
Bandarlampung (SL)-SEpasang remaja yang diduga terlibat Pengujar kebencian sadistis, yang vidionya mengunggah vdi medson dan menjadi viral dengan konten untuk tidak memberikan bantuan kepada korban tsunami, akibat erupsi gunung krakatau 22 Desember 2018 lalu, ternyata mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung, dan anak seorang pengacara di Bandar Lampung.

Dia adalah Calvin Yuda Tama, anak tertua dari tiga bersaudara, yang ternyata ayahnya seorang pengacara di Bamdarlampung, Darozy Chandra, yang membuka kantor di Jl. Cik Ditiro, Prrum Wisma Mas, Blok H-2 nomor 3, kelurahan Sumberrejo Sejahtera, Kecamatan Kemiling, Bandarlampung, tidak jauh dari tempat tinggalnya di kompek yang sama, Blok J.1 Nomor 8.
Pelaku yang dalam unggahannya menyatakan agar Kalianda Kena Tsunami dan Kalianda Rata Dengan Tanah. Pelaku juga menganjurkan agar tidak memberikan donasi terhadap para korban.
Pantauan sinarlampung.com, dikediaman pelaku, hingga pukul 16.30 WIB (Kamis, 27/12/2018), pelaku menghindar dari kehadiran polisi, dan kepungan ratusan massa yang saling berebut untuk menemukan si penggungah video berisi ujaran kebencian yang ucapannya sangat tidak pantas ini.
Ketua Rt 14 Lingkungan I, Heanto, lokasi tinggal pelaku, bahwa sejak pukul 11.00 WIB, warga datang secara bergelombang ke rumah pelaku yang mengunggah video dalam mobil bersama seorang wanita sambil bermesraan ini. “Massa berteriak harus bertemu dengan mereka, dan meminta agar pelaku keluar rumah. Namun pihak kepolisian berhasi menenangkan masaa dengan janji akan memproses secara hukum,” ujar Heanto
Heanto juga mengatakan jika orangtua pelaku masih berada di kapal penyeberangan, dari Jakarta. “Bapaknya sudah tau persoalan ini, dan sedang menuju pulang kesini,” katanya.
Kapolsekta Tanjungkarang Barat, Kompol Harpan R, pihaknya sudah berkoordinasi dengan orangtuanya. “Orangtuanya saat ini sedang dalam perjalanan dari Jakarta, dan menyatakan akan menyerahkan anaknya ke pihak kamim” kata Kapolsek di rumah pelaku.
Kapolsek yang kerap turun kemasyarakat setiap ada perkara diwilayah hukumnya ini mengatakan, setelah ditemukan maka pelaku akan diserahkan ke Mapolresta Bandarlampung. “Kami masih terus mencari pelaku, sambil berkoordinasi dengan keluarga dan orangtuanya untuk meyerahkan secara baik-baik,” kata Harpan, yang lama menjadi anggota serse di wilayah hukum Polresta Bandarlampung.
Sementara Dorazy chandra, yang dihubungi sinarlampung.com mengaku kaget dan heran atas ulah anaknya itu. “Saya juga heran kenapa anak saya melakukan hal ini. Saya ini sekarang ada di Merak untuk pulang ke Lampung. karena dapat kabar masalah ini. Saya berjanji akan menemukan anak saya dan mengantarnya kepihak kepisian,” katanya.
Darozy juga menyatakan permohonan maaf kepada semua pihak dan segenap lapisan masyarakat atas apa yang telah dilakukan anaknya. “Saya ini donatur tsunami di banten, dan istri saya juga donatur tsunami di Lampug selatan. Makanya saya heran kenapa anak saya melakukan ini,” ujarnya. (Gunawan)