
Bandarlampung, sinarlampung.co – Rencana kegiatan Kunjungan Industri (KI) siswa SMKN 7 Bandar Lampung melintasi tiga provinsi (DKI Jakarta, Jawa Barat, dan DI Yogyakarta) menuai sorotan sejumlah orang tua wali murid. Patokan biaya sebesar Rp2,55 juta per siswa untuk paket perjalanan lima hari tersebut dinilai terlalu mahal dan dipertanyakan rasionalitas perhitungannya.
Kejati Lampung Selidiki Dugaan Pungli PPDB dan Sengkarut Dana BOS Rp4,4 Miliar di SMKN 1 TBT
Keluhan wali murid mencuat setelah membandingkan penawaran dari biro perjalanan (travel) lain untuk rute dan durasi serupa, yang tercatat ada di kisaran Rp1,25 juta per peserta.
Dengan estimasi sasaran peserta mencakup 16 kelas (rata-rata 36 siswa per kelas) atau berkisar 500 hingga 576 siswa, total dana yang berpotensi terhimpun dari kegiatan ini diperkirakan menembus Rp1,275 miliar hingga Rp1,468 miliar.
“Kami mempertanyakan dasar perhitungan angka Rp2,55 juta itu dan rincian fasilitas apa saja yang akan diterima anak-anak selama lima hari perjalanan,” ujar salah satu wali murid.
Menanggapi gejolak tersebut, Kepala SMKN 7 Bandar Lampung, Kemis, memberikan klarifikasi. Menurutnya, perbedaan harga antar-biro perjalanan kemungkinan besar disebabkan oleh perbedaan standar komponen pelayanan, seperti klasifikasi hotel, spesifikasi bus armada, kualitas konsumsi, serta agenda kunjungan industri di lokasi tujuan.
Kemis menegaskan bahwa kegiatan Kunjungan Industri ini sifatnya sukarela atau tidak diwajibkan bagi seluruh siswa.
“Siswa yang berminat dan mampu dipersilakan mengikuti kegiatan ke lokasi industri yang telah ditentukan. Sedangkan bagi siswa yang tidak mampu atau memilih tidak ikut, tetap diberikan opsi untuk melaksanakan penugasan pendidikan industri di lingkungan sekolah atau sekitar,” ujar Kemis saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (21/9/2026).
Ia menambahkan, rancangan biaya tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama antara Komite Sekolah dan pihak penyedia jasa biro perjalanan, Puma Travel.
“Dari hasil pertemuan dengan wali murid, sebagian besar menyatakan setuju meskipun ada yang keberatan. Yang keberatan pun tidak apa-apa karena memang tidak wajib. Meskipun nantinya peserta yang ikut hanya separuh atau kurang, besaran tarif yang sudah disepakati antara komite dan travel tidak akan berubah,” tegas Kemis.
Sementara itu, pengelola Puma Travel berinisial Didi, saat dikonfirmasi mengenai rincian komponen biaya perjalanan dan standar fasilitas senilai Rp2,55 juta tersebut melalui pesan singkat WhatsApp, belum memberikan respons atau tanggapan resmi hingga berita ini diturunkan. (Red)