
Lampung Selatan (SL) – Gunung Anak Krakatau (GAK) tengah menjadi pusat perhatian dunia. Setelah menyebabkan tsunami ‘senyap’ di Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12/2018) malam, gunung berapi paling aktif di dunia ini kembali menunjukkan fenomena baru. Sejak Minggu (23/12/2018) malam, aktivitas erupsi di GAK disertai sambaran petir dan semakin intens pada Selasa (25/12/2018).
Terhitung sekitar 35 sambaran petir dalam satu menit. Lontaran debu vulkanik dari erupsi GAK juga terlihat dari Desa Rajabasa, Lampung Selatan. Sesekali suara dentuman letusan terdengar. Umar, salah satu warga Pulau Sebesi mengatakan, fenomena petir di GAK memang tak lazim.
Sejak erupsi beberapa bulan lalu, warga tidak pernah melihat yang seperti ini. “Tidak pernah ada petir saat erupsi seperti sekarang ini. Kami juga merasakan suara dentuman yang beda, tidak seperti biasanya. Makanya warga segera mengungsi,” jelas Umar.
Kasi Bidang Informasi dan Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Lampung, Rudi Haryanto, mengatakan fenomena alam tersebut merupakan hal biasa. “Memang di sekitar GAK banyak awan rendah, ditambah abu vulkanik yang dikeluarkan dan hujan di sekitar sana. Akhirnya timbul petir,” jelasnya. Rudi menuturkan, fenomena petir tersebut tidak memiliki dampak apapun. Hanya hujan lebat dan angin kencang di sekitar GAK. (rilis.id)