Gudang Lelang, Kangkung, Bumi Waras, hingga Sukaraja. Mayoritas mereka wanita, anak anak dan orang tua, membawa tikar usang, bantal, pakaian seadanya, Sejak 22 Desember 2018 malam.

Mayoritas mereka adalah istri dan anak anak nelayan, dan pekerja buruh harian. Aroma keringat merekapun khas, merebak ruangan lorong Gedung Balai Keraton. Jumat, 27 Desember 2018. Mobil Kesehatan Kodim Bandar Lampung, dan Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, yang selalu siaga di lokasi itu sejak 23 Desember 2018. Hanya wajah petugas berganti, karena tukar piket.
“Kita dokter siaga 24 jam, dengan bergilir piket. Setiap 12 jam, Saya jam 10 Pagi sampai jam 22.00, lalu bergantian. Kita sudah diintruksikan Bu Kadis, untuk siaga membantu melayani kesehatan masyarakat,” kata dokter Feri, dilokasi mobil ambulan, saat melayani masyarakat yang berobat.
Menurut Feri, mayoritas masyarakat pengungsi ini depresi, kelelahan. “Rata rata sakit biasa, kelelahan, mungkin juga stres,” katanya.
Azan Magrib, sayub berkumandang, dari Masjid seberang Komplek Gedung Kantor Pemda dan DPRD Provinsi Lampung. Tidak lagi terlihat hilir mudik pegawai. Tak ada lagi mobil terparkir dilantai dasar parkir kendaraan wakil rakyat, yang berubah menjadi came pengungsian. “Kenapa tidak di dalam gedung pak, dan kok tidak ada yang ke masjid, kan ada masjid besar di Koplek Kantor Pemrov Lampung,” tanya sinarlampung.com, kepada salah satu pria tua yang bersandar di teras gedung.

“Ditutup pak, ada pagar besi. Kita tidak lagi boleh didalem, karena takut kotor dan bau. Waktu hari pertama aja boleh. Pagikan banyak yang pulang, jadi banyak sampah, pampes dan bau. Jadi kami diteras dan lorong aja bolehnya,” kata pria baruh baya itu.
Meski jumlah mereka berangsur mengurang, teras teras Gedung Balai Keraton selalu ramai, semakin sore semakin padat. Mereka berdatangan dengan alasan keamanan, dan takut gelombang tsunami. Motor hilir mudik, karena untuk antar jemput kerabat mereka.
“Ya setiap sore kami kesini pak. Wong ora anak kepastian, pengumumane ngewedeni, kita mah milih merene. (habis tidak ada kepastian, informasi yang kami terima menakutkan, kami milih mengungsi disini, bahasa Jawa Cirebon,red),” kata Teh Sufi, warga ujung Bom, Gudang Lelang.

Selama disana, para pengungsi mendapatkan jatah makan dari dapur umum. “Biasanya sejak dua hari lalu, jam 18.00, kita sudah dapat nasi. Tapi hari ini belum, yang bawa mangkok yang dikasi, yang tidak bawa tidak dikasi. Itu juga cuma masakan mie. Ya kita tunggu saja, jika abis isya ga ada ya tidak dapat. Saya punya anak bati, minta pampers saja susah. Karena dijatah satu biji,” katanya memelas.
Sepekan berlalu setelah tsunami Selat Sunda, menerjang Banten dan Lampung Selatan, Sufi, dan keluarganya belum mendapat tempat pengungsian yang layak. Sufi, warga Gudang Lelang, Kecamatan Bumi Waras, dan banyak tetangganya harus tinggal diareal parkir Gedung DPRD Lampung, dengan alas tikar seadanya. Anak anak balita berlarian kesana kemari, sementara para orang tua berbincang bincang bicara soal nasib mereka.
Ia dan Bayinya, harus tidur beralas tikar plastik lusuh, hanya sekadar agar badannya tidak langsung menempel dengan semen kasar, dan menyelimuti bayinya, dengan sarung tipis. Sufi tidak sendiri, ada ratusan warga Gudang Lelang, yang harus tidur di areal parkir ala kadarnya. “Yah jika bicara nyaman, kami butuh tempat layak, susu anak,” kata Sufi, Jumat (28/12).
Ada anggota DPRD Lampung yang mendatangi pengungsi disini bu, “Tidak ada tuh pak. Tanggal 22, 23, Minggu, 24 Senin libur bersama, tanggal 25 Natal, 26, 27, 28, begini aja. Kami dah capek sebenarnya, stres pak, ” katanya.
Tsunami Selat Sunda, meluluhlantak kan wilayah peisir Banten dan Lampung Selatan. Tercatatn 400 lebih korbannya jika, 100 lebih di Kalianda, Malam 22 Desember lalu. Sejak itu, aktifitas Gunung Anak Krakatau terus meningkat. Informasi simpang siur. BMKG menyatakan GAK Siaga III ke siaga I, dan masyarakat diminta menjauhi bibir pantai.

Sepekan setelah Tsunami terjadi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengakui banyak pengungsi yang belum tersentuh. Padahal jumlah korban tersebut bertambah. “Jumlah korban gempa terus bertambah. Ribuan pengungsi, dan ratusan hilang,” kata Kepala Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis.
Banyak pejabat, simpatisan relawan terdengar menyalurkan bantuan. Mereka mendatangi Kalianda. Yang terdampak langsung. Tapi warga Bandar Lampung, dan Pesisir pesawaran yang mengungsi adalah juga korban, tapi mereka kurang mendapatkan sentuhan.
Mereka yang hari hari hidup tergantung dengan penghasilan harian, harus tidak bekerja. Pasar Gudang Lelang masih sepi aktifitas, nelayan para nelayan sepekan tidak satupun mereka melaut. “Belum ada yang melaut, mau ambil ikan di kramba saja masih takut. Karena ya takut, tiba tiba kejadian mu gimana,” kata Ridwan, nelayan wilayah Mutun, yang ikut mengungsi di Balai Kraton.
Hingga Sabtu 29 Desember 2018, pengungsi masih memadati pelataran Gedung Balai Kraton, dan lantai dasar arela Parkir Gedung DPRD Provinsi Lampung. Perbukitan, sepanjang jalur pantai kearah Piabung, juga terlihat tenda tenda pengungsian warga, yang mereka mengurus sendiri kondisi mereka.
Ismadiah, mahasiswa Komunikasi Unila, penanganan bencana korban perlunya langkah cepat, termasuk penanganan pengungsi, sudah ratusan warga yang menjadi korban serta banyak infrastruktur dan sarana publik yang rusak sehingga bantuan harus diupayakan secara maksimal.
Idealnya, level setingkat Provinsi Lampung, bisa menyediakan lokasi pengungsian yang lebih layak. Misalnya membuka gedung gedung aula yang berlapis ambal itu dan ruang ber-AC itu untuk dijadikan tempat pengungsi. “Tentu juga dengan dapat menggunakan sarana MCK yang ada disana. Sehingga bantuan kesehatan bisa berkeliling memeriksa kesehatan mereka, dan bantuan makanan, serta kebututan wanita, dan anak anak juga mudah di salurkan. Toh rumah itu juga rakyat,” katanya.
Lalu, petugas disiagakan untuk mengingatkan mereka tentang menjaga kebersihan, dan tidak membuang sampah sembarangan. Dinas dan aparat keamanan, bisa berkolaburasi, sehingga masyarakat merasakan dekat dengan pemerintahannya. “Dan itu belum ditemukan, para pengungsi itu dibiarkan liar, padahal mereka adalah bagian dari rakyatnya. Yang mereka datangi itu adalah sebenarnya tempat mereka,” ujarnya. (Juniardi)