
Bandarlampung (SL)-Perstiwa Tsunami yang sempat disebut ombak besar, lalu di akui Tsunami oleh BMKG, ternyata tsunami. Gulungan ombat itu merusak pemukiman wilayah pesisir Pantai Selat Sunda Banten dan Kalianda, serta Teluk Bandarlampung, Tanggamus hingga Bengkulu.
“Saya sedang berada di tepi pantai, karena rumah kami diatas air. Tiba tiba laut surut, batu karang ditengan terlihat. Dan tiba tiba gulungan ombak dengan suara gemuruh berbalik. Air setingga sekitar 2 meter, gulung gulung datang. Kami semua berlarian kegunung (dataran lebih tinggi,red),” kata Mulyadi, Nelayan Mutun.

Mulyadi dan keluarganya kemudian berkumpul di atas bukit, bersama warga lainnya hingga MInggu pagi, lalu menyusul keluarganya di Gudang Lelang, yang sudah mengungsi di Masjid Al Furqon. “Warga kocar kacir, ada bawa anak bayi, wanita hamil. Mana jalan ke gunung tebing dan licin. Ibu hami bawa bayi ada yang berkali kali terperosok, karena jalan licin, dan semua panik,” katanya.
Minggu Pagi sebagian sempat pulang ke rumah. Tapi siang, santer akan ada tsunami susulan, warga kembali berlarian. Hingga kini bermalan dan membuat tenda di gunung. “Tidak adaa petugas mas. Saat pertama kejadian orang berlarian, petugas juga malah lebih dulu hilang,” kata warga lainnya.
Kafi, warga Kota Karang, yang juga mengungis membawa aanak dan istrinya, ke lapangan Gubernuran, juga heran. Hilir mudik manusia dari teluk ke Pemprov Lampung, tapi tidak ada satupun petugas. “Heran juga, kitakan lalulalang lewat Polda. Tapi kok tidak ada polisi yang jaga, atau memberi kabar tentang situasi ini. Apa ada halo halo peringatan. Cuma warga aja rame bawa kasur,, galon, ada yang cuam pake sarung dan daleman aja. Pokoknya kacaau mas,” kata Sopir ojek Online ini.
Penyusuran Sinarlampung, kepanikan dan hiruk pikuk warga yang ketakutann dan berhamburan keluar rumah dan mengungu ke lokasi yang lebih tinggi terjadi di seluruh wilayah Pesisir padat penduduk, mulai Panjang, Telukbetung, Kota Karang, hingga pesisir Mutun. “Mana sempat lagi mas ngitutin jalur evakuasi, pokoknya lari. Selamatkan nyawa dulu,” kata Warid, yang membawa anak dan istrinya, dan meninggalkan warung klontongan yang masih terbuka.
Warga Panjang berlarian kearah bukit wilayah Panjang Utara. Sementara hingga Senin Pagi, warga masih mengungsi di Masjid Al Furqon, Lapangan Korpri Kantor Pemda Provinsi Lampung, dan Rumah Dinas Gubernur di Jalan Dr Susilo, Bandar Lampung. Mereka terdiri dari wanita, anak anak dan orang tua. Sebagian warga juga mengungsi di kediaman kerabat mereka di seluruh Kecamatan di Bandarlampung.
Kepanikan warga mirip peristiwa beberapa tahun lalu, pasca Tsunami Aceh, pasal air pasang warga berhampuran, membawa barang barang dan meninggalkan rumah mereka. Ironisnya kelangan rumah warga dimanfaatkan para pencuri untuk beraksi. Banyak rumah warga yang lehilangan Tv, dan barang barang rumah tangga lainnya. Dilaporkan dua unit motor hilang di pemukiman Gudang Lelang.
Minggu Siang, 23 Desember 2018 Pukul 17.00

Warga pesisir pantai Kota Bandarlampung kembali berbondong-bondong berdatangan untuk mengungsi ke kantor Gubernur Lampung. Warga yang terdiri dari anak-anak maupun dewasa tersebut terus berdatangan ke kantor gubernur untuk mengungsi sampai berdesak-desakan. Warga Bandarlampung khawatir akan ada tsunami susulan.
Semula Minggu (23/12/2018) pagi, warga dihimbau pulang ke rumahnya. Sebagian sudah pulang. Tapi Minggu sore sekitar 2500 warga yang tinggal di wilayah pesisir Telukbetung, kembali menyerbu kantor Gubernur Lampung di Telukbetung.
Karena banyaknya warga yang mengungsi, mereka berdesak-desakan dan terlihat panik. Sehingga suasana menjadi gaduh terdengar jeritan tangis anak-anak. Selain itu, kegaduhan warga disebabkan, banyak orang yang terlepas dari anggota keluarganya sehingga makin rame.
Selain mengungsi di kantor Gubernur, warga pesisir Telukbetung juga mengungsi di Masjid Agung Al Furqon. Seribuan masyarakat dikumpulkan di Aula lantai dasar masjid.
Sebelumnya, Sekretaris Daerah Lampung, Hamartoni Ahadis meminta masyarakat tetap waspada. Selain itu, masyarakat juga diminta jangan mudah percaya informasi yang belum pasti kebenarannya. βJangan mudah terpercaya bila ada yang mengatakan tsunami akan terjadi. Tetapi harus tetap waspada dan berhati-hati bila terjadi gelombang tinggi susulan,β jelas Hamartoni.Β (Juniardi)