
Bandar Lampung, sinarlampung.co – Pemilihan Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027-2031 menjadi momentum bagi Prof. Dr. Hamzah, SH, MH untuk menawarkan gagasan penguatan integritas, transparansi dan soliditas internal kampus.
Guru Besar Ilmu Hukum Perdata Fakultas Hukum Unila sekaligus Ketua Satuan Pengawas Internal (SPI) Unila itu menilai tata kelola yang terbuka harus menjadi fondasi dalam setiap kebijakan dan pengelolaan universitas.
Menurut Hamzah, setidaknya ada tiga hal yang perlu diperkuat, yakni transparansi keuangan, transparansi pembangunan serta transparansi arah pengelolaan universitas, terutama dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Ia menilai kampus tidak cukup hanya mengejar pembangunan fisik maupun prestasi akademik. Kepercayaan juga harus menjadi bagian penting dalam membangun Unila.
“Good university governance bukan sekadar istilah yang terpampang dalam dokumen perencanaan. Ia harus hadir dalam keseharian kampus,” kata Hamzah.
Hamzah juga menyinggung pentingnya keteladanan dalam kepemimpinan dengan mengingat kembali sosok Prof. Dr. Ir. Sitanala Arsyad, rektor pertama Unila periode 1973-1981.
Ia mengisahkan Sitanala Arsyad sebagai sosok yang menempatkan jabatan sebagai amanah. Salah satu cerita yang dikenangnya adalah ketika Sitanala disebut menolak tawaran rumah dan mobil dinas untuk kepentingan pribadi.
Hamzah juga menceritakan kebiasaan Sitanala yang disebut berkeliling kampus setelah salat Subuh. Ketika menemukan pohon tumbang atau fasilitas yang rusak, persoalan tersebut segera dikoordinasikan agar ditangani.
“Sekelumit kisah sederhana itu dapat menjadi pedoman untuk berbuat lebih baik dan lebih besar lagi sebagai civitas kampus,” kata Hamzah.
Selain integritas, Hamzah menilai Unila memiliki modal sumber daya manusia yang besar untuk memperkuat kampus. Ia menyebut terdapat sekitar 1.309 dosen aktif, dengan sekitar 171 di antaranya merupakan guru besar atau profesor yang tersebar di delapan fakultas.
Menurutnya, kekuatan tersebut tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi antarfakultas perlu diperkuat agar potensi akademik dan penelitian Unila dapat memberikan dampak lebih luas.
Hamzah juga mendorong agar hasil penelitian dan inovasi kampus semakin terhubung dengan kebutuhan masyarakat, pemerintah, dunia usaha dan dunia industri.
Ia mencontohkan Fakultas Pertanian yang memiliki posisi strategis dalam mendukung agenda swasembada pangan dan hilirisasi sektor pertanian serta perkebunan.
Menurut Hamzah, hasil penelitian tidak seharusnya berhenti di ruang kelas atau laboratorium. Ilmu pengetahuan perlu diterapkan untuk menjawab persoalan petani dan masyarakat.
Ia mengingat kembali gagasan Prof. Dr. Muhajir Utomo melalui konsep Tanpa Olah Tanah (TOT) yang dinilainya menjadi salah satu contoh bagaimana inovasi akademik dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan di lapangan.
Konsep tersebut, kata Hamzah, dapat dikembangkan melalui kolaborasi lintas fakultas. Fakultas Ekonomi dan Bisnis dapat mengambil peran dalam aspek bisnis, pemasaran dan pembiayaan, sementara Fakultas Hukum dapat memberikan perspektif regulasi.
Begitu pula Fakultas Teknik yang memiliki ruang untuk mengembangkan teknologi pendukung sektor pertanian, seperti drone untuk pemupukan, mesin pengering skala pedesaan dan teknologi pengolahan hasil pertanian.
“Ubi societas ibi ius,” kata Hamzah, mengutip adagium hukum yang berarti di mana ada masyarakat, di situ ada hukum.
Ia mencontohkan persoalan kebijakan yang berkaitan dengan larangan gabah keluar daerah. Menurutnya, persoalan semacam itu tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga menyangkut petani, pedagang, penggilingan, pemerintah dan kepentingan masyarakat.
Karena itu, perguruan tinggi dinilai perlu memberikan kajian yang dapat membantu pemerintah mengambil kebijakan sekaligus mencegah munculnya persoalan di tengah masyarakat.
Hamzah menyebut konsep tersebut sebagai bagian dari link and match. Menurutnya, pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat harus terus diselaraskan dengan kebutuhan zaman.
Pemerintah membutuhkan hasil riset yang dapat membantu menyelesaikan persoalan pembangunan. Dunia usaha dan industri membutuhkan lulusan dengan kompetensi yang sesuai. Sementara masyarakat membutuhkan ilmu pengetahuan yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.
Karena itu, Hamzah menilai penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi harus berjalan beriringan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan nasional.
Ia juga menekankan pentingnya kebersamaan seluruh unsur di lingkungan Unila. Menurutnya, kampus tidak hanya menjadi ruang bagi rektor, profesor, dosen atau mahasiswa, tetapi merupakan rumah bersama yang harus dibangun melalui kolaborasi.
Dalam momentum Pilrek Unila 2026, Hamzah menyatakan siap memberikan pemikiran, tenaga dan pengabdiannya untuk ikut memperkuat tata kelola, integritas serta keterhubungan Unila dengan kebutuhan masyarakat Lampung.
Ia berharap kepemimpinan ke depan dapat meninggalkan jejak yang tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik, tetapi juga dari meningkatnya kepercayaan, soliditas dan manfaat Unila bagi masyarakat. (*)