
RAJA AMPAT, sinarlampung.co – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kofiau, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, kian meluas dan sulit dikendalikan hingga Rabu (7/10/2026). Kobaran api yang membakar kawasan sekitar Kampung Mikiran dilaporkan memusnahkan kebun dan tanaman warga yang menjadi sumber ketahanan pangan lokal.
Upaya pemadaman oleh warga secara manual menemui jalan buntu akibat kendala medan serta ketiadaan sumber air di sekitar lokasi kebakaran.
“Tidak ada sumber air yang dekat dengan lokasi kebakaran sehingga masyarakat kewalahan memadamkan api,” ungkap Victor Ambafen, warga Kofiau, melalui pesan WhatsApp, Rabu (7/10/2026).
Ancam Kesehatan dan Desak Kepala Daerah Respon Cepat
Selain kerugian materiil, kabut asap tebal kini menyelimuti permukiman warga dan memicu penurunan kualitas udara yang berisiko bagi kesehatan kelompok rentan, seperti balita dan lansia. Warga pun meminta pemerintah daerah mempertimbangkan opsi meliburkan aktivitas sekolah hingga situasi membaik.
Atas kondisi darurat tersebut, warga mendesak Pemerintah Kabupaten Raja Ampat bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) segera menerjunkan tim dan logistik pemadaman ke lokasi.
“Kami berharap Pemda dan BPBD segera meninjau lokasi kebakaran dan mengambil langkah konkret. Kepala daerah diharapkan menunda dulu perjalanan dinas dan fokus menangani masalah kebakaran di Raja Ampat secara keseluruhan,” tegas Victor. (Red)